Opini-2-GiaSedekahpun sangat ban­yak ragamnya, tidak harus pemberian kita berupa uang, makan­an, atau benda-benda yang bermanfaat tetapi dengan memberikan nasehat saja ke­pada orang lain sudah termasuk sedekah kita. Apalagi sedekah berupa nasehat kita itu dapat merubah seseorang dari perilaku yang buruk yang biasa ia lakukan berubah kea rah manusia yang baik. Inilah yang sangat diajar­kan oleh Islam dalam kehidupan sosial. Anjuran ini sebagai wujud bahwa agama Islam sangat mem­perhatikan tetangga dan kerabat yang terdekat, janda-janda, lan­sia, fakir miskin dan anak-anak yatim. Bahkan ajaran Islam san­gat menganjurkan kepada umat­nya untuk sayang kepada tetang­ga terdekat yang membuktikan betapa bentingnya sedekah atau pemberikan kepada orang lain.

Anjuran sederhana yang dia­jarkan dalam islam pada saat tet­angga yang disamping kita mera­sakan kesusahan maka kita juga merasakan kesusahan itu. Salah satu yang bisa digunakan untuk menolong dan bertetangga den­gan baik yaitu memberikannya makan atau berupa uang yang sedikit bisa meringankan beban hidup. Sekurang-kurangnya ada beberapa pemberian terbaik atau sedekah yang terbaik yang dikategorikan.

Sedekah dikatakan terbaik jika yang memberikannya masih dalam keadaan miskin dan yang kaya tidak takut miskin untuk memberikan barang miliknya kepada orang lain. Sedekah dari orang miskin dikatakan ter­baik karena orang yang masih kekurangan tetapi masih ingin berbagi kepada orang lain. Justru inilah yang sulit kita cari, justru seseorang bersedekah menunggu dirinya mampu terlebih dahulu padahal yang namanya sedekah tidak harus uang yang banyak yang harus diberikan kepada yang membutuhkannya. Kita bisa memberikan nasehat sebagai bentuk sedekah dan partisipasi kita sehingga sedekah yang ter­baik pada saat kita miskin.

Sedekah juga dikatakan se­dekah terbaik jika orang kaya yang terus memberikan harta bendanya kepada orang lain tanpa takut miskin sebab sudah tertanam dalam dirinya bahwa bersedekah akan ada imbalan du­niawi berupa rezeki yang bertam­bah banyak dan jaminan untuk masuk ke surga sebab sedekah itulah salah satu ibadah yang tak pernah terputus mekipun kita meninggal dunia. Di samping itu, pemberian yang diberikan ke­pada orang lain harus memenuhi mutu atau kualitas. Jangan sampai pemberian kita berupa makanan ataupun uang serta benda lain tidak memenuhi mutu yang dipersyaratkan oleh agama terutama mutu dari makanan yang kita berikan.

Baca Juga :  MENDIDIK DENGAN HATI

Perlu diperhatikan pembe­rian yang diberikan kepada orang lain jangan sampai membuat si penerima justru sakit hati dengan apa yang telah kita berikan. Pada saat memasak saja kemudian tetangga yang berada disamp­ing merasakan sedapnya baunya makanan maka jelas harus di­berikan sebagian kepadanya. Jika pemberian yang seperti itu yang dilakukan maka jelaslah tetangga akan merasakan sedikit lezatnya dari apa yang telah dimasak oleh tetangganya.

Kasus seperti di atas bisa di­katakan pemberian yang cukup baik tetapi bagaimana jadinya jika ada sisa makanan dirumah seseorang maka makanan itu bi­asanya diberikan kepada orang lain tanpa melihat mutunya yang sudah menurun. Sudah lama tersimpan di kulkas sehingga mengeluarkan bau busuk yang ti­dak sedap baunya. Bahkan benar-benar sudah beracun dan makan­an sisa tadi juga sudah hampir basi tetapi karena merasa sayang untuk dibuang maka diberikan­lah kepada tetangga. Makanan yang kita berikan juga harus makanan yang bener-benar baik, artinya bukan makanan yang kita panaskan berulang-ulang kemu­dian karena kita bosan justru tet­angga yang harus mencicipi dari mutu jelek makanan kita itu.

Pemberian yang seperti ini sama artinya kita memberikan makanan yang tidak layak kepada orang lain dan memberikannya karena takut basi bukan karena niat kita yang tulus untuk mem­berikan kepada orang lain. Mutu pemberikan yang kedua yang harus diperhatikan dari mana asalnya pemberian itu. Jika hasil pemberian hasil dari tindakan korupsi maka hasil pemberian berupa uang ataupun yang telah dialihkan dalam bentuk makanan tidak lagi bermutu sehingga se­makin sulit dirasa jika ada imba­lan yang akan didapatkan berupa pahala yang banyak dari pembe­rian itu. Bahkan orang yang me­nyedekahkan hasil korupsinya kemudian dimakan dan terpakai oleh orang lain maka segitu juga banyaknya dosa yang ia dapatkan sesuai dengan bunga sedekah yang halal yang tidak pernah ter­putus. Lantas berapa dosa yang harus ditanggung pada saat se­dekah itu bukan sedekah yang halal.

Baca Juga :  MENDIDIK DENGAN HATI

Di samping mutu dan kuali­tasnya yang kita perhatikan maka kita harus menjadi manusia yang belajar ikhlas untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Tidak mengharapkan imbalan dan siap pula suatu waktu orang yang di­berikan sedekah tidak pula mem­balas seperti apa yang telah kita berikan. Belajar ikhlas menunjuk­kan bahwa kita harus rela dan ti­dak akan mengungkit-ungkit apa yang telah kita berikan kepada orang lain. Selain iklas maka kita juga tidak boleh menghitung-hi­tung apa yang telah kita berikan kepada orang lain sebab hal itu bisa menjadi duri baginya dike­mudian hari sehingga kita harus pula menerima tanggungjawan atas perbuatan kita itu.

Hindari juga sikap pamer atas apa yang telah diberikan. Tidak memberi tahu kepada orang lain bahwa dirinya telah memberikan sekian dan sekian kepada orang-orang tertentu. Sedangkan yang terakhir, kita juga tidak boleh mengungkit-ungkit apa yang telah diberikan kepada orang lain. Jika kita bisa menjadi manusia yang seperti ini maka tergolonglah apa yang kita berikan menjadi berkah hidup kita didunia dan menjamin banyaknya pahala yang tak per­nah terputus untuk kita pada saat meninggal dunia. Jika ada yang bersedekah bukan dengan kriteri yang kita maksudkan maka san­gat sulitlah baginya menerima banyaknya pertanggungjwaban atas apa yang telah diberikannya kepada orang lain sebab setiap apa yang kita berikan kemudian kita tidak iklhlas tetapi justru kita ingin juga ia menolong kita suatu waktu maka tergolonglah pula pemberiannya bukan lagi pem­berikan yang tergolong pembe­rian terbaik. (*)

# Oleh: BAHAGIA, SP., MSC.
Penulis, Peneliti, dan Dosen Tetap Fakultas Agama Islam Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tengah menempuh Pen­didikan S3 di IPB.