Berita-2-(1)JAKARTA, Today – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menya­takan kondisi permodalan industri perbankan dalam keadaan yang kuat. Seperti diketahui, Senin kemarin (27/7/2015), nilai tukar ru­piah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka di kisaran Rp13.466, melemah diband­ingkan posisi pada penu­tupan perdagangan akhir pekan lalu di level Rp13.440.

Ketua Dewan Komision­er OJK, Muliaman D Hadad mengatakan OJK terus me­mantau gerak nilai tukar rupiah. Otoritas juga me­nyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk mengatasi risiko di industri keuangan akibat pelemahan rupiah.

Baca Juga :  Atlet Menembak Kota Bogor, Muhammad Hilman Persembahkan 2 Emas di Peparnas XVI Papua 2021

“Kami selalu antisipasi kemungkinan, dengan ber­bagai skenario pesimistis, moderat atau optimistis. Kami juga terus pantau vola­tilitas enggak cuma nilai tu­kar rupiah tetapi juga tingkat suka bunga,” ujarnya di Ge­dung OJK, Senin (27/7/2015).

Muliaman menuturkan OJK terus melakukan peman­tauan kepada industri per­bankan khususnya terkait struktur permodalannya. Hal itu perlu dilakukan ka­rena risiko yang bisa dis­ebabkan karena pelema­han nilai tukar rupiah tidak hanya berpengaruh pada risiko likuiditas saja, namun juga risiko lainnya seperti risiko kredit bermasalah dan kekuatan modal

Baca Juga :  Peringati Hari Pohon Sedunia, Rimba dan Lintas Komunitas Pencinta Alam Tanam Pohon di Gunung Kuta

“Secara rutin, tiap hari, kami lakukan stress test dan secara individual kami juga lakukan. Termasuk mitigasi lembaga keuangan terhadap risiko yang berkembang. Lev­elnya kami ubah-ubah, eng­gak ada masalah,” katanya.

Kendati demikian, OJK menegaskan dari segi per­modalan, industri perban­kan Indonesia masih cukup kuat dan aman.Capital Ade­quacy Ratio (CAR)perbankan nasional masih tertinggi di negara Asean. “Situasi per­modalan bank cukup kuat di Asean,” tutupnya.

(Adil | net)