Foto-HLDIMANA bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Peribahasa yang mengandung makna agar mengikuti kebiasaan dan adat istiadat di tempat kita be­rada itu, menjadi bagian dari kesadaran yang harus dimiliki pelajar. Karenanya, wawasankebangsaan dan penanaman cinta budaya menjadi penting bagi sekolah.

Oleh: RIFKY SETIADI
[email protected]

Nilai moral itu rupanya ditanamkan dengan sungguh oleh SMP PGRI 2 Bogor, sekolah yang berada di Jl Raya Tajur No. 24, RT 04, RW 05, Kelurahan Pakuan, Kecamatan Bogor Selatan ini dengan penuh khidmat menjalankan upacara bendera pada Senin (21/09/2015), lalu. Padahal upacara dilakukan saat matahari begitu terik di atas kepala.

Ini memang bukan upacara biasa. SMP PGRI 2 Bogor meru­pakan salah satu sekolah yang menjadi peserta dalam Lomba Tata Upacara Bendera (LTUB) tingkat SMP se-Kota Bogor 2015 yang digelar oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor dan Pur­na Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Bogor. “Bagi kami, ini bukan sekedar lomba atau kejuaraan, tetapi harus kami dalami sebagai salah satu bentuk penanaman nilai cinta tanah air, wawasan kebangsaan sekaligus melatih kedisiplinan bagi seluruh warga sekolah,” ungkap Yayat Hidayat, SE, Kepala Sekolah SMP PGRI 2 Bogor. Meski begitu, sekolah ini memberi keunikan yang lain dari biasanya diantara sekolah yang menggelar upacara.

Tim aubade upacara di sekolah ini diiringi oleh “korps musik” pengiring upacara yang menabuh senar drum dan alat musik tiup saxophone. “Selain sebagai media pemberdayaan dalam upacara, musik pengiring upacara bendera ini juga telah menjadi ikon dan mudah-mudahan bisa menjadi contoh dan pendorong bagi kami sebagai elemen penting upacara ben­dera,” tanggap Yayat.

Baca Juga :  ITB VINUS Sambangi DPRD Sampaikan Pengembangan SDM Berbasis Pendidikan

Kecintaan terhadap bangsa tentu tak mungkin lengkap tanpa mencintai budayanya. Karenanya, sekolah yang memiliki visi se­bagai sekolah unggul yang dilandasi iman dan takwa ini, juga membangun warga sekolahnya untuk mencintai kebudayaan, khususnya budaya sunda. Sebab itulah, berbagai bentuk pendi­dikan budaya dan segala keunikan seni sunda, hidup dan tum­buh di hati warga sekolah. Berbagai kegiatan mulai dari degun­gan, marawis, tari tradisional, anggana sekar hingga pencak silat, menjadi bagian dari kehidupan sekolah ini. “Awalnya adalah ke­cintaan terhadap seni budaya bangsa. Banyak kekayaanbudaya yang harus kita rawat dan kita jaga. Pada akhirnya, banyak juga prestasi dari para siswa yang lahir dari lingkungan seni dan bu­daya,” papar Yayat. Karenanya, para murid SMP PGRI 2 Bogor seolah sebuah pusaka masa depan yang patut dijaga dan dikem­bangkan kemampuannya.

Salah satu siswi, Juniar Krisnawati merasa senangnya sekolahnya sangat memperhatikan kebudayaan sunda. “Sunda itu tempat lahir kita. Jadi saya berharap bisa turut melestarikan budaya sunda, baik itu gamelan, karawitan hingga anggana sek­ar,” ujar gadis kelas 9A, putri dari Krisnadi dan Wanifah kela­hiran Bogor, 9 Juni 2001. Ia pun termasuk sering mengikuti lomba seperti Porseni dan pernah menjuarai lomba ang­gana sekar. Sementara, Putri Hasanah Intan merasa tum­buh kecintaannya pada dunia degung atau gamelan. “De­gung juga harus dilestarikan. Jika tidak, bagaimana generasiselanjutnya bisa mengenal, memainkan dan menikmati budaya kita?,” ungkap gadis kelahiran Surakarta, 19 Oktober 2001 ini. Putri dari Sabarin Zulfri dan Rani Indrafanty yang duduk di ke­las 9B ini merasa sekolahnya sangat memberikan kesempatan luas dalam mengembangkan minat siswa di bidang seni dan budaya.

Baca Juga :  Anggota DPRD Kota Bogor Datangi SDN Otista yang Ambruk

Ungkapan kebanggaan dan kesenangan di dunia seni juga mengalir di jiwa dan tubuh Dhea Neta Hananda Kusuma. Ga­dis cantik kelahiran Bandar Lampung, 18 Desember 2000 ini cu­kup pintar mempertunjukkan tarian. Salah satunya adalah tari Ronggeng Asepan. “Banyak kegiatan dan minat seni yang bisa aku salurkan di sekolah ini. Kesenian itu asyik dan menarik. Se­lain menjadi kebangaan, seni juga merupakan kenikmatan dan kepuasan bathin,” ujar putri dari Hendra Kusuma dan Siti Hami­nah yang juga menjadi kelompok penari Mekar Galuh Pakuan ini.

Tak hanya Dhea, Putri dan Juniar, Ketua OSIS SMP PGRI 2 Bogor, Aldi Ahmad Asshari juga merasa sekolahnya meru­pakan tempat yang tepat untuk mempelajari banyak hal, terma­suk berorganisasi. Putra kelahiran Bogor 7 Juni 2001 ini merasa mendapat kesempatan besar mengembangkan minat dan bakat. “Selain diberi keleluasaan mengembangkan minat dan bakat, sekolah juga sangat mendukung kreativitas pelajar, termasuk berorganisasi,” ujar anak dari Cecep Supriatna dan Sintia. Kon­sep pendidikan yang diterapkan ini, mampu membentuk ke­pribadian penerus negeriyang berkarakter dan menjadi kunci pusaka kemajuan bangsa.