alfian mujani 240MENGAPA demo buruh 1 Septem­ber lalu tak begitu bergema? Pada­hal jumlah massa yang turun ke ja­lan tergolong luar biasa. Ada yang mengatakan lebih dari 10.000 buruh menyesaki jalan protokol hingga ke halaman depan Istana Negara. Tapi pemberitaan di media massa juga terasa datar-datar saja. Hanya satu dua media mencoba menonjol­kan berita demo buruh tersebut.

Sejumlah pengamat ekonomi mengatakan, demo buruh tersebut dilakukan pada waktu yang kurang tepat. Yakni di saat seluruh rakyat tengah menghadapi kesulitan akibat melam­batnya ekonomi nasional. Demo buruh itu kian terasa kurang simpatik ketika mereka menun­tuk kenaikan upah hingga 22%. Padahal publik tahu bahwa banyak perusahaan tengah berada di ambang kebangkrutan akibat melemahnya nilai tukar rupiah dan matinya pasar ekspor.

Tuntutan-tuntutan kenaikan upah yang cenderung menyulitkan dunia usaha tentu sangat tidak populer saat ini. Masyarakat tahu, para buruh itu beruntung masih punya pekerjaan, sementara puluhan juta warna negeri ini masih nganggur. Jadi, gerakan menuntut itu dimaknai oleh masyarakat se­bagai sikap tak bersyukur…!