11374505_783173338446531_1356485972_nTampil istimewa saat hari pernikahan seperti sudah menjadi keharusan. Berdandan mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki pun dilakukan. Meski pun berada dibagian paling bawah, untuk urusan sepatu menjadi hal penting karena mempelai wanita akan berdiri berjam-jam di pelaminan. Tidak hanya menampilkan keindahan, kenyamanan pun harus diperhatikan. Para perancang sepatu pun melirik bisnis ini lantaran memiliki untung yang bisa dibilang elegan.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Salah satunya Nefrin Fadlan. Perancang sepatu pernikahan yang memi­liki brand Bride Series by Nefrin Fadlan ini mengatakan, membuat sepatu khusus un­tuk pernikahan sensasinya jauh berbeda dibanding­kan membuat sepatu kasual. Sebab, sepatu pernika­han itu harus juga memperhatikan hal sangat detail seperti memilih bahan-bahan. Banyak ornamen yang harus dipasangkan di sepatu selain bahan-bahan khu­sus seperti bordir atau payet.

Sepatu pernikahan yang elegan seperti itu pun um­umnya tidak diproduksi secara massal. Sebab desain masing-masing sepatu sangat personal tergantung dari kemauan calon pengantin. Wanita yang memu­lai usaha pada 2010 silam ini bilang, menariknya membuat sepatu pernikahan adalah desain, warna, dan modelnya harus menyesuaikan dengan kebaya si pengantin. Ini akan membantu perancang membuat sepatu yang nyaman serta proporsional dengan baju pengantin.

Semua sepatu keluaran Bride Series by Nefrin Fadlan adalah buatan tangan alias handmade. Wanita berusia 29 tahun ini mendesain sendiri model dan memilih bahan. Ke­mudian proses produksi dibantu oleh 12 orang karyawannya. Lokasi produksi sekaligus butiknya berada di Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Dia bilang butuh waktu paling cepat dua minggu untuk menghasilkan pesanan sepasang sepatu pernikahan. “Jika detailnya rumit, maka prosesnya bisa sampai sebulan,” kata dia.

Kapasitas produksinya saat ini sekitar 200 pas­ang sepatu per bulan. Sasarannya adalah kalangan menengah ke atas, sehingga harga jual pun cukup tinggi berkisar Rp 800.000−Rp 1,5 juta per pasang. Pelanggannya sebagian besar dari daerah Jabodeta­bek. Beberapa kali dia juga mendapatkan pesanan dari Malaysia, Singapura, dan Australia. Dari situ, Ne­frin bisa mengantongi omzet lebih dari Rp 300 juta per bulan.

Dalam memamerkan karya-karyanya, Nefrin ker­ap mengikuti acara bergengsi seperti Jakarta Fashion Week atau Indonesia Fashion Week saban tahun. Dia juga menjual sebagian koleksinya di Alun Alun Grand Indonesia di Jakarta dan Bali Collection di Nusa Dua, Bali.

Pengusaha sepatu pernikahan lainnya adalah Rina Thang. Berawal dari profesinya sebagai wedding orga­nizer, Rina mengaku kerap kesulitan membantu klien untuk mencari sepatu yang cocok dan nyaman dipak­ai oleh mempelai wanita. Dari situ, sejak empat tahun silam dia juga merintis bisnis sepatu pernikahan.

Lewat brand Rina Thang Shoes, dia juga mem­produksi sepatu handmade. Dia menggunakan bahan jenis brokat, lace, dan manik-manik yang ia peroleh dari dalam negeri. Rata-rata lama pengerjaan sepas­ang sepatu sekitar 1,5 bulan. Untuk pemasaran, Rina juga menjalin kerjasama dengan para desainer gaun pengantin dari klien.

Dalam bisnis ini, Rina bilang, mengukur kaki calon pengantin itu hal yang mutlak. Sebab, itu akan mem­pengaruhi tingkat kenyamanan penggunaan sepatu. Sesuai dengan target pasarnya yaitu kalangan menen­gah ke atas, Rina membanderol sepasang sepatu mulai dari Rp 1,6 juta hingga Rp 3 juta. Dalam sebulan, Rina bisa memproduksi sekitar 30 pasang−50 pasang sepa­tu dengan omzet sekitar Rp 50 juta per bulan. “Margin penjualan sebesar 20% dari omzet,” ujar Rina.

Sementara Thina Suteki, produsen sepatu dengan merek Suteki Shoesmaker asal Cimanggis, Depok ini, menjual sepatu pernikahan di kisaran Rp 900.000– Rp 7,5 juta per pasang. Harga jual tergantung dari model dan bahan yang dipakai. Sebab, sepatu-sepatu hasil buatan Thina sebagian besar memakai bahan baku impor.

Menurut Thina, inspirasi membuat sepatu bisa datang dari internet atau membaca majalah fesyen. Dia memasarkan produknya di dua outlet miliknya di Kemang, Jakarta Selatan dan Mall Kelapa Gading.

Dalam sebulan, rumah produksinya bisa menger­jakan sepatu pesanan sekitar 150 pasang−200 pasang sepatu pengantin. Thina bisa meraih omzet sekitar Rp 150 juta per bulan. Sekitar 80% dari produksinya adalah sepatu pengantin, sisanya dia juga membuat sepatu jenis ankle boots berbahan dasar kulit.

(KTN)