IMG_00171-1428499039JAKARTA, TODAY — Pelun­curan bahan bakar baru, Per­talite, kembali menuai polemik. Kali ini, yang menyoal adalah Komite Penghapusan Bensin Bertimbal. Mereka menolak diluncurkannya bahan bakar minyak baru bernama Pertalite atau RON 90. Musababnya, ba­han bakar tersebut tidak sesuai dengan teknologi kendaraan di Indonesia yang sudah mener­apkan standar Euro 2.

Direktur Eksekutif KPBB Ahmad Safrudin menjelaskan, kendaraan bermotor di Indo­nesia minimal menggunakan minyak RON 91 atau Perta­max. “Kami sejak awal meno­lak munculnya Pertalite,” kata Ah­m a d , Minggu

 RON 91. Jika menggunakan Pertalite atau Premium, motor akan cepat men­galami kerusakan. “Proses pembakaran menjadi tidak maksimal,” ucap Ahmad.

Pertamina dan pelaku industri oto­motif, menurut Ahmad, belum siap dengan penerapan standar yang lebih tinggi. Ditambah lagi dengan permin­taan tinggi masyarakat terhadap bahan bakar minyak murah. “Akhirnya kuali­tas kendaraann juga diturunkan agar bisa memakai RON 88 dan RON 90,” katanya.

Pekan lalu, Pertamina memulai uji pasar Pertalite di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Selepas pengujian, bensin tersebut rencananya dijual seharga Rp 8.400 per liter. Penetapan harga men­gacu pada indeks pasar minyak Singa­pura dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. PT Pertamina melakukan uji coba pasar untuk Per­talite dengan harga Rp8.400 per liter.

Uji coba dilakukan di 101 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jawa per 24 Juli 2015. Rinciannya, 40 unit di Jakarta dan Bandung, 28 SPBU di area peristirahatan Jawa Barat, serta 33 SPBU di Surabaya dan sekitarnya.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan, uji coba Per­talite dilakukan untuk melihat respons konsumen. Jika hasil uji coba positif, penjualan akan diperluas hingga se­luruh SPBU di Jawa dan Bali. “Market­ing Operation Regional III dan IV telah melakukan sosialisasi kepada SPBU pada 14 Juli 2015,” katanya.

Dia menyatakan Pertalite membuat pembakaran pada mesin kendaraan lebih baik dibandingkan dengan Pre­mium RON 88. Pertalite sesuai untuk kendaraan bermotor roda dua hingga kendaraan multi purpose vehicle uku­ran menengah.

Terpisah, Pihak Kementerian En­ergi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan perizinan Pertalite dan uji laboratorium telah rampung. Di­rektur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) I.G.N. Wiratmaja Puja mengungkapkan, spesifikasi izin Per­talite telah dikeluarkan. Selain itu, pen­gujian laboratorium di Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi serta perguruan tinggi juga telah dilakukan. “Hasilnya produk ini sesuai dengan spesifikasi dan tingkat keamanan yang disyaratkan,” katanya.

Baca Juga :  Kepala Diskominfo Terpilih Jadi Ketua IKAPTK Kota Bogor

Sementara itu, Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengemu­kakan perseroan mengambil marjin 5% dari harga Pertalite sebesar Rp8.400 per liter. Kebijakan keuntungan yang rendah dari Pertalite agar harga bisa ditekan.

Dia menargetkan konsumsi Pre­mium akan beralih ke Pertalite dengan besaran harga tersebut. Di sisi lain, dia tidak mengkhawatirkan konsumen ben­sin RON 92 dengan merek Pertamax akan berpindah ke Pertalite. Selisih harga Premium dan Pertalite mencapai Rp1.000 per liter. Sementara, selisih harga Pertalite dan Pertamax menca­pai Rp900 per liter.

Menurutnya, konsumen Premium akan mendapatkan efisiensi sebesar 10% hingga 16% jika menggunakan Per­talite. Kendati begitu, Ahmad berjanji Premium tidak akan menghilang dari pasaran meskipun Pertalite mulai di­jual.

Produksi Pertalite akan dilakukan dengan mencampur antara high octane mogas component (HOMC) dan nafta. Namun, dia menampik jika produksi Pertalite semakin menambah impor HOMC. Menurutnya, produksi Per­talite bisa dipenuhi dari Kilang Balo­ngan. “Kita punya Kilang Balongan dan nanti ada Cilacap, dua kilang ini untuk mememuhi kebutuhan dalam negeri,” tuturnya.

Jika hasil uji coba tidak memuas­kan, Ahmad belum bisa menyampai­kan langkah apa yang akan ditempuh perseroan. “Kami evaluasi menyeluruh nanti,” tegasnya

Manajemen PT Pertamina (Perse­ro) melansir telah terjadi peningkatan yang signifikan terkait penjualan ba­han bakar minyak (BBM) barunya yak­ni Pertalite yang dirilis, Jumat (24/7). Dua hari pasca peluncuran Pertalite, penjualan bensin berkadar oktan 90 itu diklaim telah diterima masyarakat di sejumlah daerah.

Diantaranya masyarakat di wilayah Surabaya dan sekitar yang pada 25 Juli 2015 penjualan Pertalite di 33 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) telah menembus 91,4 kiloliter (kl), atau meningkat 86,6 pers­en ketimbang penjualan di hari per­tama.

Sedangkan di kawasan Mojokerto, Jawa Timur penjualan Pertalite di 11 SPBU tercatat mencapai 26.523 liter, atau meningkat 269 persen diband­ingkan penjualan di hari pertama se­banyak 9.859 liter. “Di satu SPBU di daerah tersebut angka penjualannya kemarin mencapai 4.781 liter. Ini tentu sangat luar biasa dan kami syukuri karena menunjukkan konsumen kita memberikan apresiasi yang baik terha­dap produk baru Pertamina. Adapun, penjualan Pertamax juga relatif stabil,” kata Vice President Corporate Commu­nication Pertamina Wianda Puspone­goro, Minggu (26/7/2015).

Baca Juga :  Memprediksi Tren Fashion dan Potongan Rambut di 2022

Selain dua kawasan tadi, Wianda bilang tren peningkatan konsumsi Pertalite juga terjadi di Jawa bagian Barat. Hingga Sabtu(25/6/2015), jajaran­nya mencatat angka penjualan di 66 SPBU mencapai 186.610 liter. Pun angka ini diketahui mengalami peningkatan 88,9 persen dibandingkan dengan pen­jualan Pertalite pada hari sebelumnya. “Dengan kondisi ini, kami optimistis dengan semakin banyak konsumen merasakan Pertalite, Uji Pasar yang kami lakukan akan sukses,” cetus Wi­anda.

Didesak Transparan

Meski dinilai bakal menjadi produk pengganti Premium untuk beberapa waktu mendatang, sejumlah kalangan meminta jajaran Pertamina mengung­kap mekanisme pengadaan Pertalite. Ini mengingat keberadaan Pertalite di­yakini produk impor lantaran fasilitas kilang Pertamina tak memenuhi spesifi­kasi kecuali Balongan.

Tak ayal, lantaran Pertalite belum di­produksi di dalam negeri neraca dagang Indonesia akan terus tertekan menyu­sul kian meningkatnya jumlah minyak impor. “Sebagai badan usaha milik neg­ara (BUMN) seharusnya Pertamina mem­punyai tugas melayani kebutuhan BBM rakyat tersedia murah dan aman. Jadi keliru besar kalau Pertamina bersikap seperti badan intelijen tatkala menjual variasi produk baru BBM yaitu Pertalite dan menjadikan mekanisme pengadaan­nya penuh teka-teki,” ujar pemerhati ke­bijakan energi, Yusri Usman kepada CNN Indonesia beberapa waktu lalu.

Selain membeberkan mekanisme pengadaan, kata Yusri hal yang juga ha­rus dilakukan Pertamina ialah menjaga mutu serta kualitas Pertalite. Ini lanta­ran dari yang sudah-sudah, manaje­men hanya akan menggunakan fasili­tas penyimpanan dan penjualan produk lama (Premium) untuk menjual produk Pertalite ke masyarakat. Padahal harga jual Pertalite dilego di level Rp 8.400 per liter, atau lebih mahal dari harga jual Premium.

“Apabila produk Pertalite dari sisi kualitas dan harga bisa diterima pasar serta menguntungkan Pertamina dalam bersaing dengan produk-produk kom­petitornya seperti Shell dan Total, maka ke depannya Pertamina harus segera menyiapkan infrastruktur di depo un­tuk tangki penampung khusus Pertalite yang dedicated. Bukan kanibal tangki Premium Ron 88 atau premium,” tu­turnya.

(Yuska Apitya Aji)