Opini-2-GiaORANG tua mempunyai tugas untuk memenuhi hak-hak anak-anaknya, memberinya makan, tempat tinggal, pendidikan yang layak, tidak berlaku kasar dan meluangkan waktu untuk anak saat anak membutuhkan.

Oleh: BAHAGIA, SP., MSC

Orang tua yang sudah memutuskan un­tuk menikah maka harus siap dengan konsekuensi untuk memiliki anak. Harus siap den­gan konsekuensi untuk menja­min masa depan anak-anaknya. Urusan yang harus dipersiapkan pada saat sebelum menikah se­bab jika sudah menikah harus merencakana lebih matang lagi tentang masa depan anak-anak yang berkemungkinan Allah beri­kan kepadanya. Kerap kali orang tua tidak mau susah dengan ank-anak yang telah ia lahirkan. Ada yang memilih untuk melantar­kan anaknya dengan cara mela­hirkannya kemudian diletakkan didepan rumah orang lain agar dirawat oleh orang lain. Ini bu­kan lagi orang tua yang baik dan bahkan sulit dirasa mendapatkan surga melihat kejahatannya tadi. Ada juga orang tua yang sibuk dengan urusan-urusan duniawin­ya sehingga dia tidak tahu pula bahwa waktu luang untuk anak-anaknya telah habis pula terpakai untuk memenuhi kebutuhan du­niawinya.

Ada yang sebulan sekali jika tidak pulang ke rumah atau ada pula yang bahkan satu semester sekali belum pulang ke rumah. Selain itu ada pula orang tua yang berangkat subuh kemudian pulang sudah tengah malam se­hingga waktu yang tersisa tidak ada lagi buat anak-ankanya pa­dahal itu sama artinya kita telah egois dengan kerjaaan kita send­iri tanpa kita tahu haknya anak telah pula kita rampas dengan perilaku kita. Jangan pula ada ala­san semua itu untuk keluarga jus­tru hal inipun berdampak buruk pula bagi anak-anak itu. Mung­kin kita sebagai orang tua harus mencari pekerjaan yang juga ti­dak mengorbankan waktu untuk anak-anak kita yang ada dirumah. Besoknya diulang lagi dengan ru­tinitas yang sama sehingga sam­pai tuapun orang tua itu tetap saja bekerja untuk menacri uang. Apa artinya duniawi itu terpenuhi tetapi kita telah mengabaikan ke­pentingan anak-anak kita. Lantas bagaimana anak bisa mendapat­kan kasih sayangnya sementara orang tuanya sendiri harus pergi ntah kemana seperti yang dia su­kai. Memang kita terlalu menge­jar urusan duniawi kita yang ti­dak ada batasnya untuk dapatkan itu semua.

Jika perut tadi tidak lagi ter­kontrol maka hilanglah perasaan bersalah karena tidak memenuhi hak-hak anak. Bahkan terbiasa pula dengan aktivitas yang sep­erti ini. Bahkan ada pula orang tua yang tidak mau repot dengan anak-anaknya. Setelah melahir­kan pergi ntah kemana seperti apa yang ia inginkan. Pergi ke­mana saja yang ia mau. Ntahkah itu menikah lagi, belerja ke luar negeri, dan bahkan kabur tidak ada rimbanya lagi. Anak tadi tinggalah bersama saudaranya, bersama dengan nenek atau ey­ang dari anak itu. Terpaksa pula anak tadi diurus oleh eyangnya atau neneknya atau saudaranya. Sementara orang tuanya tidak pula mersa bersalah sdikitpun dan bahkan tidak pula merasa jika itu salah. Akhirnya ada pula orang tua yang dengan mudah bercerai kemudian bercerai lagi dan meni­kah lagi pula. Semua itu ia lakukan terus menerus hingga mendapat­kan anak yang banyak dari per­nikahannya yang kawin cerai itu. Hasil dari pernikahnnya itupun harus pula anak-anak itu diurus oleh saudarnya dan neneknya.

Tindakan yang seperti ini sangat salah jika ada orang tua yang seperti ini. Segeralah ber­tobat, segeralah kurangi duniawi itu, segeralah hentikan nikah ce­rai itu dan segeralah urus sendiri anak-anak itu sebab dosa itu su­dah pula menumpuk sekian ban­yaknya sesuai dengan lamanya kita melantarkan anak-anak kita itu. Sangat sulit dipertanggung­jawabkan pada saat hari akhir yaitu pada saat hari kiamat sebab bagaimanapun jika pernagai-per­angai itu sudah dilakukan maka tidak mungkin lagi dihapuskan maka tidak mungkin pula dosa terhapuskan pada saat kita sudah melakukannya. Lanatas bagaima­na pula dengan orang tua yang jarang bertemu keduanya, maka inipun bukan lagi orang tua yang baik sebab tatap muka langsung itu lebih baik ketimbang harus pula menggunakan alat komu­nikasi dan mengirimkan sedikit sms kepada anak-anaknya. Bagi yang merasa seperti ini pikir­kanlah yang baik-baik. Ingatlah pula kekerasan pada anak-anak anda akan terus mudah terjadi dengan realita yang seperti dia­tas. Bagaimana tidak terjadi ke­kerasan itu sebab bukan orang tua kandungnya yang merawat­nya hingga besar.

Kekerasan apa saja berpo­tensi terjadi termasuk kekerasan seksual sebab pelaku yang paling kita takuti bukan orang terjauh dari kita dan anak-anak kita tetapi orang terdekat korban. Termasuk pamannya, termasuk kakeknya, termasuk pula kakak iparnya serta pembantu-pembantu yang ia miliki. Orang terdekat itulah yang sangat berbahaya bagi anak-anak jika orang tua kandungnya tidak memenuhi hak-haknya. Hak diatas sama dengan hak anak untuk mendaatkan kasih sayang dan perawatan yang layak dari seorang Ibu. Anak akan tumbuh baik secara psikologis dan ke­cerdasan serta baik pula secara agama.

Ini kebutuhan anak yang san­gat mutlak harus kita penuhi. Orang tua yang jarang dirumah tanpa mengontrol anak-anaknya dengan baik maka jelas pula su­lit mendapatkan kasih saying, sulit diras mendapatkan haknya dalam didikan agama. Jika dia muslim maka sudah menjadi hak dari anak mendapatkan pengkajian rutin kitab suci agar tumbuh dan dewasa dengan nu­ansa agama yang baik. Justru inilah yang telah kita lupakan se­hingga anak tak pula mendapat­kan hak-haknya yaitu hak untuk mendapatkan pelajaran agama yang cukup pada saat dirumah.

Hak anak juga begitu luas seperti hak mendapatkan pak­aian yang bersih dan layak serta lingkungan rumah yang bersih dan nyaman untuk ditempat tinggali. Jika itu telah terabaikan maka bagaimana anak hendak tumbuh dewasa dengan baik jika makanannya saja jarang sekali di­perhatikan. Bagaimana anak itu dapat tumbuh dan sehat secara mental jika tidak banyak disen­tuh oleh nilai-nilai agama bahkan yang ada anak menjadi jahat dan brutal.

Seharusnya diantara kita har­us mengerti dengan hak-hak anak atas orang tuanya. Tidak luput ke­mungkinan orang tua yang tidak mengurusi anaknya pada masa kecilnya dengan baik justru pada saat dirinya tua akan sulit pula untuk mendapatkan haknya atas anak yang telah diasuhnya. Ti­dak heran orang tua banyak pula dilantarkan oleh anak-anaknya karena perlakukan dari orang tua itu sendiri pada saat dirinya ma­sih usia kanak-kanak. Mungkin kita harus sadari bahwa berbuat jahatnya anak pada orang tua dan bahkan tidak pula mau merawat orang tuanya pada saat dirinya umur senja juga terletak pada baik dan buruknya orang tua itu kepada anak-anak pada masa ke­cilnya anak itu. Semoga kitalah orang tua yang baik itu. Amin.

# Penulis tinggal di Bogor, tengah menempuh pendidikan Doktor di IPB,
Peneliti dan Dosen Tetap Fakultas Agama Islam UIKA Bogor