Opini-2-HeruBAGI orang yang tidak paham dan tidak tahu ilmu puasa, bulan puasa dijadikan untuk alasan bermalas-malasan, alasan untuk tidak produktif dalam bekerja, alasan untuk tidur seharian, meski tidurnya orang puasa adalah ibadah.

Oleh: HERU BUDI SETYAWAN
Pemerhati Pendidikan dan Guru Sekolah Pesat

Justru akan lebih hebat, jika disaat puasa kita tingkatkan produktivitas kita, karena di bulan suci ramadhan ini yang sunnah berpahala wa­jib dan yang wajib pahala dilipat gandakan 70 kali dibanding bulan selain ramadhan. Lagi pula jika kita puasa diisi dengan banyak tidur, badan kita jadi lemas dan mengantuk, tapi kalau kita tetap beraktivitas seperti biasa maka badan kita tetap segar dan tidak mengantuk.

Karena itu dari sekarang, kita bisa membuat prestasi pada bulan suci ramadhan ini, meski dalam kondisi puasa. Langlahnya adalah membuat perencanaan agenda kegiatan kita sehari-hari selama bulan suci ramadhan, kemudian agenda itu terus berlanjut hingga pasca ramadhan. Kegiatan itu, bisa kita lakukan untuk beberapa hal yang dituliskan disini.

Pertama, kita segera bertobat. Jangan ditunda mumpung masih hidup. Kesempatan yang paling baik dalam hidup ini adalah kes­empatan bertobat sebelum wafat. Mumpung bulan penuh ampunan dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, dosa sebesar apapun kalau kita bertobat den­gan sungguh-sungguh, tidak men­gulangi lagi dan menyesali atas dosa kita (taubat nasuha) maka Allah akan mengampuni seluruh dosa-dosa kita. Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malam­paui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguh­nya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS.Az Zumar, ayat 53)

Bisa jadi, kita sulit belajar, gaji kita tidak naik-naik, usaha kita terus rugi, prestasi kita semakin turun, do’a kita belum terkabul karena terhalang oleh besarnya dosa kita yang belum diampuni oleh Allah dan kita memang be­lum bertobat. Maka segeralah beristiqfar dan bertobat, nanti Al­lah akan mengganti sifat jelek kita menjadi sifat yang baik dan Allah akan mencegah kita berbuat mak­siat serta Allah akan membimb­ing kita untuk bersahabat dengan orang-orang soleh, subhanallah. Jika kita berhasil melaksanakan tobat nasuha dan berhasil hijrah dari dunia gelap menuju cahaya Allah dan menjadi hamba yang soleh dan solehah ini adalah se­buah prestasi yang luar biasa, ser­ta puasa kita termasuk puasa yang penuh prestasi.

Kedua, meningkatkan kei­manan dan ketaqwaan kita. Ayat yang paling popular tentang pua­sa adalah,” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajib­kan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS Al Baqarah, ayat 183). Jadi puasa memang hanya untuk orang yang beriman pada masa sekarang dan untuk orang beriman pada jaman dahulu.

Baca Juga :  MENDIDIK DENGAN HATI

Puasa itu tanda orang beri­man dan puasa juga dilakukan oleh umat terdahulu. Nabi Adam dahulu juga puasa selain bertobat. Nabi Daud juga melakukan puasa Daud, bahkan orang Yahudi ja­man dahulu juga berpuasa selama 40 hari, demikian juga orang Nas­rani jaman dahulu juga puasa se­lama 50 hari.

Selama 11 bulan kita selalu ber­kutat dengan urusan kerja, meski itu juga ibadah kalau kita niatkan untuk ibadah, tapi suasana rama­dhan jelas lain dengan bulan bu­lan lain diluar ramadhan, karena setan dibelenggu, pintu neraka ditutup rapat-rapat dan pintu surga dibuka lebar-lebar apalagi suasananya juga mendukung, jam belajar di sekolah dan jam kerja di kantor atau pabrik dikurangi. Apa­lagi tahun ini pemerintah melibur­kan sebulan penuh semua sekolah selama bulan suci ramadhan dan menganjurkan peserta didik ikut sanlat ( pesantren kilat ) di ling­kungan rumah masing-masing. Hal ini yang harus kita manfaat­kan sebaik mungkin untuk mere­fresh keimanan dan ketaqwaan kita.

Bulan ramadhan adalah bu­lan tarbiyah (pendidikan), karena ada kesempatan bagi kita untuk belajar lagi tentang agama Islam semakin baik dan benar. Bulan ramadhan saatnya untuk mem­perbanyak membaca, memahami dan mengamalkan Kitab Suci Al Qur’an, bulan puasa juga kesem­patan untuk meningkatkan jum­lah dan mutu ibadah kita, baik iba­dah ritual maupun ibadah sosial.

Tapi kenyataannya umat Islam khususnya di Indonesia malah se­baliknya yaitu menurunkan jum­lah dan mutu ibadah kita, misal imam solat tarawih yang cepat yang disenangi dari pada imam yang tumaninah, bacaan surat pendek Imam yang disenangi dari padabacaan surat panjang Imam, lebih senang belanja di mall dari pada di solat berjamaah di masjid, lebih senang ketawa ketawi non­ton televisi dari pada membaca sejarah riwayat hidup teladan se­luruh manusia Nabi Muhammad SAW, lebih senang ngabuburit kesana kemari dari pada i’tikaf di masjid, lebih suka SOTR (Sahur On The Roa ) dari pada sahur di masjid, lebih senang membeli pet­asan dan kembang api dari pada bersedekah dan semua kegiatan yang tidak bermutu dan tidak produktif yang lain.

Dan balasan bagi seorang hamba yang beriman adalah seb­agai berikut : Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sun­gai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalam­nya (QS Al Baqarah ayat 25). Inilah kemenangan dan prestasi yang se­benarnya kita hidup di dunia ini, yaitu ujungnya kita masuk ke sur­ganya Allah, tidak ada artinya kita hidup di dunia yang fana ini, jika kita kaya raya, tinggi jabatan kita, terkenal dan banyak dipuji orang tapi ujungnya masuk neraka.

Baca Juga :  MENDIDIK DENGAN HATI

Ketiga, meningkatkan kompe­tensi kita dalam bekerja. Puasa adalah saat yang tepat untuk introspeksi diri atas kekurangan kita, sehingga dengan tahu kelemahan dan kekurangan diri kita, akan memacu kita untuk memperbaiki diri dan pada akh­irnya kita bisa meningkatkan mutu kompetensi kita dalam bekerja. Misal jika kita sebagai seorang pemimpin yang mudah marah dan sewenang-wenang ter­hadap anak buah, maka dengan puasa ini kita bisa lebih sabar dan adil dengan anak buah. Atau jika kita sebagai seorang pegawai yang suka mengeluh dan malas dalam bekerja, maka dengan puasa ini kita bisa lebih bisa bersyukur dan rajin dalam bekerja. Atau sebagai seorang remaja yang mudah galau dengan puasa hidupnya penuh ke­tenangan.

Indikator dari keberhasilan kita mengubah perilaku kita yang jelek ini kepada perilaku yang baik ini terlihat nanti setelah lebaran. Dan salah satu manfaat dan keber­hasilan dari puasa adalah mem­bakar penyakit fisik dan penyakit hati kita seperti iri, dengki, kikir, otoriter, pemarah, suka gibah dan lain-lain. Jika kita sudah punya si­fat sabar, adil, syukur, rajin, ikhlas dan sifat baik yang lainnya, oto­matis kinerja kita akan membaik dan kita akan merasa nyaman bekerja serta prestasi kita akan meningkat dengan pesat.

Setelah kita bisa meningkat­kan kompetensi sosial dan religius kita yaitu punya sifat sabar, adil, tawadu, qonaah, syukur, rajin, ikhlas dan hanya mencari ridho Allah, setelah lebaran waktunya kita untuk pengembangan diri dengan meningkatkan kompe­tensi pengetahuan kita dan kom­petensi ketrampilan kita, dengan ikut workshop, in house training, kursus atau kepelatihan lain yang sesuai dengan kompetensi kita, sehingga puasa kita penuh presta­si. Jayalah Indonesiaku. (*)