Opini-1-FirdausSAAT membentuk komunitas baca dengan seorang teman di Kabupaten Bogor, kami mengalami dua kendala utama. Pertama, kami kesulitan menjaring calon pengurus lainnya yang memiliki kesamaan visi sosial dan idiologi gerakan yang berbasis moral. Kedua, rendahnya perhatian pemerintah daerah, khususnya perpustakaan daerah dalam merespon upaya komunikasi yang kami lakukan.

Oleh: FIRDAUS SANDATIKA

Realitas tersebut tentu menjadi tantangan awal kami dalam upaya men­jembatani kebutuhan baca masyarakat dengan pemerintah daerah melalui lembaga perpustakaan, selaku penyedia jasa dan layanan perpustakaan. Padahal kita tahu dan pasti setuju bahwa membaca itu penting. Oleh sebab itu, menjadi beralasan mengenalkan buku dan kegiatan membaca pada khalayak, utamanya pada anak-anak. Mengapa anak-anak? Karena dengan kebiasaan dan kecintaan membaca sejak dini, mereka men­jadi lebih mudah mempelajari apa­pun, termasuk pelajaran di sekolah yang berefek pada meningkatnya prestasi akademik.

Kita juga mahfum bahwa bangsa yang maju pasti memiliki masyarakat yang maju pula. Ma­syarakat yang maju tentu dito­pang oleh masyarakat yang gemar membaca (buku). Komunitas baca (reading society) menjadi prasarat utama menuju advance society. Oleh sebab itu, salah satu sarana penting membentuk komunitas baca adalah perpustakaan.

Posisi perpustakaan menjadi demikian strategis, mengingat masih terbatasnya akses masyara­kat terhadap buku, baik karena harga buku mahal maupun masih kurangnya toko buku. Pada titik itu, kehadiran perpustakaan yang representatif menjadi harapan banyak orang, tak terkecuali ma­syarakat Kabupaten Bogor. Apalagi Kabupaten Bogor—bisa dibilang— menjadi daerah penyangga ibu kota negara yang hal itu menuntut kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang andal sebagai pra­kondisi pembangunan nasional.

Kesadaran Kolektif

Dari kendala pertama yang kami hadapi, kami menyadari sepenuhnya bahwa memasyara­katkan budaya baca memang bu­tuh usaha bersinambungan serta butuh proses dan waktu yang rela­tif tidak sebentar. Perlu adanya ke­sadaran individu yang kemudian berkembang menjadi kesadaran kolektif untuk bersama-sama mewujudkannya. Political will pemerintah selaku pengambil ke­bijakkan selalu ditunggu-tunggu pembuktiannya. Kinerja konkrit pemerintah untuk mau meng­gerakkan seluruh institusi yang ada dalam upaya mendorong kegemaran membaca masyara­kat mutlak diperlukan. Namun, pemerintah tampaknya masih setengah hati dalam menggarap proyek pembangunan manusia melalui peningkatan budaya baca masyarakatnya. Mengandalkan lembaga perpustakaan semata mustahil mimpi, harapan, dan cita-cita tersebut dapat terwujud. Karena perpustakaan bukan satu-satunya lembaga “super power” yang mampu mencetak manusia-manusia cerdas, kreatif, inovatif, dan produktif dengan sekali jadi.

Kedua, kami menangkap pesan bahwa perpustakaan daerah ke­beradaannya dianggap kurang penting oleh pemerintah daerah, bahkan dianggap hanya meng­habiskan kas daerah. Rupanya upa­ya membuat masyarakat cerdas, memiliki keprigelan berbahasa, melek literasi, menjadi mengerti hak-haknya, kreatif dalam meny­iasati hidup, dan kritis terhadap kondisi lingkungan dianggap tidak ada kaitannya dengan pembangu­nan oleh pemilik kuasa birokrasi dan politik di daerah.Kemajuan seluruhnya diukur dengan pem­bangunan infrastruktur (fisik) dan bernilai ekonomi.

Kemudian masih terbatasnya kepala perpustakaan daerah yang berjiwa pemimpin. Kebanyakan para pemimpin belum mampu menjadi figur pemersatu tujuan organisasi. Apalagi memotivasi anak buahnya di tengah label bu­ruk perpustakaan yang dianggap hanya sebagai tempat “buangan,” alih alih memberi insentif kepada staf dan pustakawan yang kiner­janya baik sehingga menciptakan gairah kompetisi yang baik. Bah­kan kepala perpustakaan cend­erung bekerja secara sektoral, misalnya, menganggap bidang pengolahan lebih penting daripa­da bidang layanan. Akibatnya, ada pemeo yang berkembang tak ada uang pelayanan tak jalan.

Baca Juga :  MENDIDIK DENGAN HATI

Berawal dari Membaca

Membaca buku semula bersi­fat personal, tapi kini jadi ko­munal. Itu juga yang biasa kami lakukan di komunitas baca. Kami saling berbagi pengalaman mem­baca, bertukar informasi, berdis­kusi, mengembangkan soft skill, dan lain sebagainya. Bahkan be­rawal dari membaca, kami tebar­kan juga virus menulis. Karena menulis sejatinya membaca dua kali. Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana minat baca masyarakat kita? Terlalu jauh bila kita bertanya tentang budaya baca.Karena minat tentu ber­beda dengan budaya. Minat baru sebatas ketertarikan seseorang terhadap sesuatu. Sedangkan bu­daya merupakan sesuatu yang sudah biasa dilakukan. Bahkan dilakukan secara terus menerus dan bersinambungan. Minat baca masih berkaitan erat dengan ket­ertarikan seseorang, kelompok atau masyarakat terhadap teks atau bacaan. Jenis bacaannya pun masih beragam, bisa buku, koran, majalan, artikel, dan lainnya. Se­mentara budaya baca lebih fokus pada kebiasaan seseorang, kelom­pok atau masyarakat dalam mem­baca buku. Orang yang budaya bacanya sudah terbangun maka hidupnya akan senantiasa diisi dengan membaca. Baginya tiada hari tanpa membaca (buku).

Sebagai upaya menjawab pertanyaan di atas, riset yang dilakukan oleh United Nations Educational, Scientific and Cul­tural Organization (Unesco) me­nyatakan bahwa minat baca ma­syarakat Indonesia berada pada angka 0,001 persen dari populasi penduduknya. Artinya dari seri­bu orang, hanya satu orang yang minat bacanya sudah terbangun. Bahkan, berdasarkan riset lima tahunan yang dilakukan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), Indonesia berada pada urutan ke 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel. Indonesia hanya lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan.Bahkan jauh tertinggal di bawah negara-negara tetangga, seperti, Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Padahal kita tahu bah­wa negara-negara tetangga tidak lebih lama merdeka dari Indone­sia yang hampir seabad merdeka. Kendati hasil riset tersebut masih bisa dipertanyakan dan diperde­batkan kebenarannya. Namun, sebagai motivasi kita untuk bang­kit mengejar ketertinggalan, perlu strategi dan langkah konkrit untuk meningkatkan minat, kegerama­ran, dan budaya baca masyarakat.

Di tingkat lokal, misalnya, ada dua alasan yang seringkali kita dengar ketika menyangkakan bahwa minat baca masyarakat kita rendah.Yakni jumlah pemustaka atau pengunjung perpustakaan setiap harinya dan ragam koleksi buku (baru) yang disediakan.Pada­hal faktor rendahnya minat orang berkunjung ke perpustakaan bisa sajadipicu oleh hal lain di luar “buku”. Misalnya, akses ke lokasi, kenyamanan ruang baca, sikap para staf atau pustakawan, varian layanan, dan sistem sirkulasi—pros­es peminjaman dan pengembalian buku—yang tidak praktis. Keterse­diaan koleksi bahan bacaan pun menjadi hal yang tak terpisahkan.

Baca Juga :  MENDIDIK DENGAN HATI

Jika alasan-alasan di atas benar adanya, maka sebagai langkah konkrit perpustakaan daerah ha­rus terus berbenah diri. Peran perpustakaan sebagai wahana pengembangan minat dan bu­daya membaca serta pembang­kit kesadaran pentingnya belajar sepanjang hayat perlu diimple­mentasikan.Setidaknya ada dua strategi yang bisa dilakukan agar perpustakaan tidak kehilangan peran dan fungsi vitalnya.

Pertama, tetap menjadikan buku sebagai pijakan awal ger­akan, untuk kemudian dikemas dengan beragam program kreatif. Misalnya, pelatihan menulis, be­dah buku dan film, perlombaan berbasis kreativitas, story telling, dan kegiatan lainnya yang bertu­juan menarik minat pengunjung datang ke perpustakaan. Alhasil, perlahan tapi pasti, masyarakat akan tergerak dan termotivasi un­tuk membaca (buku).Kita semua pasti setuju bahwa buku masih menjadi guru terbaik, karena buku tak pernah jemu menggurui kita.Demikian nubuwat yang su­dah sejak lama pula kita dengar.

Pentingnya membaca buku untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan atau membangun sebuah peradaban telah dirasakan sekaligus dibuktikan oleh banyak pemimpin bangsa di dunia.Seja­rah mencatat bahwa orang-orang besar tidak dilahirkan tapi diben­tuk dan diciptakan. Sebut saja, Karl Marx, sang bibliomania yang lebih menghargai buku dari pada nyawa anaknya. Berkat kecinta­annya pada membaca (buku), ia­muncul sebagai pemimpin yang disegani. Ia bahkan mampu mela­hirkan Marxisme sebagai karya monumentalnya.

Selain itu, ada sederet nama lainnya, seperti Stalin, sang dikta­tor pecandu buku. Gandhi yang menjadi mahatma karena memba­ca, Hasan Al-Banna, sang pemba­haru yang tidak menulis buku tapi melahirkan banyak buku, Obama, sang presiden fenomenal karena kutu buku, dan Soekarno yang menggugat imperialisme dengan membaca. Bahkan, Kang Ajip Rosidi, seorang budayawan sunda fenomenal yang hidup sukses tan­pa ijazah, juga karena membaca.

Kedua, membangun kemi­traan antara perpustakaan daerah dengan perpustakaan komunitas sekaligus bekerjasama dengan komunitas-komunitas baca yang ada.Komunitas baca bisa menjadi jembatan untuk memasarkan per­pustakaan dan budaya baca ma­syarakat.Karena selain menjadi pengunjung setia perpustakaan, mereka juga diharapkan mampu menarik banyak orang untuk ber­kumpul sambil membaca. Bahkan pergerakan komunitas baca ini tidak lagi terbatas pada kegiatan baca-tulis apalagi “buku.” Lebih luas, komunitas baca ini telah am­bil bagian dalam semua kegiatan yang bergandengan dengan aspek ekonomi, politik, teknologi, pen­didikan, sejarah, dan gaya hidup. Tak jarang, komunitas ini juga menjadikan ikon budaya pop— musik, jalan-jalan, bermain, film, fotografi, internet, game online, animasi, dan ngobrol bareng—se­bagai titik pijakan.Semua itu bisa digerakkan secara bersamaan.

Mengingat berbagai keterba­tasan yang ada, perpustakaan dae­rah sudah saatnya mengembang­kan kemitraan dan bekerja sama dengan seluruh komponen ma­syarakat, tanpa terkecuali masyara­kat di luar bumi tegar beriman. Ked­uanya mesti dipertemukan menjadi kekuatan yang efektif. Sebab, tanpa keterlibatan masyarakat, upaya me­masyarakatkan perpustakaan dan budaya baca masyarakat akan men­jadi sia-sia.

#Penulis adalah Pengurus Majelis Sinergi Kalam ICMI Jabar
dan Ketua Masyarakat Perpustakaan (Mapusta) Kab. Bogor