Untitled-5Saat musim kering, jumlah nyamuk biasanya mengalami peningkatan. Serangan berbagai penyakit pun datang mengintai. Gigitan kecil nyamuk, bisa jadi ancaman besar bagi kesehatan. Karena itu, kita patut waspada.

Oleh : RIFKY SETIADI
Email: [email protected]

Peneliti Peruba­han Iklim dan Kesehatan Ling­kungan dari Universitas In­donesia, Dr Budi Haryanto, SKM, MSPH, MSc, men­gatakan bahwa memang secara umum, ada kaitan antara jumlah nyamuk dengan cuaca dan musim. Pada musim kemarau, jumlah nyamuk memang rata-rata lebih banyak dari­pada biasanya. “Karena nyamuk kan bersarangnya di genangan air. Ketika musim kemarau, genangan air memang sedikit tapi ada, tidak terganggu, tidak mengalir jadinya membuat nyamuk bersarangnya lebih tenang, perkembang­biakannya pun lebih ban­yak,” tutur Budi

Penelitian mengung­kap bahwa dengan suhu bumi yang makin panas karena perubahan iklim, maka banyak nyamuk yang akhirnya mengalami pe­rubahan siklus hidup. Jika dulunya jentik membutuh­kan waktu 12-14 hari untuk berubah menjadi nyamuk dewasa, sekarang hanya butuh waktu 9 hari aja. Hal ini membuat frekuensi makan nyamuk meningkat akibat bentuk tubuhnya yang mengecil. Itulah se­babnya, kita perlu mewas­paai penularan penyakit lewat nyamuk yang sering mewabah pada musim ke­marau. Tentu saja, gang­guan nyamuk juga tak han­ya sekedar mengakibatkan istirahat kita menjadi tidak sehat dikala tidur. Berb­agai penyakit akibat gigitan nyamuk dan iklim di musim kering perlu diwaspadai.

Baca Juga :  Jangan Dianggap Sepele 8 Gejala Flu Saat Musim Penghujan

Nyamuk yang men­gisap darah kita adalah nyamuk betina. Tujuannya bukan untuk makanan, tetapi untuk mendapat­kan protein guna pemben­tukan telur. Satu gigitan nyamuk bisa berarti maut. Pemberantasan nyamuk juga tidak mudah karena ia mudah berkembang biak. Mereka juga makin kebal pada insektisida yang biasa kita pakai dan cepat ber­pindah tempat.

Nyamuk terutama men­jadi masalah perkotaan di negara-negara berkem­bang yang tata kotanya kurang baik, serta banyak terdapat kawasan permu­kiman kumuh. Namun demikian, nyamuk juga menjadi masalah global. Pada tahun 1960-an, pe­nyakit demam berdarah hanya ada di 9 negara. Kini, penyakit itu bisa ditemui di lebih dari 100 negara. Itu artinya, separuh pen­duduk bumi rentan men­galami penyakit ini. Menu­rut WHO, dalam setahun sebanyak 1 miliar orang ter­infeksi demam berdarah, dan satu juta orang menin­ggal akibat penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini.

Di Afrika, jenis nyamuk yang berbahaya adalah culex, penyebab penya­kit radang otak atau biasa disebut West nile virus. Ada pula penyakit demam kuning (yellow fever) yang hingga saat ini belum ada obatnya. Kasus demam kuning meningkat pesat sejak tahun 1980-an kare­na penurunan kekebalan tubuh manusia, penggun­dulan hutan, perubahan iklim, dan peningkatkan perpindahan manusia.

Baca Juga :  Waspada, Ini Perbedaan Gejala DBD dan Chikungunya

Di Indonesia, penyakit yang mengenai manusia melalui vektor nyamuk, selain demam berdarah adalah penyakit malaria dan cikungunya. Penya­kit malaria ditularkan oleh nyamuk anopheles, sedangkan cikungunya ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang juga menyebarkan penyakit demam berdarah. Gejala penyakit cikungunya ini termasuk demam menda­dak yang mencapai 39º Celsius, nyeri pada persen­dian terutama sendi lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan, serta tulang be­lakang yang disertai ruam (kumpulan bintik-bintik ke­merahan) pada kulit.

Tak hanya itu, kema­rau juga mengundang tu­runnya berbagai kondisi kesehatan tubuh, seperti dehirasi yang kadang tidak disadari. Kondisi kering dan lembap juga menjadi tempat ideal berkembang­nya jamur. Sehingga, pada musim kemarau, banyak makanan yang cepat basi. Catatan kasus kesehatan memperlihatkan bahwa ke­banyakan kasus keracunan terjadi pada musim kema­rau. Karena itu, perhatikan tempat penyimpan makan­an. Air bersih pada musim kemarau biasanya berubah menjadi keruh dan kotor. Karena itu, pastikan me­masak atau menyaring air hingga benar-benar bersih sebelum digunakan atau dikonsumsi.(*)