11377648_976031099084755_1027147922_nJam tangan tak hanya berfungsi sebagai penunjuk waktu saja. Jam tangan kini menjadi salah satu item wajib untuk menunjang gaya fashion seseorang, baik pria maupun wanita. Modelnya pun kian beragam. Bahkan, industri kreatif dalam negeri mulai melirik kayu sebagai dasar utama bahan pembuatan jam tangan. Seperti apa?

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Penggunaan kayu ini menggantikan beberapa material yang biasa dipakai dalam sebuah jam tangan, antara lain stainless steel, karet, kulit, atau titanium. Salah satu merek jam tangan kayu yang cukup populer adalah Woodka. Jam tangan asli buatan Indonesia ini dibuat oleh 11 mahasiswa asal Bandung sejak September 2013 lalu.

Belasan mahasiswa ini awalnya adalah kelompok dalam tugas kuliah di jurusan Bisnis Manajemen In­stitut Teknologi Bandung (ITB). Salah satu mahasiswa yang terlibat dalam pembuatan jam tangan kayu ini adalah Aditya Budhidharma. “Di sini tidak ada pemilik ide, kami mikirnya bareng-bareng, ” kata Aditya, be­lum lama ini.

Pilihan mereka jatuh kepada jam tangan kayu kare­na prihatin melihat banyaknya limbah kayu yang tidak terpakai. Limbah kayu yang mereka gunakan adalah kayu pinus dan sonokeling.

Aditya dan kawan-kawannya hanya fokus pada de­sain, bentuk, dan promosinya. Sementara untuk urusan teknis, mereka melibatkan ahli jam. Proses pembuatan satu jam memakan waktu 10 hari. Hingga saat ini, jam yang sudah berhasil diproduksi lebih dari 300 unit.

“Karyawannya tidak lebih 20 orang, mereka me­mang dari pabrik yang memang bekerja sebagai per­akit jam. Sebulan, pabrik mereka bisa menghasilkan 100 jam tangan,” kata Aditya.

Butuh ketelitian

Menurut Aditya, membuat jam tangan kayu tidak terlalu sulit. Soalnya, proses pembuatannya sebagian juga sudah dibantu mesin. Hanya, saat perakitan bu­tuh kete­litian. Aditya bilang, tidak semua material jam dari kayu. Untuk mesin dan jarum jam tetap terbuat dari besi.

Dengan menyasar konsumen remaja dan dewasa, satu jam tangan kayu Wood­ka dibanderol mulai Rp 600.000 hingga Rp 800.000. Jam tangan Woodka terbagi menjadi dua kategori, yakni jam dengan tali kain tenun atau kulit dan jam tangan full kayu.

Jika konsumen ingin mengganti tali jam tangan, mereka juga menjual khusus talinya saja dengan harga per satuan Rp 150.000. Jam tangan Woodka hanya di­jual online. Selain itu, mereka juga aktif berjualan di acara pameran anak muda, seperti Jakarta Euphoria Project dan Local Fest.

Untuk pemesanan online, dalam sehari ada lima orang sampai 10 orang yang memesan. Sementara saat ajang pameran, penjualan sehari bisa mencapai 15 pieces. Sebulan, Aditya dan timnya bisa menjual 100 unit hingga 150 unit jam tangan.

Dari penjualan sebanyak itu, Aditya dan kawan-kawannya bisa menghasilkan omzet sekitar Rp 55 juta. Adapun laba bersihnya sekitar 33% dari omzet.

Mayoritas pelanggan jam tangan Woodka ini terse­bar di sejumlah daerah, antara lain Jakarta, Yogya­karta, dan Semarang. “Kami juga sudah jual sampai ke luar negeri, seperti Denmark, Inggris, Korea Selatan, Singapura, dan Malaysia,” jelasnya.

Aditya bilang, kelebihan jam tangan Woodka dari jam tangan kayu lain adalah bahannya yang terbuat dari limbah. Selain itu, talinya juga bisa digonta-ganti­ganti dengan pilihan tali kayu dan kain tradis­ional Indonesia, yakni tenun Kalimantan.

Pemain lainnya adalah Lucius L. Worang yang mengusung merek L&K di Jakarta. Pria yang akrab Leon ini memulai usaha dengan seorang temannya bernama Hocky E. Santha pada November 2009. “Awalnya dari ngobrol saja,”katanya.

Leon mengaku membutuhkan waktu setahun melakukan riset untuk menghasilkan jam tangan den­gan desain dan kualitas terbaik. Pada tahun 2010, mer­eka resmi melempar produknya ke pasar.

Pembuatan jam tangan kayu ini hanya melibatkan satu pengrajin. Menurut Leon, pembuatan jam tangan ini masih menggunakan cara tradisional. Makanya, dalam sebulan, ia hanya sanggup membuat sekitar empat unit jam tangan kayu.

Dari tahun 2011 lalu hingga saat ini, sudah ada enam desain jam tangan yang ditawarkan kepada konsumen. Untuk membuat jam tangan ini, mereka menggunakan kayu jenis regas burung dan merbau.

Bagi Leon, kedua kayu itu mempunyai karakter warna yang bagus sehingga cocok dibuat jam tangan. Sedangkan mesinnya, dia bekerjasama dengan pe­masok mesin jam tangan dari Swiss.

Leon membanderol jam tangannya mulai US$ 3.000 hingga US$ 3.500 per unit. Produk jam tangan ini membidik konsumen kelas atas dan mayoritas diek­spor, antara lain ke Amerika Serikat, Italia, dan Korea.

Dalam sebulan, Leon mengantongi omzet sekitar Rp 70 juta hingga Rp 84 juta, dengan margin bersih 30%-40%.

(KTN)