Untitled-10Ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang penuh berkah. Tidak hanya bagi yang menunaikannya, berkah tersebut juga turut dirasakan oleh para penjual oleh-oleh haji di kota hujan. Pada musim haji ini diperkirakan omzet mereka naik tajam, terutama untuk penjualan kurma, air Zamzam, sajadah, tasbih dan makanan ringan serta aksesoris haji lainnya. Seperti dialami oleh Toko Madinah yang terletak di Jalan Empang, Kota Bogor.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Ibadah haji tentu bukan hanya peri­hal urusan ibadah saja. Seperti kita tahu, para jamaah tentu tidak lupa dengan urusan yang satu ini. Ya, mebawa oleh-oleh atau kenang-kenan­gan untuk orang terdekat di kampung. Namun, beberapa tahun terakhir ini banyak jamaah yang salah perhitungan dalam masalah bagasi, sehingga harus disita oleh petugas. Jumlahnya pun tak sedikit, mencapai ratusan ton.

Pemilik Toko Madinah, Abdurah­man Rusdy, mengungkapkan bahwa, kebanyakan bagasi yang disita oleh petuga bandara adalah milik jamaah haji asal Indonesia. “Pesawat tidak bisa berangkat karena kelebihan muatan. Pemerintah setempat pun terpaksa harus membongkar barang bawaan jemaah haji. Hasilnya ratusan ton bisa disita petugas, terutama air Zam Zam,” ungkap Rusdy kepada BOGOR TODAY, kemarin.

Kini, kesadaran jemaah haji mulai tumbuh untuk urusan barang bawaan. Mereka memil­ih membeli oleh-oleh di Indo­nesia sepulang dari beribadah. “Selain bisa khusuk beribadah di Mekkah, mereka juga tidak terlalu repot untuk bagasinya. Harganya juga tidak beda jauh. Buat apa belanja macama-macam, tapi sebenarnya ba­rang tersebut juga bisa di dapat di sini,” kata Rusdy.

Baca Juga :  Pemuda Jasinga Sulap Getah Jadi Rupiah

Nah, menyambut momen Haji tahun ini Toko Madinah di Empang, telah menyiapkan sekitar tujuh ton kurma asal negera Timur Tengah yang dib­agi dalam dua termin. “Yang siap jual sekarang itu tiga ton kurma. Tapi saya rasa itu tidak akan cukup. Nanti setelah Leb­aran Haji, akan datang lagi seki­tar empat ton dari Uni Emirat Arab dan Tunisia. Soalnya kepulangan kloter dari sana itu kan 10 hari setelah Lebaran Haji,” jelas Rusdy.

Ia mengaku, setiap harinya sudah mulai ada yang mem­beli oleh-oleh haji. “Yang beli mulai kelihatan akhir-akhir ini. Tapi, ramainya nanti pas kloter pertama datang sekitar 10 hari setelah Lebaran Haji,” katanya.

Untuk harga, Toko Madinah membanderol kurma asal Uni Emirat Arab sebeser Rp250 ribu dengan berat 10 kilogram. Sementara untuk jenis pre­mium didatangkan dari negara Tunisia yang harganya menca­pai Rp500 ribu per dus yang berisi 10 kilogram kurma. “Buat hadiah untuk dibagi-bagikan ke keluarga saya sarankan lebih baik ambil per dus dari pada beli kiloan. Harganya lebih mu­rah bisa dibagikan kebanyak orang,” jelasnya.

Selain kurma, pihaknya juga menyediakan oleh-oleh haji, berupa kacang Arab, kismis, cokelat, peci, tasbih, sajadah, sorban, air Zamzam dan ma­kanan khas timur tengah lain­nya. “Tren baru lagi dalam oleh-oleh adalah biskuit kurma. Harganya Rp40 ribu hingga Rp45 ribu. Biskuit ini pabrikan Jedah, jarang ada di Bogor, ke­cuali musim haji seperti seka­rang,” kata dia.

Baca Juga :  Pemuda Jasinga Sulap Getah Jadi Rupiah

Yang tak kalah favorit adalah Air Zamzam. Memang setiap orang sudah mendapatkan ja­tah lima liter, namun biasanya kurang untuk dibagi-bagian kepada tetangga atau orang terdekat. “Air Zamzam men­jadi favorit dicari. Tapi perlu diingat bagi jemaah haji karena yang beredar di Indonesia ada yang palsu. Karena ada orang yang berusaha mencari keun­tungan lebih tapi dengan cara yang salah. Soalnya saat ini permintaan tinggi, harga juga sedang naik, dan barangnya ja­rang. Ini sering dimanfaatkan,” tandasnya.

Toko Madinah sendiri me­kau selektif terhadap orang atau lembaga yang mengaku sebagai importir resmi air Zamzam. “Kami menerima dari sumber terpercaya. Ada yang nawarin banyak kami nggak ambil sem­barang orang,” terang Rusdy. Di Toko Madinah, untuk uku­ran 5 liter pihaknya memban­derol Rp450 ribu dan 10 liter Rp900 ribu.

Sejadah di Toko Madinah di­jual dari harga Rp15 ribu hingga ratusan ribu. Sementara tasbih mulai dari Rp30 ribu per lu­sin. “Produknya ada yang dari Turki, China dan lokal,” pung­kasnya.

(Apriyadi Hidayat)