KANADA TODAY – Populasi beruang ku­tub terancam mengalami penurunan di sebagian besar Samudera Arktik jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, yang me­nyebabkan mencairnya es wilayah kutub.

vei Geologi Amerika Serikat (USGS) yang dirilis awal Juli lalu menunjukkan bahwa kegagalan penduduk dunia dalam mengurangi polusi terkait dengan pem­bakaran bahan bakar fosil, kemungkinan akan menyebabkan penurunan populasi beruang kutub di Alaska dan di tempat lain, kecuali di wilayah Arktik di daerah Kanada Utara dimana es musim panas bisa bertahan lebih lama. Menurut Badan Perikanan dan Margasatwa AS, populasi beruang kutub dunia jumlahnya menyen­tuh angka 20 ribu sampai 25 ribu. Beruang kutub dapat tumbuh hingga setinggi 3,35 meter dengan beratnya bisa mencapai 635 kilogram. Mereka menggunakan bongka­han es yang mengapung untuk mencari mangsa mereka, kawin serta melakukan perjalanan jauh tanpa harus berenang yang akan menguras energi.

Di AS, beruang kutub ditetapkan seb­agai hewan yang terancam punah setelah diputuskan bahwa perubahan iklim dapat mengancam kelangsungan hidup mamalia ini.

Ahli ekologi dari USGS menggunakan model baru untuk memprediksi tingkat gas rumah kaca, menyimpulkan bahwa beruang kutub akan mengalami tantangan berat dalam beberapa dekade mendatang, bahkan jika pemanasan iklim tetap stabil.

Jika tidak terjadi pengurangan polusi bahan bakar fosil, maka jumlah beruang kutub akan menurun 25 tahun lebih cepat daripada jika tingkat gas rumah kaca me­muncak pada 2040 dan kemudian menu­run sampai akhir abad ini. “Cairnya es ini sangat substansial, dan keberadaan anjing laut yang berkurang, akan menjadi faktor besar dalam berkurangnya populasi beru­ang kutub,” kata Todd Atwood, seorang ahli biologi dari USGS.

Atwood dan timnya menemukan bah­wa eksplorasi minyak dan gas serta perbu­ruan oleh masyarakat adat hanya memiliki dampak kecil terhadap pengurangan pop­ulasi beruang di kutub utara, jika diband­ingkan dengan faktor mencairnya es laut.

(Yuska Apitya/net)