A1---020715-BogorTodayPRESIDEN Joko Widodo meminta Menteri Pertahanan (Menhan) dan Panglima TNI untuk mengevaluasi total seluruh pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Jatuhnya pesawat Hercules C-130 milik TNI AU buatan 1964 di Jalan Jamin Ginting, Medan, jadi musibah nasional yang harus perhatian serius.

YUSKA APITYA AJI ISWANTO
[email protected]

Jokowi memerintahkan agar penyebab kecelakaan pe­sawat Hercules C130 diinves­tigasi secara mendalam agar semua tahu apa penyebab jatuhnya pesawat nahas itu. Terkait insiden ini, Presiden memerintahkan Menteri Pertahanan dan Panglima TNI untuk melakukan evalu­asi penuh kondisi alat utama sistim pertahan­an yang dimiliki agar t i d a k lagi terulang peristiwa serupa. “Saya telah memer i n t a h k a n investigasi yang mendalam soal penyebab kecelakaan ini dan agar segera dilakukan. Saya juga telah memerintahkan kepada Menteri Pertahanan dan Panglima TNI, untuk melakukan perombakan mendasar tentang manajemen alutsista TNI. Sistim pengadaan alutsista harus diubah. Ini mo­mentum. Kita tidak boleh lagi membeli senjata, tetapi bergeser ke modernisasi sis­tim persenjataan,” lanjut Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi berharap untuk ke de­pannya, industri pertahanan lebih diarahkan pada kemandirian industri dalam negeri. “Industri pertahanan kita harus terlibat. Mu­lai dari rancang bangun produksi, operasion­al, latihan pemeliharaan, hingga pemusnah­an alutsista yang sudah tua. Dan yang paling utama, pengadaaan alutsista harus diarah­kan pada kemandirian industri pertahanan. Sehingga kita bisa mengendalikan kesiapan operasional alutsista TNI,” imbuhnya.

Agar tidak terjadi lagi kecelakaan pesawat militer, Presiden Jokowi menekankan kesia­pan operasional mulai dari alat pertahanan hingga personel di lapangan. “Saya juga ingin TNI memperkuat zero accident (kecelakaan nihil). Untuk setiap penggunaan alutsista TN. Pesawat tempur, pesawat angkut, kapal perang, kapal selam, hingga helikopter, serta perwira dan prajurit TNI yang mengawakinya. Harus berada dalam kesiapan operasional yang tinggi,” pesan Presiden Jokowi .

Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Madya Dwi Badarmanto men­gatakan, seputar penyebab jatuhnya pe­sawat masih dalam penyelidikan. Dwi menekankan, pesawat Hercules ini biasa digunakan untuk pengangkutan prajurit dan logistik, termasuk perbantuan untuk tugas sosial kebencanaan. “Mungkin penyelidikan masih perlu waktu ya. Tidak secepat itu. Ka­lau umur pesawat lah ya. Ini pesawat yang handal,” kata Marsekal Madya Dwi Badar­manto, kemarin.

Pesawat Hercules tipe C-130 milik TNI Angkatan Udara jatuh di sekitar Medan, Su­matera Utara pada Selasa (30/6). Jumlah ko­rban tewas akibat insiden ini terus bertam­bah dan telah mencapai seratus orang lebih, termasuk penumpang pesawat, anggota TNI AU, dan warga sipil di pemukiman.

Baca Juga :  Graha Pancakarsa Inovasi SLRT Satu Pintu Pertama Di Indonesia

Data yang dihimpun, pembersihan di lokasi jatuhnya pesawat Hercules terus di­lakukan hingga Rabu (1/7/2015) malam. Jika semuanya berjalan lancar, arus lalu-lintas di lokasi akan dibuka kembali.

Kapolresta Medan AKBP Mardiaz Kusin Dwihananto menyatakan, pembukaan jalan itu bergantung pada situasi. Terbuka peluang pada Kamis (2/7/2015) jalan sudah bisa di­lalui kembali. “Melihat situasi pembersihan malam ini,” kata Mardiaz, kemarin petang.Sementara di lokasi terlihat proses evakuasi sudah hampir kelar. Puing pesawat dan ban­gunan tak lagi bertumpuk. Pengerjaan alat berat dihentikan sementara. Puing-puing besar pesawat dibawa secara bergelombang ke Lanud Soewondo, termasuk pecahan bodi pesawat dan ekor.

Saat ini, lokasi relatif bersih dari puing pesawat dan reruntuhan bangunan. Meski demikian, pencarian korban belum akan di­hentikan. “Fokus ke korban. Kami akan sisir lagi,” tutur Dandim 0102 Medan Letkol Inf M Ridwan di lokasi, Rabu (1/7/2015).

Rencananya, kata Ridwan, penyisiran dilakukan mulai pukul 20.00 WIB. Tim gabungan dari TNI, polisi, Basarnas, PMI, dan instansi lain akan bergerak lagi setelah istirahat menjelang Magrib. Selain korban, tim juga akan mencari amunisi yang diper­kirakan masih tertinggal. Berdasarkan pen­dataan, sejauh ini tim gabungan menemu­kan pakaian, dompet, ponsel. Barang-barang itu disimpan sebagai data pendukung. “Saya minta jangan sampai tim evakuasi mengam­bil barang-barang tertentu,” tandasnya.

Kemarin, puing-puing besar pesawat dibawa secara bergelombang ke Lanud Soe­wondo. Termasuk pecahan body dan ekor. Aparat keamanan terus melakukan pencar­ian terhadap amunisi yang diperkirakan ma­sih ada di sekitar lokasi jatuhnya pesawat Hercules di Medan. Radius 200 meter dari lokasi disterilkan dari warga sipil untuk anti­sipasi masalah.

Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Utara (Sumut) Kombes Pol Helfi Assegaf menyatakan, berdasarkan laporan terakhir ditemukan 14 pucuk senjata dan 4 pistol di lokasi. Sementara dari 22 ribu butir peluru, baru sekitar 60 persennya yang ditemukan.

Amunisi yang belum ditemukan inilah yang kini terus dicari. Evakuasi terus dilaku­kan sampai steril. “Karena ada amunisi yang harus dibersihkan, jangan sampai kena ma­syarakat, kan amunisinya bisa meledak atau apa,” kata Helfi di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik, Jalan Bungalow, Medan, Rabu (1/7/2015).

Disebutkan Helfi, dalam upaya steril­isasi ini ada hambatan. Pasalnya masyarakat terus berdatangan ke lokasi. “Masyarakat banyak di sini mau nonton, jadi lalin untuk alat, untuk bongkar nggak lancar. Sudah kita sterilkan radius 200 meter. Kita khawatir amunisi itu meledak,” pungkasnya.

Baca Juga :  APBD 2022 Disahkan, Masih Seputar Pemulihan Ekonomi

Proses identifikasi korban pesawat Her­cules masih terus dilakukan. Sebanyak 62 jenazah telah berhasil diidentifikasi. Apa kendala tim saat melakukan identifikasi jen­azah? “Kita nunggu ante mortemnya. Belum semua keluarga lapor, “ kata Helfi Assegaf.

Helfi mengatakan, hingga pukul 17.15 WIB kemarin, baru ada 79 keluarga yang melapor ke petugas Ante Mortem. Padahal, keteran­gan atau data dari keluarga sangat dibutuh­kan dalam proses identifikasi. “Kan dicocokan sama keterangan dan data keluarganya, mung­kin cincin kawin atau apa,” ujarnya.

Sementara itu, data manifest yang diterima berjumlah 113 orang yang meru­pakan dari TNI AU, TNI AD dan keluarga. “Kita masih tunggu laporan keluarga,” pung­kasnya.

Berdasarkan data sementara hingga pu­kul 17.50 WIB, sebanyak 47 jenazah telah dibawa dari RSUP Haji Adam Malik. 6 dari TNI AD dibawa ke RS Tri Hijau, selebihnya dibawa ke Lanud Soewondo. Sementara 33 jenazah telah diterbangkan baik ke Jakarta, Malang, Pontianak, Tanjung Pinang, dan Pe­kanbaru pukul 13.15 WIB.

Rapor Merah Pesawat TNI

Jatuhnya pesawat angkut militer Hercu­les C-130 bernomor register A-1310, meru­pakan musibah keempat yang dialami Pan­gkalan Udara Abdulrachman Saleh dalam sepuluh tahun terakhir.

Data yang dihimpun BOGOR TODAY, mencatat pangkalan yang bermarkas di Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu telah kehilangan total empat pesawat dengan korban jiwa 33 orang, terdiri atas 20 anggota TNI Angkatan Udara—termasuk 12 awak pesawat Hercu­les A-1310—dan 13 orang sipil. Menariknya, seluruh pesawat jatuh di bulan dan tanggal yang berdekatan dan hampir sama.

Kecelakaan pertama terjadi pada Ju­mat, 22 Juli 2005. Pesawat tempur taktis OV-10 Bronco TT-1011 jatuh di Gunung Limas, Desa Gadingkembar, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Kecelakaan ini menewaskan Mayor (Penerbang) Robby Ibnu Robert dan Letnan Dua (Pen­erbang) Harchus Aditya Wing Wibawa. Persis berselang dua tahun, OV-10 Bronco TT-1014 jatuh di ladang tebu Dusun Bunut, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis, Ka­bupaten Malang, Senin, 23 Juli 2007. Lokasi kejadian berjarak 1,5 kilometer dari ujung landasan pacu pangkalan. Letnan Dua (Pen­erbang) Eliseus Quinta Rumiarsa tewas, sedangkan Mayor (Penerbang) Danang Setyabudi, sang instruktur, berhasil meny­elamatkan diri dengan kursi pelontar.

Dua kecelakaan tersebut mengurangi jumlah OV-10 Bronco menjadi tinggal tujuh unit. Sebelumnya, di era 1990-an, satu unit Bronco juga jatuh. Akhirnya, Markas Besar TNI Angkatan Udara menghentikan seluruh pengoperasian OV-10 Bronco. (*)