1503478_771333036214554_2138118233_nSelain soal rasa, sukses atau tidaknya bisnis kuliner bisa dilihat dari kemampuan para pelaku usaha yang kretif dan pandai membaca tren yang tengah berkembang di masyarakat. Misalnya, saat ini makanan penutup atau dessert tengah digandrungi banyak kalangan sebagai makanan ringan untuk teman kongkow. Nah, peluang ini pula yang dilihat oleh Adrian Christopher Agus bersama sang adik, Euginie Patricia Agus dengan menjual silky pudding atau puding sutera bernama Puyo.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Berbeda dengan pud­ing biasa, seperti na­manya, puding sutera memiliki tekstur yang lembut lanta­ran menggunakan lebih banyak susu. Namun begitu, jenis pud­ing ini juga terlihat kenyal sep­erti agar. Oleh karena itu, cara menikmati produk ini cukup diseruput saja atau bis ameng­gunakan sendok.

Ketika bicara silky pudding, nama Puyo tak boleh dilewatkan. Pasal­nya, Puyo bisa dibilang pelopor produk sik­ly pudding di Jabodetabek. Adrian memulai usahanya sejak Juli 2013. Resep puding lembut didapat dari sang ayah yang memang hobi mem­buat puding.

Ia mengatakan, silky pudding secara umum tampak sama dengan puding biasa. Akan tetapi, ada perbedaan dalam proses pembuatan sehingga Puyo bisa punya tekstur yang sangat lembut. Namun, bila cup kemasan Puyo dibalikkan pun, isi pudingnya tidak tumpah. Bah­an baku utama pembuatannya ialah susu nabati.

Awalnya, Puyo punya lima varian rasa. Seka­rang, Adrian menambah jumlahnya sehingga Puyo memiliki sembilan varian rasa, seperti taro, bubble gum, choco, green tea, hazelnut, leci, mangga, dan jeruk. Tiap cup Puyo dibanderol dengan harga Rp 12.500.

Setelah sukses dengan produk silky pudding, Adrian menambah varian produk, yaitu silky drink. Produk ini, kata Adrian, merupakan minu­man yang diberi topping puding Puyo. Harga minuman ini ialah Rp 23.000 per cup.

Adrian mengungkapkan, potensi usaha ini sangat bagus. Terbukti pada 2013, Puyo hanya dijual di mal Living World, Alam Sutera. Nah, sepanjang tahun lalu, Puyo me­nambah enam gerai penjualan. Sementara, tahun ini Puyo kembali menambah delapan gerai. “Jadi totalnya ada 14 gerai Puyo di Ja­bodetabek,” sebut Adrian.

Kapasitas produksi silky pudding di Puyo saat ini mencapai 3.000 cup per hari. Dengan potensi usaha yang kinclong, tak heran banyak pemain lain yang juga melirik usaha yang sama. Adrian menyadari persaingan usaha semakin ketat.

Namun, ia yakin Puyo tetap unggul karena dari segi rasa dan tekstur, Puyo lebih baik dari produk lainnya. “Produk lain ada yang kurang manis, ada juga yang teksturnya tak lembut,” im­buhnya bernada promosi.

Begitu pula dengan Yunita. Dia melihat poten­si usaha ini cukup bagus setelah melihat pesanan yang tiada henti. Apalagi, bisnis dessert ini meny­enangkan karena bisa dibuat dalam waktu cepat dan gampang proses pembuatannya. “Jadi, saya bisa menerima pesanan satu hari sebelumnya, terutama dari konsumen yang punya acara men­dadak,” kata dia. Profit yang bisa dikantongi dari usaha ini berkisar antara 40-50 persen.

Awalnya, Adrian juga memproduksi puding di dapur dan garasi rumahnya. Namun, seiring pertumbuhan permintaan, tempat itu tak lagi bisa menampung kebutuhan produksi. Sekarang, Adrian punya pabrik untuk memproduksi Puyo di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD). Adrian men­gatakan, ia menyewa ruko dua lantai di kawasan itu agar biaya sewa tidak terlalu mahal. Selain itu, ada lima gerai Puyo di daerah Tangerang Selatan.

(KTN)