Untitled-4Di sebuah daerah yang berada di pinggiran kota, hiduplah seorang anak laki-laki yang mempunyai si­fat yang sangat pemarah. Anak itu mem­punyai kebiasaan yang sangat buruk, se­tiap hari dia selalu marah-marah dengan alasan yang tidak jelas. Ayah anak itu mu­lai berfikir bagaimana agar anaknya bisa meninggalkan sifat buruknya itu. Akh­irnya sang ayah medapatkan sebuah ide. Sang ayah memberi anak itu sekantung paku dan sebuah palu, kemudian sang anak disuruh untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia se­dang marah.

Pada hari pertama, anak itu telah menancapkan 50 buah paku ke pagar, dengan demikian pada hari itu sang anak telah marah sebanyak 50 kali. Pada hari berikutnya sang anak memakukan lebih sedikit paku dari hari sabelumnya. Se­cara bertahap jumlah paku yang ditan­capkan sang anak semakin hari semakin berkurang. Menurut sang anak menahan amarah itu lebih mudah daripada me­makukan paku ke pagar.

Akhirnya sampai pada suatu hari dimana sang anak betul-betul bisa men­gendalikan amarahnya dan tidak cepat hilang kesabaran. Akhirnya dia memberi­tahukan hal itu kepada sang ayah. Sang ayah hanya tersenyum simpul, kemu­dian sang ayah menyuruh anak itu untuk mencabut sebuah paku setiap hari di saat dia sedang tidak marah.

Hari demi hari berlalu dan anak laki-la­ki itu akhirnya memberitahu ayahnya bah­wa semua paku yang menancap di dinding pagar belakang rumahnya telah berhasil dicabut. Kemudian sang ayah menuntun anaknya menuju ke pagar itu, “anakku, , , kamu telah berhasil menyelesaikan tugas-tugas yang ayah berikan, tapi lihat­lah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah sama seperti sebelum­nya. Saat kamu mengatakan/melakukan sesuatu dalam kemarahan, kata-kata dan perbuatanmu akan meninggalkan bekas seperti lubang ini…di hati orang lain”.

Kita bisa menusukan “pisau” ke tubuh seseorang, kita juga bisa men­cabutnya kembali. Tapi apa yang terjadi, “pisau” itu akan tetap melukai orang itu. Dan parahnya meskipun kita telah me­minta maaf sekalipun luka itu akan tetap ada. Percayalah saat Anda sedang berada dalam kemarahan, hal terbaik yang sebai­knya Anda lakukan hanyalah Diam. (*)