IMG_2882Atlet berprestasi dan pelatih Kota Bogor yang namanya ter­catat dalam database atlet berprestasi dan pelatih yang direkomendasikan mendapatkan pekerjaan yang layak dari Pemerintah Kota (Pem­kot) Bogor berakhir gigit jari.

Sekretaris Umum (Sekum) Persatuan Judo Seluruh Indo­nesia (PJSI) Kota Bogor, Yudi Wahyudi mengatakan bahwa dengan ingkar janjinya Pemkot Bogor, Pengurus Cabang (Peng­cab) merasa dikecewakan dan tidak bisa lagi membendung bila atletnya hengkang memperkuat daerah lain.

Padahal, ketika pemberian uang ‘kadedeuh’ akhir 2014, tepatnya 10 bulan berselang, Walikota Bogor, Bima Arya ber­janji akan memberikan peker­jaan kepada atlet dan pelatih yang meraih medali untuk dapat bekerja di beberapa Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Kota Bogor. Bahkan, Wakil Walikota Usmar Hariman pun mengiming-imingi keringanan untuk atlet yang sudah berkeluarga yang belum memiliki tempat tingggal, bisa menempati rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) yang berada di Cibuluh, Bogor Utara.

”Fasilitas ini akan kami berikan untuk atlet yang sudah berkeluarga dan belum mempu­nyai tempat tinggal.Sementara, untuk biaya retribusi nanti ada pengurangan,” ungkap Usmar kala itu.

Lebih lanjut, Yudi mengaku amat menyangsikan janji duet pimpinan eksekutif Kota Hujan itu bisa terealisasi. “Pada saat itu Wakil Walikota yang menyatakan sendiri rusunawa untuk atlet dan pelatih adalah harga mati, tapi hingga kini tidak ada realisasi. Dan itu menurut saya adalah bentuk ketidakmampuan pemer­intah kota dan kepala daerahnya dalam memenuhi janjinya sendi­ri,” tandasnya.

Menurut Yudi, atlet dan pela­tih yang berprestasi dan meraih emas di Porda harusnya dipriori­taskan dulu. Pemberian peker­jaan kepada para pahlawan olah­raga ini kata dia, sepertinya tidak akan membuat BUMD bangkrut.

“Sepertinya pemerintah ma­sih merasa berat memprioritas­kan atlet yg meraih dua emas di Porda. Kalau memang yang dipri­oritaskan peraih dua emas, dari data yang KONI miliki hanya ada lima atlet dan dua pelatih dan itu akan ditampung oleh PDAM Tirta Pakuan, sementara BUMD yang lainnya baru PD. Pasar Pak­uan Jaya atau Bank Pasar juga bisa menyusul,” ujarnya.

Pria yang juga menjabat seb­agai Pengurus KONI Kota Bogor bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) itu kembali menutur­kan, tidak seharusnya pemimpin daerah membuat nasib seluruh atlet yang sudah berkorban un­tuk Kota Hujan itu digantung tanpa kepastian.

“Kami minta kepada pe­mimpin daerah tidak membuat kami menunggu sampai 10 bulan dengan ketidakpastian. Kami, atlet-pelatih adalah insan olahraga yang telah berjuang demi harkat martabat dan kejayaan olahraga kota bogor dengan memberikan konstribusi prestasi. Janji yang diberikan kepada kami sama saja dengan membunuh pembinaan dan prestasi atlet,” pungkasnya.

Oleh : IMAM BACHTIAR
[email protected] (*)