yane-(1)

Oleh: Yane Adrian

SEPULUH tahun yang lalu seorang sahabat saya melahirkan putri pertamanya. setelah lepas ASI dan mu­lai diberi makanan pendamping ASI sa­habat saya tersebut tidak memberikan gula dan garam ke dalam makanan yang ia olah untuk buah hatinya. Menurutnya gula dan garam adalah racun. Hingga anak tersebut kini berusia 10 tahun ia tidak pernah merasakan manisnya gula dan asinnya garam. Bahkan ke­tika suatu hari anak tersebut sakit dan dokter memberi nya obat puyer yang pahit, ia hanya berkata, “Hmm.. enak, Bunda.”

Saya ingat betul ketika Ayah saya (alm) mendengar cerita tersebut ia berkata, “Anak kok jadi percobaan..”

Jadi percobaan atau tidak yang pasti sahabat saya itu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Karena baginya anak adalah investasi. Begitu pula dengan sahabat saya yang lain, ia tidak mau anaknya terserang penyakit apapun sekalipun hanya batuk pilek. setiap bulan ia membawa anaknya kontrol ke dokter hanya untuk memasti­kan anaknya baik-baik saja. Karena baginya anak adalah investasi.

Anak adalah investasi.. berbagai cara dilakukan orang tua untuk memenuhi kew­ajibannya merawat dan mendidik putra pu­tri nya agar kelak menjadi insan paripurna.

Baca Juga :  Penyaluran BST Dimasa Sulit, Bikin Masyarakat Pangradin Sumringah

Begitu pula dengan saya. Saya pun ingin putra-putri saya menjadi aset tak ternilai harganya 10-20 tahun yang akan datang. Karena bagi saya anak adalah in­vestasi.

Semua orang tua pasti ingin mem­berikan yang terbaik pada putra-putri nya. Tapi kita dan anak-anak kita adalah mah­luk sosial. kita tidak hidup sendiri. sebagai mahluk sosial kita tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh manusia lain. Pada saat kita menjaga pola makan anak sehat dan seimbang di rumah, di sekolah anak-anak kita bersama teman-temannya malah ja­jan makanan yang tidak terkontrol gizinya. Pada saat kita mendidik anak-anak kita mengurangi pemakaian gadget, teman-te­mannya masih bersahabat dengan gadget bahkan anak kita menjadi anak-anak yang kudet (kurang update).

Di sinilah tantangan terbesar kita seb­agai orangtua, mengelola hubungan baik dengan anak. Agar nilai-nilai yang kita tanamkan kepada anak mudah menyerap dan tidak terjadi tawar menawar, bahkan tidak terjadi pelanggaran.

Ketika pertama kali saya menerapkan peraturan bahwa putra-putri saya tidak boleh menggunakan gadget, yang diuji adalah konsistensi dan komitmen saya dalam menjalankan peraturan tersebut. Bagaimana saya harus terus kreatif men­galihkan perhatian putra-putri saya agar tidak tertuju pada gadget. Bagaimana saya harus terus mengingatkan mereka tentang dampak buruk gadget pada anak. Bagaimana saya menjelaskan perbedaan fungsi dan kerja otak manusia yang dipen­garuhi oleh gadget dan tidak. Bagaimana saya melatih meningkatkan empati mer­eka sebagai dampak positif hidup tanpa gadget. Bagaimana saya harus terus ber­juang sendiri di antara jutaan orang tua yang msih membiarkan anak-anaknya ber­sahabat dengan gadget mereka.

Baca Juga :  Diangkat Jadi Kadisbudpar Deni Ziarah ke Makam Bupati Ketiga Kabupaten Bogor

Saya sebagai orangtua yang tidak memberikan gadget pada anak tidak send­irian. Saya bersama Steve Jobs (penemu Apple) yang tidak memberikan ipad kepa­da anak-anaknya, alasan Steve Jobs adalah ia tidak ingin kehilangan waktu bermain bersama anak mereka. Ketika anak sudah asyik bermain gadget ia khawatir anak mereka tidak lagi peduli dengan lingkun­gan dan sesama.

Semoga para orangtua di Kota Bogor bisa sama-sama menyelamatkan putra-putri mereka dari dampak negatif peng­gunaan gadget terutama bagi anak-anak dibawah 15 tahun.

Awalnya memang sulit, tapi saya su­dah melewatinya.

Saya bisa, Saya percaya orangtua yang lain pasti bisa. Karena anak adalah investa­si. (*)