img00135-20110531-2114Industri pariwisata terus berkembang. Para pelaku industri ini pun makin kreatif menciptakan objek atau destinasi wisata baru untuk menarik kunjungan para pelancong. Bukan saja menggairahkan bisnis pariwisata, maraknya wisatawan ini juga membuka peluang membuka pusat oleh-oleh.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Yakin akan bisnis oleh-oleh yang menjanjikan, Wieke Ang­garini, pemilik Tahu Petis Yudhistira, membuka gerai pusat oleh-oleh bertajuk Tahu Petis Yudhistira di Semarang, 12 Juni 2015 lalu.

Perempuan 36 tahun ini melihat potensi bisnis ini bagus lantaran membawa buah tangan su­dah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke kota atau daerah tertentu.

“Selain itu, peningkatan daya beli, besarnya kun­jungan wisata maupun bisnis ke Kota Semarang, juga mendorong saya untuk terjun ke bisnis ini,” jelas dia.

Pembukaan gerai ini juga menjadi momen yang tepat untuk memperkenalkan brand Tahu Petis Yud­histira di Ibukota Jawa Tengah ini.

Sebelumnya, Bandeng Juwana juga membuka ca­bang ketiganya di Jalan Pamularsih, Semarang pada Oktober 2013 silam.

Daniel Nugroho Setiabudi, pemilik Bandeng Ju­wana, mengatakan, alasan membuka cabang barunya untuk memudahkan kunjungan konsumen, terutama saat parkir.

Maklum, parkir mobil pengunjung di salah satu cabangnya yang terletak di Jalan Pandanaran, kerap menimbulkan kemacetan.

Pusat oleh-oleh menjadi buruan wisatawan karena ragam produk yang lebih lengkap, semacam one stop shopping oleh-oleh.

Tak hanya makanan khas, di gerai ini seringkali juga terlihat suvenir khas dari daerah tersebut.

Meski tetap mengedepankan brand sendiri, Wieke membangun pusat oleh-olehnya lengkap dengan inte­rior yang nyaman.

Jadi, sembari berbelanja oleh-oleh, pengunjung pun bisa sejenak beristirahat dan menikmati sajian Tahu Petis Yudhistira.

Beragam produk makanan khas Semarang juga tersedia

di gerai yang didapuk Pemkot Semarang untuk me­nampung produk binaan Disperindag Semarang ini.

Lantaran belum genap sebulan berdiri, Wieke be­lum bisa mengungkapkan omzet tokonya. Tapi, dia optimis, pada tahap awal ini bisa membukukan pen­jualan hingga Rp 5 juta saban hari.

Sementara, produk andalan dari pusat oleh-oleh Bandeng Juwana, sesuai namanya ialah bandeng duri lunak. Produk itu punya sekitar 59 varian, antara lain bandeng asap, bandeng teriyaki, dan bandeng goreng telur.

Tiap kilogram terdiri dari empat ekor hingga enam ekor bandeng dibanderol dengan kisaran harga Rp 42.500–Rp 145.000. Daniel mengatakan, Bandeng Ju­wana memproduksi hingga 300 kg bandeng duri lu­nak saban hari.

Meski toko oleh-oleh sudah tersebar di hampir semua kota, Daniel bilang, masih ada peluang untuk membuka toko baru. Apalagi berpelesir sudah jadi gaya hidup masyarakat masa kini.

Dia pun mengingatkan pemain baru tak perlu takut persaingan karena justru banyaknya toko jadi salah satu daya tarik yang membuat pengunjung datang. Pasalnya, pengunjung jadi punya banyak pilihan un­tuk belanja oleh-oleh.

Nah, agar menonjol dari toko oleh-oleh lainnya, Daniel selalu memberikan pelayanan terbaik pada konsumen.

Dus, ia tak perlu berpromosi karena pengun­junglah yang akan menyebarkan kualitas pelayanan di tokonya. “Saya ingin pembeli tidak datang hanya sekali dan mereka mempromosikan toko ini. Caranya, kami memberi pelayanan terbaik,” tandasnya.

Produk Unggulan

Bila Anda mencium potensi pariwisata di kota atau daerah Anda, tak ada salahnya menjajal bisnis ini. Hanya saja, untuk membuka pusat oleh-oleh butuh modal besar.

Dana yang besar diperlukan untuk menyiapkan tempat.

Untuk mengelola usaha toko oleh-oleh, hal utama yang patut diperhatikan ialah lokasi toko. Daniel beruntung karena tokonya terletak di sentra oleh-oleh kawasan Pandanaran, Semarang. Dus, saat membuka toko pertamanya, dia tak perlu repot mempromosi­kan tokonya.

Anda juga bisa membuka di jalan-jalan yang ber­potensi dilewati pelancong. Seperti toko Daniel di Jl. Pamularsih. “Cabang baru memang bukan kawasan wisata oleh-oleh, tapi dilewati wisatawan yang hendak ke bandara dan rute ke luar kota,” terang dia.

Selain lokasi strategis, usaha ini juga butuh lahan yang luas untuk menampung tempat parkir. Tak han­ya mobil, ada baiknya jika Anda juga memikirkan la­han untuk parkir bus.

Wieke mengaku, menggelontorkan dana lebih dari Rp 100 juta. Dana itu dia gunakan untuk renovasi tempat usaha dan pembelian berbagai perlengkapan pendukung gerai. Toko sendiri menempati bangunan milik keluarga di seputar Tugu Muda, Semarang.

Meski menjual beraneka oleh-oleh, ada baiknya Anda memiliki produk unggulan. Seperti Tahu Petis Yudhistira yang punya produk unggulan Petis Yud­histira, tahu bakso kakap, dan lumpia.

“Memang bukan keharusan, tapi terbukti seba­gian besar pemain usaha pusat oleh-oleh yang sukses adalah yang punya produk unggulan,” kata Wieke.

Tengok saja, Bandeng Juwana yang mengandalkan penjualan bandeng presto di gerainya. Pengunjung memilih datang ke tokonya karena ingin sekaligus membeli bandeng presto yang menjadi santapan khas Semarang. Produk unggulan juga merupakan pembe­da dari pusat oleh-oleh yang lain.

Daniel mengatakan, persiapan untuk membuka cabang Bandeng Juwana dilakukan selama setahun. Ia harus mencari lokasi strategis serta mengumpulkan produk yang ingin dijual.

Menurut Daniel, macam produk oleh-oleh yang dijual di Pamularsih sama dengan yang dijual di Pan­danaran. Dus, konsumen bisa memilih lokasi yang nyaman tapi tak perlu takut tidak mendapat produk yang diinginkan.

Sekitar 50% produk yang dijual di toko Bandeng Ju­wana merupakan makanan yang diproduksi sendiri. Sebagian lagi merupakan produk titipan yang dijual dengan sistem konsinyasi.

“Ada yang dititip tiap hari, per minggu, ada juga yang per bulan, tergantung jenis makanan,” sebutnya.

Menurut Daniel, bila ada produk titipan yang tidak laku dalam beberapa waktu, biasanya produsen pasti akan menarik produk dari toko. Sementara itu, Daniel berujar, produk Bandeng Juwana sendiri diupayakan laku karena itu yang menopang penjualan tokonya.

Produk-produk yang sudah punya nama bisa men­jadi alternatif pertama, namun tak ada salahnya men­coba produk-produk baru jika memang kualitasnya baik. Kerjasama yang biasa dilakukan adalah konsin­yasi atau pembayaran setelah produk laku terjual.

Sebagai pemain baru, Anda pun harus memper­hatikan promosi. Untuk mempromosikan gerainya, Wieke memaksimalkan media online dan sosial me­dia. “Pemain juga harus aktif membina hubungan dengan dinas-dinas terkait, seperti dinas perindustri­an dan perdagangan, serta pariwisata,” jelas dia.

(net)