JAKARTA, Today – Dua BUMN yang menangani penjaminan kredit usaha rakyat (KUR) me­nilai penurunan bunga KUR tidak akan berdampak banyak bagi bisnis mereka. Seperti diketahui pemerintah meman­gkas bunga KUR dari sebel­umnya 22% menjadi cuma 12%. Besaran bunga tersebut mulai berlaku pada bulan ini.

Direktur Perum Jamkrindo Bakti Prasetyo menilai dampak penurunan bunga KUR bagi pendapatan bisa dibilang tidak ada. Pasalnya sudah ketentuan soal imbal jasa penjaminan (IJP) yang bisa mereka dapat.

Menurutnya perolehan IJP Jamkrindo dari tiap debitur bisa sama saja dengan besaran pada tahun lalu. Atau sesuai dengan risiko dan rekam jejak tiap debitur KUR. “Kan sudah ada statistiknya yang menjadi dasar,” katanya belum lama ini.

Justru menurut dia, ada po­tensi kendala ke depan terkait penambahan subsidi bunga KUR ini. Pasalnya dengan sub­sidi yang makin besar ini ia me­nilai minat untuk membayar IJP juga bisa berkurang.

Baca Juga :  Jalankan Fungsi Pengawasan, Komisi III Sidak Tiga Lokasi Pembangunan Strategis

Meski ia mengakui bunga yang lebih rendah ini tentu lebih disukai oleh pengusaha UMKM. Sebab dengan bunga yang rendah, daya saing pengu­saha kecil bisa meningkat. Na­mun patut diwaspadai, bunga KUR yang makin ringan terlalu identik dengan bantuan pemer­intah dan justru menyebabkan kelalaian debitur. “Jangan sam­pai pembayaran debitur malah jadi tidak lancar,” ungkapnya.

Selain pendapatan, penu­runan bunga KUR juga dinilai tidak akan berpengaruh ke beban klaim yang harus di­tanggung Jamkrindo. Per Mei 2015 sendiri, Jamkrindo men­gantongi pendapatan sebesar Rp 823,14 miliar. Sementara realisasi kredit sebesar yang disalurkan mencapai Rp.21,36 triliun. Sebagian besar meru­pakan kredit penjaminan non KUR yang sebesar Rp 20,38 triliun.

Sementara Direktur Utama PT Asuransi Kredit Indonesia alias Askrindo Antonius Chan­dra juga memiliki pemikiran serupa. Ia menyebut besaran suku bunga bukan faktor pe­nyebab lancar tidaknya suatu kredit. Dus, hal ini tak menja­min beban klaim mereka bakal makin ringan.

Baca Juga :  Kelompok Milenial Angkatan Tenaga Kerja yang Terdampak Pandemi Covid-19

Menurut dia, dampak dari penurunan bunga KUR ini akan lebih terasa pada komitmen debitur dalam mengelola usaha mereka. “Dan tak bisa lepas juga dari kondisi ekonomi saat ini dan ke depan seperti apa,” katanya belum lama ini.

Ia sendiri mengakui bahwa rasio klaim untuk KUR biasan­ya memang jauh lebih tinggi ketimbang non KUR. Secara ra­ta-rata, claim ratio terkait KUR di Askrindo biasanya mencapai hampir 55%. Sedangkan di seg­men non KUR rasio klaimnya cuma sekitar 35%.

Sementara sampai bulan Mei kemarin, klaim Askrindo sendiri mencapai Rp 548,2 miliar. Di saat yang sama, total perolehan premi dan jasa pen­jaminan Jamkrindo mencapai Rp 809,3 miliar. Selama ini konribusi KUR memang masih mendominasi bisnis perseroan yakni mencapai sekitar 60%. Smeentara 40% sisanya berasal dari non KUR alias pasar kom­ersial.

(Adil | net)