alfian mujani 240SEORANG tukang tambal ban da­tang ke sebuah rumah mewah yang sedang mer­ayakan Idul Fitri. Tukang tambal ban itu hanya mengenakan baju khas tukang tam­bal. Si tuan rumah langsung menyodorkan uang seribu rupiah dan menyuruh tukang tambal itu cepat-cepat pergi. Padahal kedatan­gan tukang tambal ban itu untuk mengemba­likan dompet yang ditemukannya. Isinya KTP, SIM, STNK, kartu kredit, dan sejumlah uang mi­lik sang tuan rumah.

Kita sering kali congkak dan memandang remeh orang yang datang ke rumah kita hanya karena pakaiannya yang jelek. Padahal, tak semua yang datang ke rumah kita butuh ban­tuan. Bisa saja mereka datang untuk memberi sesuatu yang sangat berharga.Tetaplah positif memandang siapapun dan apapun yang ditak­dirkan hadir di hadapan kita.

Jangan memandang sinis orang yang se­cara sosial ekonomi berada di bawah kita. Bisa jadi mereka berjiwa lebih mulia dibandingkan kita. Tidak semua orang miskin berjiwa pem­inta-minta. Begitu juga tak semua orang kaya berjiwa dermawan. Ustadz Ahmad Imam Ma­wardi berkata: “Kalau kita kaya, jadilah orang kaya yang dermawan. Kalau kita miskin, jadilah orang miskin yang berhati mulia, jauh dari men­tal pengemis.