36798_1233039423PESAWAT ATR 42 PK YRN dengan nomor penerbangan IL 267 milik Trigana Air yang jatuh di hutan perawan Kabupaten Pegunungan Bintang, selain membawa 54 penumpang, ternyata juga membawa uang tunai Rp 6,5 miliar

RISHAD NOVIANSYAH
[email protected]

Uang tunai sebanyak itu, merupakan uang Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) milik 6.000 warga, yang akan dibagikan oleh 4 juru bayar PT Pos kepada warga yang berhak. Namun pihak Trigana mengaku tidak tahu menahu soal uang Rp 6,5 miliar dalam pe­sawat itu. Karenanya, Trigana menolak bertang­gung jawab.

‘’Kami tidak tahu kalau ada uang dalam pe­sawat, sebab bila ada uang sebesar itu harusnya dilaporkan ke pihak Trigana, apalagi itu uang negara,” kata Kepala Cargo Trigana di Bandara Sentani Jayapura, Adi Kadi, Senin (17/8/2015).

Karena tidak dilapori, Trigana merasa tidak bertanggung jawab atas kehilangan uang sebanyak itu. “Dan itu tidak menjadi tanggung jawab kami,’’ ujar Adi singkat.

Uang Rp 6,5 miliar itu dibawa oleh 4 juru bayar PT Pos. Mereka akan membagi­kan uang itu kepada 6.000 warga miskin di Pegunungan Bintang, yang berhak mem­peroleh dana PSKS. Uang itu dibawa dengan dibungkus 4 tas.

Empat orang juru bayar dari Kantor Pos Jayapura ikut dalam penerbangan Trigana air Service. Rencananya mereka akan mem­bagikan dana PSKS kepada 6.000 warga yang menjadi keluarga sasaran, satu keluarga menerima Rp 600.000,” terang Kepala Kan­tor Pos Jayapura, Haryono.

Uang sebanyak itu dibawa secara tunai ke Oksibil karena tidak tersedia uang tunai di sana. ‘’Kami selalu bawa uang tunai kalau ke Oksibil karena di sana tidak tersedia uang tunai dalam jumlah banyak. Kalau ke Wame­na kami biasanya ambil tunai di sana,’’ kata Kepala Regional XI Papua dan Papua Barat, Agus Budi Satrio.

Saat ini, kata Agus Budi, pihaknya fokus untuk evakuasi korban, sedangkan untuk penyaluran dana PSKS akan diatur kemudi­an. ‘’Pastinya pemerintah akan memikirkan langkah berikutnya terkait dana PSKS, yang utama adalah evakuasi karyawan,’’ jelasnya.

Mensos Membenarkan

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawa­nsa membenarkan dana Rp 6,5 miliar yang hilang bersama pesawat Trigana Air, untuk Program Simpanan Keluarga Sejahtera itu berasal dari Kementerian Sosial.

“Setelah saya mendengar informasi ini, tadi pagi setelah upacara di Kemensos saya langsung rapat dengan Dirjen Linjamsos (Di­rektur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial) yang bertanggungjawab atas dana PSKS. Nah, langsung dicek untuk Kabupaten Pegunungan Bintang memang kebutuhan dis­tribusinya sekitar Rp 6,56 miliar,” kata Men­sos Khofifah Indar Parawansa kepada detik­com, Senin (17/8/2015) pukul 19.15 WIB.

“Artinya saya cuma cek. Jadi seandainya dari PT Pos mengirim staf lalu membawa uang Rp 6,5 miliar, itu cocok dengan data Kemensos,” tegasnya.

Khofifah mengatakan, memang ada be­ragam cara mendistrbusikan dana PSKS dari Kementerian Sosial. Selain lewat PT Pos, ada distribusi berbasis komunitas, dan ada yang mekanismenya transfer antar PT Pos. Untuk Kabupaten Pegunungan Bintang 100 persen sudah ditransfer ke PT Pos. “PT Pos yang akan memutuskan proses distribusi sesuai dengan lokasi yang akan dituju,” ujarnya. “Tapi rupanya ini dengan membawa cash,” imbuh Khofifah sedikit heran.

Meski begitu, dana itu karena sudah di­percayakan kepada PT Pos untuk distribusi di Kabupaten Pegunungan Bintang, maka men­jadi tanggung jawab PT Pos. “Semua uang untuk distribusi PSKS sudah pada posisi di tangan kewenangan PT Pos, sehingga tang­gung jawab terhadap keamanan uang, proses distrbusi sampai kepada penerima program ada di tangan PT Pos,” ucap Khofifah.

Dana PSKS sebesar Rp 6,5 miliar itu merupakan bantuan sosial dari Kemensos untuk 6.000 warga Kabupaten Pegunungan Bintang yang disimpan di dalam empat tas yang dibawa empat petugas Kantor Pos Jay­apura yang ikut dalam korban pesawat Trig­ana yang jatuh itu. Yakni Yustinus Hurulean, MN Aragay, Agustinus Luarmase dan Teguh.

Tinggal di Bogor

Kopilot Trigana Air yang jatuh, Ariadin Falani, ternyata tinggal di Perumahan Ta­man Kenari B 11, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor. Ariadi merupakan lulusan Sekolah Penerbangan Southwind Texas, Amerika Serikat.

Menurut Adik korban, Zaki, Ariadin telah bergabung dengan Trigan Air selama tujuh tahun dan terbiasa menerbangkan pesawat dengan rute jarak pendek. Selain terbang di atas langit Papua, ia juga pernah bertugas di Banjarmasin, Kalimantan dan Pangkalan Bun.

“Kami baru dapat kabar kalau pesawat hilang kontak itu Minggu jam tujuh malam. Sebelum lihat di media, kami sudah diberi tahu terlebih dahulu oleh pihak perusahaan. Makanya kami sekeluarga langsung datang ke Bogor nih dari Banjarmasin,” ungkap Zaki.

Keluarga Ariadin Falani, masih berharap-harap cemas. Sebab, hingga kini keluarga belum mendapatkan kepastian kabar, soal kondisi salah satu anggota keluarganya ini.

Zaki melanjutkan, jika Ariadin bertugas di Papua biasa pulang dua minggu sekali. “Terakhir saya telponan sama dia dan janji kalau 20 Agustus nanti dia mau pulang. Sek­arang kami cuma berharap dia ditemukan dengan selamat,” lanjutnya.

Zaki menceritakan jika sosok Ariadin merupakan kakak yang sayang kepada kelu­arga. Seorang ayah yang sayang pada anak-anak serta disenangi oleh kerabat-kerabat.

Sudah Ditemukan

Manajemen Trigana Air memastikan pesawat ATR 42 PK YRN dengan nomor pen­erbangan IL 267 sudah ditemukan dalam keadaan hancur. Berkaitan dengan tragedi jatuhnya pesawat tersebut, yang menelan korban jiwa 54 orang itu, pihak Trigana me­minta maaf kepada seluruh keluarga korban.

“Kami sampaikan rasa duka yang men­dalam bagi pihak keluarga dan kami mohon maaf atas kejadian yang tidak diinginkan kita semua,” ujar Manager Security Trigana Air, Alfred Ahmaji Purnomo di kantor Trigana, Ka­limalang, Jakarta Timur, Senin (17/8/2015).

Alfred berjanji akan membantu seluruh evakuasi korban pesawat yang hilang kontak pada Minggu (16/8) sore itu. Pihaknya juga akan memberikan bantuan kepada korban sepenuhnya. “Kita akan membantu keluarga korban sampai semua ditemukan. Namun, pencarian sudah dihentikan sementara karena cuaca buruk,” terang Alfred.

Seperti diketahui, sebanyak 54 orang berada di dalam pesawat yang berangkat dari Sentani menuju Oksibil, Papua itu. Pu­ing pesawat Trigana Air difoto oleh Tim SAR di pedalaman hutan di Distrik Okbape, Pegu­nungan Bintang, Papua.

Sebelumnya, Tim Basarnas telah men­emukan lokasi puing-puing pesawat Trigana Air yang dipastikan menabrak Gunung Ton­gak di Kabupaten Pengunungan Bintang, Papua, pada Minggu (16/8) lalu. Namun pe­nyebab jatuhnya pesawat belum diketahui secara pasti.

“Penyebab kecelakaan sampai sekarang belum tahu. Mungkin itu nanti KNKT yang bisa menjelaskan,” ujar Deputi Bidang Op­erasional Basarnas Mayjen TNI Heronimus Guru di Kantor Basarnas, Jl Angkasa, Kemay­oran, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2015).

Gambar puing pesawat Trigana diambil oleh tiga pesawat pencari dari Susi Air dan AMA dengan menggunakan kamera. “Tiga kali kita melaksanakan pengambilan gambar menggunakan kamera yang menghadap ke depan. Diambil langsung dari pesawat yang melaksanakan kroscek,” sambungnya.

Heronimus menyebut kondisi dae­rah yang ekstrem menjadi kendala proses evakuasi tim gabungan SAR. Nantinya untuk memudahkan proses evakuasi, pasukan da­rat akan berupaya menyiapkan helipad.

Pencarian sudah dihentikan sejak pukul 16.00 WIT dan rencananya dilanjutkan hari ini sekitar pukul 06.30 WIT bila cuaca me­mungkinkan. Serpihan Trigana IL 257 telah ditemukan tim Basarnas di daratan yang berjarak 7 nautical mil atau 12 kilometer dari Bandar Udara Oksibil, Papua.

Serpihan pesawat Trigana IL 257 ditemu­kan oleh armada pencarian dari udara milik PT Trigana pada pukul 08.50 WIT. Sebelumnya, Menhub Ignasius Jonan menyebut posisi pe­sawat Trigana Air yang mengalami kecelakaan berada di sekitar daerah Seram-Oksop, Kabu­paten Pegunungan Bintang, Papua.

“Up date terbaru, serpihan pesawat YRN ditemukan jam 08.50 LT di koordinat 140 29.953E, 04 49 289S. Ketinggian seki­tar 8.300 feet. Kesaksian pilot AMA melihat posisi pesawat yang mengalami kecelakaan di antara daerah Seram-Oksop,” kata Jonan dalam pesan singkatnya, Senin (17/8/2015).

Tiga pesawat perintis yang dikerahkan mencari Trigana Air berhasil mengambil gambar puing di belantara hutan di sekitar Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bin­tang, Papua. Basarnas memastikan puing itu adalah serpihan pesawat Trigana Air.

Dia mengatakan kendala tim untuk men­capai ke lokasi karena medannya cukup eks­trem. “Kendala yang paling memungkinkan medannya ini hutan ekstrem jadi agak sulit,” ujar Heronimus.

Pesawat Trigana Air hilang kontak dalam penerbangan dari Bandara Sentani, Jaya­pura, menuju Oksibil, Papua. Ada 54 orang yang berada di dalam pesawat tersebut.

Pesawat itu terakhir loss contact den­gan menara ATC Sentani pukul 14.55 LT (Lo­cal Time). Pesawat berangkat dari Jayapura pukul 14.22 LT dan harusnya tiba di Oksibil pukul 15.04 LT.

Posisi pesawat Trigana Air yang hilang sudah diketahui berada di koordinat 140 29.953E, 04 49 289S Seram-Oskop, Papua. Kapolri Jenderal Badrodin menyebut ke­mungkinan pesawat tersebut menabrak bukit.

“Kemungkinan besar memang mena­brak bukit sebelum landing di bandara, nah itu yang perkiraan antara 15 kilome­ter sampai 12 kilometer sampai bandara,” kata Badrodin di Istana Merdeka, Jl Med­an Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2015).

Badrodin menampik dugaan adanya penembakan terhadap pesawat itu. Semen­tara ini dia memastikan bahwa pesawat jatuh karena menabrak bukit.

Menurut dia saat ini evakuasi akan di­lakukan sepenuhnya oleh Tim SAR. Polisi akan membantu apabila dibutuhkan keper­luan identifikasi. “Nanti kalau butuh identifi­kasi Tim DVI Polri akan terjun ke sana mem­bantu,” kata Badrodin.

Sementara itu mengenai dana PSKS se­jumlah Rp 6,5 miliar masih belum diterima laporannya oleh Kapolri. Namun pihaknya akan menelusuri informasi tersebut.

(Risyad Noviansyah)