2812Ketika mendengar kata pare, dibenak banyak orang pasti langsung terbersit buah atau sayuran yang identik dengan rasanya yang pahit. Namun, di tangan Sofyan Hadi, pare dikreasikan menjadi camilan yang mampu menghasilkan omzet gurih. Ya, mantan wartawan ini membuat pare menjadi keripik gurih yang crispy dan menyehatkan. Seperti apa?

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Sofyan bercerit a, ketika menetap lama di Surabaya, Jawa Timur, ia terinspirasi dari banyaknya usaha yang menawarkan keripik buah. Dari situ, kemudian mecau Sofyan un­tuk membuat usaha serupa namun dengan kreasi yang tidak biasa pada umumnya.

“Saya lama tinggal di Surabaya, di sana teman-te­man dari Malang banyak yang berkreasi dengan keripik buah. Saya terpikir untuk bikin keripik, tapi ingin cari bahan yang lain, dan lebih menyehatkan,” ujar Sof yan.

Ia pun rajin browsing di internet, untuk mencari al­ternatif bahan keripik yang hendak dibuatnya. Setelah sekian kali berselancar di dunia maya, pilihannya jatuh kepada buah pare. “Pare itu menyehatkan, bermanfaat untuk menormalkan gula darah, atau dengan kata lain untuk meringankan kerja pankreas,” ujar alumnus Uni­versitas Negeri Surabaya (Unesa) ini.

Namun problemnya, karena rasanya yang begitu pahit, banyak orang yang ogah-o gahan mengonsumsi pare. Dia pun mencar i cara, bagaimana mengurangi rasa pahit pare.

“Dari berbagai percobaan, akhirnya ketemu. Caran­ya ternyata mudah, pare yang telah dirajang direndam dengan daun kudo selama dua hari,” ucapnya.

Setelah itu, pare kemudian dijemur dan digoreng. Untuk mendapatkan hasil maksimal, penggorengan di­lakukan dua kali. “Usai digoreng yang pertama, pare di­angin-anginkan, baru kemudian digoreng lagi biar bisa benar-benar crispy atau kriuk,” urai pria, yang pernah meng geluti profesi wartawan selama kurun waktu 1998 hingga 2014 ini.

Hasil kreasinya ini kemudian ia uji coba untuk dikonsumsi sendiri dan orang di lingkungan terdekat­nya. Hasilnya, ternyata cukup memuaskan.

“Setelah saya rutin mengonsumsi, pusing-pusing yang sering saya alami berkurang drastis. Ada juga tet­angga yang punya gula darah tinggi saya kasih untuk dicoba, ternyata setelah menghabiskan tiga bungkus gula darahnya berangsur normal,” cerita bapak dua anak ini.

Puas dengan hasil uji coba, ia pun mulai berani me­masarkan keripik pare kreasinya ini ke berbagai toko. Se suai harapan, responsnya cukup bagus, bahkan ban­yak toko oleh-oleh di Kudus yang turut memesan. “Tak hanya itu, hampir semu a apotek di Kudus juga bermi­nat memasarkan, sudah banyak yang pesan,” ujarnya.

Bahkan, kini ia mulai kewalahan memenuhi permin­taan pasar. Saat ini, banyak pesanan datang dari luar kota. Antara lain, Semarang, Surabaya, Jakarta, Band­ung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Palem­bang, Medan, dan beberapa kota lainnya.

Kendala yang dihadapi saat ini, menurut dia, adalah kurangnya bahan baku. Memang, yang ia gunakan tak sembarang jenis pare, melainkan jenis pare Thailand atau dikenal juga dengan sebutan pare landak.

“Sekarang saya kerja sama dengan petani di sekitar sini, sudah ada sekitar lima petani plasma yang siap bekerjasama,” ujarnya.

Dalam sebulan, ia bisa menghasilkan sekitar 3 ribu bungkus ker ipik pare yang ia kasih merek ‘Parea’. Keripik ini dibungkus dalam berbagai kemasan, mulai isi 35 gram hingga 100 gram. “Mayoritas kemasan 85 gram, karena itu yang paling laku. Untuk harga diban­derol mulai Rp 5 ribu sampai Rp 30 ribu, tergantung isi dalam kemasan,” ujarnya.

Varian rasa yang ditawarkan juga berbeda-beda. Ada rasa original, keju, jagung bakar, pedas, dan lain-lain. “Yang pokok, untuk membedakannya, yang bertepung itu saya klasifikasikan sebagai rempeyek, sementara yang original dan t ak ber tepung saya golongkan seb­agai keripik,” jelasnya.

Saat ini, omzet dari usaha yang digelutinya sudah mencapai belasan juta rupiah. Setiap harinya, Sofyan dibantu tujuh orang karyawan untuk memproduksi keripik dan peyek pare.

(TBN)