Untitled-10PT Garuda Indonesia (Per­sero) Tbk (GIAA) menye­butkan, besaran kerugian yang dibukukan maskapai pelat merah akibat erupsi Gunung Raung, Banyuwangi sebesar Rp2 miliar. “Kita manage dengan baik, kerugiannya sekitar Rp2 miliar,” kata Direktur Keuangan Garuda Indonesia, IGN Askhara Danadipu­tra di Jakarta, Rabu (28/7/2015).

Askhara menuturkan, Garuda juga mengalami kerugian saat terjadinya kebakaran di bandara Soekarno Hatta beberapa waktu belakangan. Dirinya menaksir total kerugian tersebut sebesar Rp8,7 miliar. “Totalnya Rp10,7 miliar, itu digabung sama gunung Raung,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo mengatakan, total penerbangan yang batal akibat erupsi Gunung Raung sebanyak 246 penerbangan. “Citilink mung­kin 10 persennya, yang saya kha­watirkan adalah soal asap dari ke­bakaran hutan, tahun lalu saja 5-7 hari,” tukas dia.

Baca Juga :  IHSG Dibuka Tertekan di Level 6.716

Raup Laba Bersih Rp373 M

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) juga mengumumkan bahwa pada semester I tahun ini berhasil merup laba bersih sebe­sar USD27,72 juta atau setara den­gan Rp373,26 miliar, jika mengacu kurs Rp13.462 per USD.

Melansir dari laporan keuan­gan yang dipublikasikan persero, Rabu (29/7/2015), keuntungan tersebut diraih emiten berkode GIAA ini setelah melewati masa kerugian. Tercatat pada periode yang sama tahun lalu, Garuda mengalami kerugian yang cu­kup besar yakni USD203 juta atau sebesar Rp2,7 triliun.

Baca Juga :  IHSG Dibuka Tertekan di Level 6.716

Keuntungan tersebut disinyalir, karena maskapai berplat merah ini berhasil mengurangi beban usaha. Tercatat beban usaha saat ini sebesar USD1,79 miliar, nilai tersebut lebih kecil dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar USD1,97 miliar.

Jumlah aset Garuda juga me­ningkat meskipun tipis, yakni dari sebelumnya senilai USD2,3 miliar, kini aset perusahaan mencapai USD2,31 miliar.

Pendapatan perusahaan juga naik tipis, dari USD1,75 miliar menjadi USD1,84 miliar. Pe­nyumbang pendapatan terbesar didapat dari penerbangan tidak berjadwal yang meningkat dari USD5,9 juta menjadi USD58 juta.

(OKZ/Apri)