20150918_164253Makanan penutup atau dessert makin digandrungi kaum muda sebagai teman untuk kongkow bersama orang-orang terdekat. Es krim dalam batok kelapa ini misalnya. Tak sekedar nikmat ketika disantap, penyajiannya yang unik pun membuat kudapan ini selalu mewarnai media sosial. Digawangi oleh empat anak muda asal Bogor, dessert shop dengan brand Koci by Allucads ini mampu menjual 300 batok dengan omzet Rp4 juta per hari.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Keempat anak muda yang di­maksud adalah Annisa Nurul Wahidah, Aldi Suwandana Kurnia, Meishayu Indriati Ulfa dan Alvia Lilian. Mereka meng­klaim bahwa pelopor hadirnya es krim batok kelapa di Bogor ini adalah Koci by Allucads.

Annisa mengatakan, usahanya itu di­awali pada 9 Mei 2015. Belum lama me­mang, namun seiring dengan karakter gaya hidup masyarakat Bogor yang selalu ingin mencoba hal yang baru, membuat Allucads ini makin naik daun dikalangan penikmat kuliner, khususnya es krim.

Diceritakan Annisa, bahwa awal dibu­kanya Allucads ini untuk mengisi kesibu­kan di luar waktu kuliah. “Kami waktu itu masih kuliah. Ada yang di Universitas Gu­nadarma, Universitas Pakuan dan IPB. Pas lagi ngumpul terbersit ide untuk bikin usa­ha. Karena kami semua hobi kuliner, maka usaha ini yang dipilih,” jelas dara cantik kelahiran Bogor, 12 Februari 1995 itu.

Ingin berbeda dengan kuliner yang ada, mereka kemudian berselancar di dunia maya dengan mencari kuliner Asia yang sedang hits. “Kami lihat ada yang menarik dari dessert yang ada di Thailand. Disaji­kan dalam batok kelapa serta topping dan isi yang beraneka ragam. Kami pun men­cari cara membuatnya,” katanya.

Sebelum mengaplikasikannya, mereka berempat pun melakukan riset agar bisa melakukan modifikasi menu tersebut. Akhirnya, mereka pun menemukan kom­posisi yang menurut mereka pas sesuai dengan lidah orang Indonesia. Aneka top­ping pun dipilih.

“Kita berempat eksperimen. Menentu­kan rasa es krim yang pas jika dicampur­kan dengan topping ini dan itu. Nah, ke­mudian kami tambahkan moci agar beda dengan dessert sejenis. Alhamdulillah, respon pasar cukup bagus. Modal awal waktu itu Rp500 ribu,” terang dia.

Sebelum memiliki tempat, Allucads pun menjajakan dessert tersebut dengan mobil dari suatu tempat ke tempat lain. In­tinya, untuk menjangkau pusat keramaian anak muda. Bazzar di kampus pun selalu diikuti.

Semakin berkembang dan diburu, membuat Allucads memberanikan diri untuk membuka outlet permanen di dae­rah Pandu Raya. Empat bulan menjajakan di outlet tersebut, Allucads juga memu­tuskan untuk memperbesar outlet untuk menampung lebih banyak pengunjung yang ingin makan di tempat. “Sekarang kami bisa menjual antara 200-300 batok per hari atau omzetnya Rp4 juta per hari. Insya Allah dalam waktu dekat kami akan perluas outlet ini agar pengunjung nya­man,” tandasnya.

Kesuksesan Allucads rupanya mengin­pirasi munculnya produk sejenis lainnya. Namun, Annisa bilang bahwa persaingan tersebut merupakan hal yang wajar dan biasa dalam dunia usaha. Namun, yang jelas Allucads makin terpacu untuk mem­pertahankan citarasa dan memberikan pelayanan yang terbaik.

Saat ini, Allucads memiliki varian rasa pada es krim berupa vanilla, cokelat, strawberry, neopolitan, green tea, dan mangga. Untuk topping, Allucads memi­liki Koko Crunch, mini astor, fruit loops, chacha, marshmallow, banana, leci, leng­keng, kiwi, strawberry serta peach. Dari mochinya, tersedia rasa durian, kacang, koko pandan, strawberry.

“harganya mulai Rp18 ribu sudah mendapatkan satu scoop ice cream, dua mochi, nata de coco dan pilihan satu top­ping. Untuk tambah topping dikenakan biaya Rp2 ribu per topping, Rp3 ribu per scoop ice cream,” terang dia.

Meski dibilang sukses, Annisa dan ke­tiga rekannya tidak tertarik membuka sistem kemitraan franchise. Saat ini, Al­lucdas sudah memiliki empat orang kary­awan.

(Apriyadi Hidayat)