Untitled-9Pasar otomotif nasional menyusut 15,3 persen selama paruh pertama 2015 setelah hanya menorehkan angka penjualan mobil 525.458 unit. Meski cenderung melambat, Bank Bukopin justeru optimistis tetap bisa memperbesar porsi penyaluran kredit pemilikan mobil (KPM). Akhir tahun ini, Bukopin mengincar portofolio KPM sebesar Rp 3,5 triliun.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Direktur Operasional dan IT Bukopin, Adhi Brahmantya, menerangkan, dari beberapa faktor yang ada, prospek KPM di Indonesia masih menarik. Terlebih, kata Adhi, pemerintah juga sedang mendorong industri oto­motif untuk memproduksi kendara­an Low Cost Green Car (LCGC). “Be­berapa Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) juga masih mengeluarkan be­berapa varian baru,” tutur Adhi, Rabu (26/8/2015).

Untuk mendukung target penyaluran KPM, Bukopin menggelar program bunga 4,5 persen hingga akhir tahun. Dia pun meyakini, faktor suku bunga dan proses kredit yang cepat masih menjadi faktor utama keberhasilan produk Bu­kopin.

 Dengan begitu, Bukopin mengincar portofolio KPM menjadi Rp 3,5 triliun dari po­sisi Juni 2015 yang sudah sebe­sar Rp 3,1 triliun atau 48 persen dari total portofolio kredit kon­sumer Bukopin. Selain mem­berikan bunga murah, Bukopin juga mempertimbangkan un­tuk memberikan KPM dengan tenor sampai maksimal 8 tahun untuk beberapa merek kend­araan.

Sebagai gambaran, Bukopin berhasil membukukan pertum­buhan kredit sebesar Rp 58,69 triliun pada Juni lalu. Angka tersebut meningkat 15,31 pers­en dibandingkan penyaluran kredit pada periode yang sama tahun lalu, yaitu sebesar Rp 50,89 triliun.

Glen Glenardi, Direktur Utama Bukopin mengatakan, pertumbuhan kredit Bukopin pada paruh pertama tahun ini dipicu oleh segmen mikro yang meningkat 28,21 persen, disusul oleh segmen UKM yang tumbuh 9,74 persen. “Pertum­buhan kredit Bank Bukopin hingga paruh pertama 2015 terjadi baik pada segmen ritel maupun komersial,” ujarnya.

Dari total kredit yang dis­alurkan Bukopin, sebesar 60,83 persen diserap oleh kredit ritel, yang terdiri dari segmen UKM (40,05 persen), mikro (12,07 persen), dan konsumer (11,79 persen). Sisanya sebesar 36,09 persen merupakan kredit kom­ersial. Glen juga menjelaskan, situasi tersebut sejalan dengan strategi Perseroan untuk fokus pada segmen ritel dengan tetap menjaga pertumbuhan pada segmen komersial. (KTN)