Untitled-5OKTOBER 2014 menjadi masa-masa yang tidak menyenangkan bagi para penikmat Bundesliga. Aksi mogok kereta api dan serangan aksi para hooligan mencoreng wajah sepakbo­la Jerman

Oleh : ADILLA PRASETYO WIBOWO
[email protected]

Aksi mogok masinis kereta di beberapa negara bagian membuat beberapa kelompok pendukung kesulitan menyak­sikan tim kesayangan mereka bertand­ing. Aksi-aksi yang dilancarkan kelompok bernama Hooligan Gegen Salafisten (Hooli­gans menentang Salafiyah) menimbulkan rasa tidak nyaman dan mencoreng wajah sepakbola Jerman.

Pada Februari, bahagia mulai terasa. Pada hari Valentine 2015, enam pertandingan menyuguhkan 27 gol yang memanjakan semua penikmat Bundesli­ga di seluruh dunia. Kecuali pihak yang kalah, semua merasa senang.

 Dan cerita-cerita dari Bundesliga musim 2014/15 tentu saja bukan hanya mogok ma­sinis, aksi kelompok sayap kanan, dan hujan gol di hari kasih sayang. Bundesliga penuh duka, Bundesliga penuh suka.

Kekalahan Bayern Munich dari FC Porto di leg pertama babak 8 besar Liga Champi­ons menjadi puncak kekesalan Hans-Wilhelm Muller-Wohlfahrt. Bersama putranya, Killian, Peter Ueblacker, dan Lutz Hansel, Muller- Wohlfahrt meninggalkan Bayern karena terus menerus disalahkan atas badai cedera yang menimpa para pemain utama.

Salah satu sosok yang paling lantang me­nyuarakan rasa tidak puas terhadap hasil kerja dokter tim tersebut adalah sang pelatih kepala, Josep Guardiola. Padahal Pep juga selayaknya menerima kritik untuk hasil ker­janya musim ini. Sebagai pelatih, pencapai­annya lebih buruk dari musim lalu.

Di musim pertamanya sebagai pelatih ke­pala Bayern, Pep membawa kesebelasannya juara dengan raihan keseluruhan 90 angka. Itu artinya, Bayern berhasil meraih 2,65 poin per pertandingan. Produktivitas Bayern juga terhitung sangat baik: mereka mencetak 94 gol dalam 34 pertandingan.

Musim 2014/15, catatan-catatan terse­but menurun. Bayern juara dengan 79 poin saja. Hanya 2,32 gol per pertandingan. Mer­eka juga hanya mencetak 80 gol ke gawang lawan. Catatan tersebut terlihat lebih buruk mengingat Bayern tidak berhasil menyand­ingkan gelar juara Bundesliga dengan DFB-Pokal seperti musim lalu. Pantas jika kemu­dian Pep merasa kesal terhadap hasil kerja Muller-Wohlfahrt.

Musim lalu Pep bermain dengan empat pemain belakang. Musim ini ia mengubah taktik dengan memainkan tiga bek tengah. Sialnya, Javi Martinez sebagai aktor kunci dari transisi dan penerapan taktik baru ini menderita cedera panjang. Tanpa Martinez, Pep kesulitan memainkan cara termudah untuk perlahan membiasakan para pemain Bayern dengan taktik barunya.

Dengan Martinez sebagai bek tengah keti­ga, Pep dapat memainkan skema empat dan tiga pemain belakang dalam satu pertandin­gan yang sama. Jika ingin bermain dengan empat pemain belakang setelah memulai pertandingan dengan tiga pemain di lini per­tahanan, ia cukup mendorong Martinez ke posisi gelandang bertahan dan menarik mun­dur David Alaba serta Philipp Lahm. Begitu sebaliknya.

Xabi Alonso yang diplot sebagai peng­ganti Martinez tidak berhasil memain­kan perannya dengan baik. Sialnya lagi, Lahm dan Alaba juga sempat lama dibekap cedera.

Ditambah lagi para pemain kunci lain juga menderita cedera. Franck Ribery, Arjen Robben, Bastian Schweinsteiger, Rafinha, dan Thiago Alcantara bergantian menepi. Pilihan pemain Pep terbatas sehingga terba­tas pula prestasi yang mampu ia persembah­kan.

Borussia Dortmund musim 2014/15 hadir sebagai pengingat bahwa roda kehidupan se­lalu berputar. Satu-satunya kesebelasan yang mampu menggoyang dominasi Bayern Mu­nich dalam beberapa tahun terakhir ini men­jalani musim yang sangat buruk.

Mereka sempat merasakan seperti apa rasanya dasar klasemen dan menghabiskan Winterpause di zona degradasi. Tiket lolos Liga Champions, kejuaraan yang finalnya mereka rasakan pada 2013 lalu, lepas dari genggaman. Ambil bagian di Europa League juga Dortmund belum tentu. Membuka jalan kemudahan untuk Schalke 04, kesebelasan saingan, melengkapi serangkaian kesialan Dortmund sepanjang musim.

Para pemain yang terpilih membela negara mereka masing-masing di Piala Dunia 2014, terutama para pemain tim nasional Jer­man (karena mereka, sebagai finalis, tetap harus berada di Brasil hingga kejuaraan se­lesai) mendapat izin khusus untuk terlambat bergabung di pemusatan latihan pramusim. Beberapa pemain kunci yang menderita cedera seperti Marco Reus, Mats Hummels, dan Ilkay Gundogan juga tidak ikut berlatih bersama para pemain Dortmund lain untuk mempersiapkan diri sebagai sebuah kes­atuan. Hasilnya, Dortmund tidak siap me­nyambut Bundesliga 2014/15 sebagai sebuah kesebelasan.

Michael Zorc, Direktur Olah Raga Dort­mund, berpendapat bahwa badai cedera bukan alasan keterpurukan Dortmund. Kes­alahan-kesalahan mendasar yang dilakukan para pemain kunci, katanya, adalah alasan dari serangkaian hasil buruk yang menim­pa kesebelasannya. Sementara itu Ottmar Hitzfeld, eks pelatih kepala Dortmund, lebih percaya bahwa alasan keterpurukan Dort­mund adalah krisis kepercayaan diri yang muncul dari serangkaian hasil buruk di awal musim.

Apapun alasannya, Dortmund benar-benar kacau. Pasukan Juergen Klopp men­gakhiri Hinrunde di peringkat kedua ter­bawah. Satu-satunya alasan Dortmund berada di atas SC Freiburg adalah karena produktivitas gol mereka satu bola lebih baik. Dortmund dan Freiburg sama-sama meraih 15 angka dari 17 pertandingan dan selisih gol keduanya sama-sama delapan. Bedanya, Dortmund mencetak 18 gol semen­tara Freiburg satu gol lebih sedikit. Pemusa­tan latihan musim dingin tidak memperbaiki situasi.

Memang, Dortmund perlahan tapi pasti meninggalkan zona degradasi. Namun se­rangkaian hasil buruk masih sering meng­hampiri. Para pendukung mulai kehilangan kesabaran dan Klopp sempat mengalami kri­sis kepercayaan diri.

“Jika semuanya terjadi hanya berdasar­kan nasib baik, dan jika pergantian pelatih menjamin kembalinya nasib baik, maka saya akan membuka jalan,” ujar Klopp di bulan Desember Klopp bertahan, namun ia tetap tak berhasil membawa Dortmund kembali ke habitatnya.

Dortmund gagal ambil bagian di Liga Champions musim depan karena hanya mampu mengakhiri musim di peringkat ketujuh, di luar zona Europa League yang ditempati FC Augsburg (lolos otomatis ke fase grup) dan Schalke (via babak kualifikasi). Dortmund, walau demikian, tetap memiliki peluang lolos langsung ke fase grup Europa League. Syaratnya, mereka harus memenan­gi pertandingan final DFB-Pokal melawan VfL Wolfsburg. Sialnya, Dortmund kalah se­hingga tiket lolos langsung ke fase grup Euro­pa League menjadi milik Schalke. Dortmund harus melewati babak kualifikasi. Dan ini bu­kan akhir dari rangkaian kesialan Dortmund.

Hingga bursa transfer musim panas ini resmi ditutup, ancaman eksodus pemain ma­sih menghantui Dortmund. Keputusan Klopp untuk meninggalkan Dortmund membuat kemungkinan eksodus pemain semakin be­sar. Gundogan sudah menolak perpanjangan kontrak. Reus dan Hummels terus mendapat godaan pindah. Para pemain tersebut dibe­sarkan namanya oleh Klopp, sehingga bukan tidak mungkin mereka lebih setia kepada sang pelatih kepala ketimbang kepada kes­ebelasan.

Selain ketiga pemain tersebut, nama-na­ma lain yang diorbitkan Klopp adalah Neven Subotic, Marcel Schmelzer, Sven Bender, Kevin Grosskreutz, Mitchell Langerak, Shinji Kagawa, Henrikh Mkhitaryan, Pierre-Emer­ick Aubameyang, Erik Durm, Milos Jojic, Kev­in Kampl, Ciro Immobile, Marian Sarr, Jer­emy Dudziak, Lukasz Piszczek, Oliver Kirch, Matthias Ginter, Adrian Ramos, Sokratis, dan Zlatan Alomerovic.

Terpilihnya Thomas Tuchel sebagai peng­ganti tidak menghadirkan ketenangan. Masa depan yang cerah bersama Tuchel tampak­nya tidak akan berjalan sesuai prediksi. Seb­agai indikasi: belum lama ini, Dortmund ka­lah dari Schalke dalam perburuan Johannes Geis.

Mengingat Tuchel yang membawa Geis dari divisi kedua Bundesliga, keputusan sang pemain untuk lebih mempercayai Schalke bersama pelatih baru mereka ketimbang Dortmund dan bekas pelatih kepalanya send­iri tidak bisa tidak dipandang sebagai indikasi kekacauan di tubuh Dortmund. Seolah, tidak ada masa depan yang cerah di sana.

Tewasnya Junior Malanda dalam sebuah kecelakaan mobil di masa jeda musim dingin mendorong VfL Wolfsburg secara umum dan Kevin de Bruyne secara khusus ke tempat yang lebih tinggi dan lebih terhormat. Keper­gian Malanda di usia yang masih sangat muda membuat semua pemain Wolfsburg merasa kehilangan. De Bruyne menjadi pemain yang paling merasa kehilangan.

Namun, alih-alih membiarkan kesedihan menyelimuti dirinya, De Bruyne menjadi­kan kepergian Malanda sebagai alasan untuk menjadi pemain yang lebih baik. Sepanjang putaran pertama Bundesliga, De Bruyne han­ya mencetak tiga gol.

Sepeninggal Malanda, ia mencetak tujuh gol di Bundesliga saja. Dan ia tidak menung­gu lama untuk membuktikannya. Pada per­tandingan pertama sepeninggal Malanda, melawan Bayern di kandang, De Bruyne menggila. Ia mencetak dua gol dan satu assist untuk membawa kesebelasannya menang 4-1 atas Bayern.

Ia menunjuk surga dalam setiap keberhas­ilan, berbagi kebahagiaan bersama Malanda. Secara keseluruhan, De Bruyne mencetak 16 gol dan 28 assist dalam 51 penampilan di Bundesliga, Europa League, dan DFB-Pokal.

Sulit untuk tidak melihat De Bruyne se­bagai pemain penting dalam keberhasilan Wolfsburg mengakhiri Bundesliga di per­ingkat kedua dan menjadi juara DFB-Pokal untuk kali pertama. Namun tentu saja salah jika De Bruyne disebut satu-satunya pemain kunci Wolfsburg musim ini. Ia mungkin yang paling penting, namun para pemain lain juga tidak bisa dilupakan begitu saja.

Vieirinha, Naldo, Ricardo Rodriguez, terpilih bersama De Bruyne sebagai wakil Wolfsburg dalam Bundesliga Team of the Season. Di luar pengakuan resmi dari para penggemar Bundesliga ini, Bas Dost sebagai pencetak gol terbanyak Wolfsburg juga pan­tas mendapat pujian tersendiri. Para pemain ini bersinar sebagai buah kesetiaan Wolfs­burg kepada Dieter Hecking, pelatih kepala yang sudah menangani mereka sejak 2012.

Sementara Bayern Munchen begitu berkuasa sehingga perlombaan di papan atas hanya melibatkan VfL Wolfsburg, Borussia Monchengladbach, dan Bayer Leverkusen, sikut menyikut di papan bawah berlangsung hingga detik terakhir. Hingga semua kesebe­lasan sudah memainkan semua pertandin­gan yang wajib mereka jalani, belum ada yang dapat divonis turun divisi.

Saat Bundesliga masih tersisa dua pekan, enam kesebelasan (dari bawah ke atas: VfB Stuttgart, SC Paderborn, Hannover 96, SC Freiburg, Hamburger SV, dan Hertha Berlin) masih mungkin menjadi penghuni tiga per­ingkat terbawah di akhir musim. Dua pekan pertukaran posisi, pada akhirnya, menem­patkan Paderborn dan Freiburg di posisi otomatis degradasi. Peringkat ke-16 ditem­pati Hamburg, satu-satunya kesebelasan yang selalu ambil bagian di setiap musim Bundesliga. Dua musim berturut-turut Ham­burg terancam kehilangan status istimewa mereka.

Musim lalu Hamburg berhasil meng­hindari degradasi setelah bermain imbang 0-0 dan 1-1 melawan penghuni peringkat keti­ga di divisi kedua Bundesliga, SpVgg Greuter Furth. Keunggulan gol tandang memastikan keikutsertaan Hamburg di divisi pertama Bundesliga 2014/15, hanya untuk kemudian kembali harus menjalani pertandingan play-off di akhir musim. Karlsruher SC menjadi lawan Hamburg musim ini.

Bertindak sebagai tuan rumah di leg per­tama dan hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan tamunya membuat Hamburg berada dalam situasi yang tidak menguntungkan. Lebih tidak menguntungkan lagi karena di leg kedua, tugas Hamburg menjadi lebih berat setelah Reinhold Yabo membawa Karl­sruher mengantungi keunggulan agregat 2-1. Satu menit memasuki masa injury time, Mar­celo Diaz mencetak gol dan membuat agre­gat kembali sama kuat. Di babak tambahan, tepatnya pada menit ke-115, Nicolai Muller mencetak gol yang kembali mengamankan keikutsertaan Hamburg di divisi tertinggi Bundesliga.