Untitled-3Berbicara mengenai fitri, kita semua di bulan syawal ini di­harapkan dapat menjadi kem­bali bersih, suci karena setelah proses berpuasa satu bulan penuh yang kita lalui maka di Idul fitri kita bersilaturahmi saling memaafkan.

Memberi maaf dan mau memafkan kesalahan orang lain. Sehingga disebut­lah kita kembali ke fitri, kembali suci karena semua kesalahan dan kekhilafan yang kita lalui di waktu lalu telah dimaaf­kan. Namun setelah dimaafkan bukan berarti kita bisa berbuat dosa kembali, melainkan benar benar memperbaiki diri dan tidak mengulang kekhilafan dan kealfaan yang pernah kita perbuat baik yang disengaja maupun tidak disengaja pada orang lain, begitulah kira-kira hi­jabers makna kembali ke fitri.

Baca Juga :  Ini Struktural MWC NU Kecamatan Bogor Tengah Masa Khidmat 2021-2026

Berbicara fitri, proses ketika kita mampu memaafkan kesalahan orang lain, subhanallah itu adalah sesuatu hal yang sangat luar biasa. Karena memberi maaf tentu sangat indah dan berbudi luhur. Tidak semua orang dapat den­gan mudah memafkan kesalahan orang lain. Terkadang maaf di mulut tapi tidak di hati. Terkadang pula perkataan tidak sesuai dengan perbuatan. Dalam per­kataan memaafkan tetapi aplikasi dalam perbuatan tidak semudah itu. Maka diperlukan niat yang tulus, keikla­san hati, dan ketegaran sese­orang dalam mem­beri maaf.

Baca Juga :  PBESI Bakal Gandeng Kemendikbud Untuk Menjadikan Esport Sebagai Ekstrakulikuler

Dimaafkan bukan berarti lalu menyalahgunakan kesempatan yang diberikan. Ketika hijaber sudah di­maafkan akan kesalahan yang pernah kita perbuat. Jangan semena-mena dan seenaknya mengulangi kembali kes­alahan yang telah diperbuat. Amanah adalah mahal. Jadi mesti dipelihara dan dijaga. Bagaimana cara menjaga aman­ah? Diantaranya adalah dengan mem­perbaiki diri atau bermuhasabah. Lalu tidak menyia-nyiakan amanah dengan berusaha tidak berbuat dosa lagi atau tidak mengulang kembali kesalahan. Dengan demikian maka kita akan benar benar kembali ke fitri.

OLEH: DEWI PELANGI
[email protected]