Untitled-12Kedudukan dan jabatan yang dimiliki seseorang tidak menjamin seseorang itu menjadi mulia di hadapan sang pencipta.

Oleh : GUNTUR EKO WICAKSONO
[email protected]

Semua dimata tuhan itu sama saja yakni kecil dibanding dirinya (allah,red). Hal itu sep­erti dikisahkan dua orang sa­habat yang terpisah sejak lama dan dipertemukan kembali di Masjid At­tawun Puncak, Bogor.

Dua orang itu adalah Ahmad dan Zaenal. Ahmad ini pintar sekali. Cer­das. Tapi dikisahkan kurang beruntung secara ekonomi. Sedangkan Zaenal adalah sahabat yg biasa2 saja. Namun keadaan orang tuanya mendukung karir dan masa depan Zaenal.

Setelah terpisah cukup lama, ked­uanya bertemu. Bertemu di tempat yg istimewa; di koridor wudhu, koridor toilet sebuah masjid megah dengan ar­sitektur yang cantik dan memiliki view pegunungan dengan kebun teh terham­par hijau di bawahnya.

Adalah Zaenal, sudah menjelma menjadi seorang manager kelas menen­gah. Necis. Parlente. Tapi tetap menjaga kesalehannya. Ia punya kebiasaan.

Baca Juga :  Tunjukan Eksistensi, PK KNPI Pamijahan Menggelar Vaksinasi Massal

Setiap keluar kota, ia sempatkan singgah di masjid di kota yang disingga­hinya. Untuk memperbaharui wudhu, dan sujud syukur. Syukur-syukur masih dapat waktu yang diperbolehkan shalat sunnah, maka ia shalat sunnah juga seb­agai tambahan.

Seperti biasa, ia tiba di Puncak Pas, Bogor. Ia mencari masjid. Ia pinggirkan mobilnya, dan bergegas masuk ke mas­jid yg ia temukan.

Di sanalah ia menemukan Ahmad. Cukup terperangah Zaenal ini. Ia tahu sahabatnya ini meski berasal dari ke­luarga tak punya, tapi pintarnya minta ampun.

Saat itu iamenyangka temannya Ah­mad menjadi seorang merbot masjid. Karena iba dirinya memberikan te­mannya itu untuk bekerja di tempatnya. Namun tanpa sadar ketika usai melak­sanakan shalat, seorang anak muda menegur dan berkata, “Pak, Bapak ke­nal emangnya sama bapak Insinyur Haji Ahmad…?”

Baca Juga :  Pakar Toksikologi Beberkan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Gigitan Ular

Anak muda ini kemudian menam­bahkan, “Beliau orang hebat Pak. Tawadhu’. Saya lah yang merbot asli masjid ini. Saya karyawannya beliau,” imbuhnya.

Beliau yang bangun masjid ini Pak. Di atas tanah wakafnya sendiri. Beliau biayai sendiri pembangunan masjid in­dah ini, sebagai masjid transit mereka yang mau shalat.

Ada pelajaran dari kisah pertemuan Zaenal dan Ahmad. mungkin begitu bertemu kawan lama yang sedang me­lihat membersihkan toilet, segera mem­beritahu posisi yang sebenarnya.

Semoga ia selamat dari rusaknya ni­lai amal, sebab tetap tenang dan tidak risih dengan penilaian manusia. Haji Ahmad merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa. Dan kemudian Allah yg mem­beritahu siapa dia sebenarnya

“Al mukhlishu, man yaktumu hasa­naatihi kamaa yaktumu sayyi-aatihi” Orang yang ikhlas itu adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya, seperti ia menyembun­yikan keburukan-keburukan dirinya.

(Guntur Eko Wicaksono)