adidasCIANJUR, TODAY — Produsen sepatu asal Taiwan, PT Pou Yuen Indonesia memperluas investasi di kawasan Cianjur. Perusahaan ini membangun pabrik alas kaki baru di Cianjur. PT Pou akan memproduksi sepatu-sepatu olahraga bermerek, seperti Adidas. Kepala Badan Koordinasi Pena­naman Modal, Franky Sibarani, me­nyebut pabrik sepatu baru ini ditag­etkan akan memproduksi sampai 10 juta pasang sepatu per tahun. Total nilai ekspor USD 100 juta atau setara Rp 1,4 triliun per tahun.

“PT Pou Yen memasok antara lain sepatu merek Adidas dalam kon­trak jangka panjang,” kata Franky, saat kunjungan ke pabrik sepatu PT Pou Yuen Indonesia di Cianjur, Sabtu (3/10/2015).

Pabrik yang dibangun PT Pou merupakan pengembangan dari pabrik lama. Pabrik baru yang menel­an investasi USD 36 juta atau setara Rp 529 miliar ini sudah mulai berop­erasi secara bertahap hingga 2019.

Fraky menyebut, investasi baru ini bisa mengurangi jumlah pengang­guran di Indonesia, apalagi di tengah banyaknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) saat ini.

“Dengan realisasi investasi PT Pou pada 2015, maka dapat men­dukung program pemerintah untuk mengurangi jumlah pengangguran dengan cukup signifikan serta me­ningkatan devisa negara melalui pen­ingkatan ekspor,” tutupnya.

Cegah PHK

Kian membesarkan gelombang PHK akibat melemahnya ekonomi nasional, membuat BKPM dan lintas kementerian membentuk desk atau ‘posko’ yang membidangi penanga­nan pencegahan Pemutusan Hubun­gan Kerja (PHK). Desk ini dikhusus­kan untuk sektor industri tekstil dan sepatu yang kini sedang dihadapkan pada persoalan gelombang PHK.

“Agenda pertemuan tadi, lebih ke salah satu usulan dari pemerin­tah, BKPM bersama kementerian, kita membentuk satu desk khusus investasi tekstil dan sepatu,” kata Franky Sibarani.

Franky mengatakan, desk khusus ini di bawah langsung BKPM yang akan resmi diluncurkan pada 9 Ok­tober. Anggota dari desk khusus ini selain dari BKPM juga melibatkan asosiasi usaha tekstil dan sepatu juga kementerian. Desk menerima lapo­ran dan mencarikan solusi yang diha­dapi industri. “Pada prinsipnya desk ini membantu supaya tidak terjadi PHK. Pada waktu yang bersamaan terjadi serapan tenaga kerja dalam jumlah besar,” katanya.

Ia mengatakan selama semester I-2015 tercatat ada 300 pabrik tekstil baru dan 100 investasi pabrik sepatu. Bahkan dari jumlah itu, ada 16 pe­rusahaan yang sudah mulai tuntas pembangunan pabriknya. Diperki­rakan akan ada 100.000 lebih tenaga kerja terserap hingga 2019. Kondisi ini menjadi anomali karena di sisi lain ada laporan soal PHK.

Franky mencontohkan salah satu fungsi dari desk khusus ini adalah memfasilitas dan memecahkan perso­alan yang dihadapi industri. Misalnya soal keringanan tagihan pembayaran listrik untuk industri yang mengalami kendala keuangan agar tak ada PHK. Keringanannya dalam bentuk cicilan pembayaran listrik ke PLN setelah proses permohonan yang difasilitasi desk pencegahan PHK.

Bantuan lainnya juga diberikan tergantung persoalan yang dihadapi industri. “Misalnya tagihannya Rp 5 miliar, adanya Rp 3 miliar, sisanya dicicil selama beberapa bulan, jadi ada perpanjangan waktu. Desk ini menampung, memverikasi untuk ditindaklanjuti. Penangguhannya tergantung kita lihat dari perusa­haannya,” katanya.

(Alfian M|dct)