BOGOR, TODAY – PEMUDA berkulit putih dan tipis ketika itu keluar menuju Syam untuk keg­iatan perniagaannya. Di sana ia mendapatkan keuntungan yang besar. Di tengah-tengah per­jalanan kembali, ia ingin beristirahat sejenak. Ia tidur bersama kawan-kawannya. Namun ia men­dengar suara memanggil, “Wahai orang-orang yang tidur, bangkitlah karena Ahmad telah mun­cul di Makkah!”

Pemuda tersebut yang mempunyai nama Utsman bin Affan bin Abi Al-Ash bin Umayyah sebelumnya tidak mengetahui bahwa Allah SWT telah mengutus Muhammad SAW kepada semua manusia. Waktu itu hanya sedikit orang yang mengetahui kenabian dan kerasulan beliau, di antara mereka ini adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Pada suatu hari Utsman bin Affan masuk ke rumahnya dengan keadaan bersedih hati setelah mendengar kabar akan pernikahan Ruqayyah binti Rasulullah S.a.w. dengan Atabah bin Abi La­hab. Karena Ruqayyah adalah wanita yang can­tik jelita. Bibi Utsman yang bernama Sa’di binti Kariz dan yang berprofesi sebagai dukun datang kepadanya. Bibinya ini memberi kabar gembira kepadanya bahwa ia akan mengawini Ruqayyah. Di samping itu, ia akan menjadi pengikut Nabi yang mengajak pada ajaran tauhid dan menin­ggalkan menyembah berhala. Setelah kembali dari Syam, Utsman berpikir mengenai apa yang didengar dari bibinya dan suara yang memang­gilnya ketika ia dan kawan-kawannya sedang beristirahat dalam perjalan pulang. Ia menjadi berharap bertemu dengan Nabi yang baru ini. Akan tetapi, siapa yang menunjukkannya?

Baca Juga :  MENDIDIK DENGAN HATI

Allah menjadikan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai jalan bagi Utsman untuk sampai kepada Rasulullah SAW. Abu Bakar menunjukkannya, maka ia pun lalu pergi kepada Rasulullah SAW. Beliau berkata kepadanya, “Wahai Utsman, terimalah orang yang menyeru kepada Allah.” Utsman menerima seruan Nabi ini dan masuk Islam. Dengan demikian ia menjadi orang yang kelima atau keenam di antara orang-orang yang masuk Islam pertama kali.

Utsman bin Affan adalah seorang pemuda Quraisy yang terkemuka. Ia mempunyai harta yang melimpah, berakhlak mulia, dan memi­liki nasab yang terhormat di kaumnya. Bahkan terdapat seorang perempuan Quraisy ketika menimang anaknya mengatakan: “Aku menyay­angimu dan Ar-Rahman, seperti cinta Quraisy terhadap Utsman,”

Setelah orang-orang mengetahui Utsman masuk Islam, mereka menjadi berubah sangat benci kepadanya. Karena seorang lelaki sekal­iber Utsman ketika masuk Islam, maka keisla­mannya ini akan menyebabkan banyak pemuda di Makkah yang mencintai Utsman juga masuk Islam dan meniru jejaknya. Seperti banyak sa­habat yang disiksa karena masuk Islam, Utsman bin Affan disiksa pamannya Al-Hakam bin Abi Al-Ash. Utsman diikat dengan tali-tali dan dice­gah dari makan. Pamannya berkata kepadanya, “Kembalilah kepada agama bapak-bapakmu, demi Allah aku tidak meninggalkanmu sampai kamu meninggalkan agama Muhammad.”

Baca Juga :  MENDIDIK DENGAN HATI

Utsman sabar dan berharap pahala Allah. Ia menanggung siksaan di jalan Allah. Al-Hakam tidak menemukan cara penyiksaan yang lain selain siksaan setan. Al-Hakam membungkus Utsman dengan tikar kemudian menyalakan api di bawahnya hingga keluarlah asap. Akibatnya Utsman hampir tercekik mati. Namun suara Ut­sman terdengar lantang, “Tidak! Demi Allah aku tidak akan meninggalkan agamaku, aku tidak akan berpisah dengan nabiku!”

Setiap siksaan yang dibuat pamannya ber­tambah, maka bertambah pula keteguhan Utsman dalam memegang agamanya. Pada akhirnya pamannya putus asa dalam menyiksa hingga ia meninggalkan Utsman.

Utsman bin Affan adalah sahabat nabi dan juga khalifah ketiga dalam Khulafaur Rasyidin. Beliau dikenal sebagai pedagang kaya raya dan ekonom yang handal namun sangat dermawan. Banyak bantuan ekonomi yang diberikannya ke­pada umat Islam di awal dakwah Islam. Usman bin Affan lahir pada 574 Masehi dari golongan Bani Umayyah. Nama ibu beliau adalah Arwa binti Kuriz bin Rabiah. Beliau masuk Islam atas ajakan Abu Bakar dan termasuk golongan Ass­abiqunal Awwalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam). Rasulullah SAW sendiri menggambarkan Utsman bin Affan sebagai prib­adi yang paling jujur dan rendah hati diantara kaum muslimin. (*)