[metaslider id=10807]

Suara dentuman bertahutan diruang yang gelap beralaskan tanah, nampak beberapa lelaki paruh baya asik menempa logam timah.  Dentuman demi dentuman logam timah bercampur tembaga, seakan menjadi saksi menyusuri waktu sejak hampir 300 tahun lalu. Di tempat inilah. Keterampilan membuat gong diturunkan selama 6 generasi dari ayah ke anak dan tak pernah berpindah jalur keturunan, begitu pula lokasinya.

Di Jalan Pancasan No. 17, tak jauh dari pusat kota Bogor, berdiri pabrik gong tertua dan bisa jadi satu-satunya di Jawa Barat. Memang agak sulit membedakan pabrik ini dengan rumah-rumah di tepi Jalan Pancasan yang berdempet dan padat di tepian hiruk-pikuknya Kota hujan.

“Gong Factory”, tertulis jelas berwarna merah di tembok kuning yang sudah hampir pudar. Ya, pabrik gong yang jauh dari popular ini bernama Gong Factory namun  masyarakat Bogor mengenalnya sebagai Gonghom. 

Pintu kayu tak bercat pun terbuka, mengizinkan suara dentuman dari dalam bergelora keluar ruang. Nampak semburan dan bercak lidah api melambung di kegelapan tanpa lampu. Saat itu juga panas menyeruak, membuat sehelai baju terasa terlalu tebal.

Pekerja didalamnya berkumpul memegang palu besi, bergiliran menempa sebuah lingkaran besar berwarna merah memutih, barulah kemudian dikeluarkan dari liputan api membara. Sebagian pekerja tak menggunakan  sehelai baju atasan dikenakan pengrajin karena panasnya ruangan. Besi lingkaran kembali dimasukkan ke dalam tungku api bersuhu 400 derajat Celsius.

Sehari, dua gong besar dapat dihasilkan. Mulai dari mencampurkan timah dan tembaga sebagai bahan dasarnya, kemudian mencetaknya dengan bantuan cetakan tanah liat, menempanya, hingga dibersihkan dari kerak oksidasi yang menghitam. Artinya, untuk menyelesaikan satu set gamelan siap pakai lengkap beserta dudukan gong, bonang, dan saron yang berukir maka perlu satu bulan penuh dengan tiap hari kerja.

Sementara diujung ruangan nampak seorang bapak  tua menumbuk batu keras berwarna hitam. Batu hitam yang disebut karawa  berasal dari cetakan pertama tanah liat yang sudah dibakar dengan suhu tinggi. Bubuk tanah yang dihasilkan dapat kembali digunakan untuk membuat cetakan. Di sampingnya, tak terganggu oleh suara ataupun orang berlalu lalang, seorang penyerut gong mengikir dengan serutan.

(naskah/foto :Kozer)