Untitled-22JAKARTA, TODAY — Bank Indonesia (BI) ma­sih optimistis nilai tukar rupiah terha­dap dolar Amerika Serikat (USD) akan menguat. Bank sen­tral memperkirakan USD bisa ditekan hingga ke level Rp 13.700 akhir tahun ini. Saat ini USD ma­sih berada di level Rp 14.700.

Deputi Guber­nur BI Perry Warjiyo menjelaskan, angka tersebut bisa dicapai dengan melihat beberapa indikator ekonomi seperti inflasi. Inflasi akhir tahun akan terjaga di level 4,3% atau masih berada di batas rentang 4% plus minus 1%.

Survei BI minggu keempat Sep­tember menyebut, inflasi berada di level 0,04%, yoy 6,9%. Akhir tahun 4,3%, tahun depan 4,7%. CAD bisa turun 2,2%. “Kalau dihitung den­gan inflasi yang insya Allah akan di bawah 7%. Kalau lihat fundamen­tal ini tentu nilai tukar rupiah lebih rendah dari pasar. Hitungan kami kuartal III Rp 13.300. Di kuartal IV Rp 13.700, itu rata-rata hitungan funda­mentalnya,” jelas dia di Gedung BI, Thamrin, Jakarta, Rabu (30/9/2015).

Perry mengungkapkan, untuk tetap bisa mengendalikan kurs ru­piah agar tidak terlalu melemah dan volatil, maka dilakukan berbagai ke­bijakan dengan beberapa aspek, yai­tu mengendalikan permintaan USD dan menambah pasokan USD.

“Dalam beberapa kesempatan BI memandang bahwa rupiah sudah undervalue (terlalu rendah). Salah satu faktor penyebab melemahnya rupiah itu ada gap di spot maupun forward. Kenapa kita perlu melaku­kan intervensi di spot dan forward, adalah untuk mengurangi supply de­mand gap ini,” jelas Perry.

Baca Juga :  Pria Paruh Baya Ditemukan Tewas Dalam Sumur

Di tahun depan, lanjut dia, kurs USD tidak akan jauh berada di level Rp 13.700-13.900. Angka tersebut sudah menghitung dari berbagai indikator. Terutama soal kepastian bank sentra AS The Federal Reserve (The Fed).

“Kenapa tahun depan akan menguat, karena ketidakpastian Fed fund rate mulai jelas, faktor ketidak­pastian itu berkurang, kegiatan ekonomi membaik, ini kenapa tahun depan pergerakan nilai tukar akan menguat. Jadi kalau memang belum perlu ya jangan ngubrek-ngubrek dolar,” pungkasnya.

Terus Intervensi

BI terus melakukan berbagai kebijakan di sisi moneter agar nilai tukar rupiah tidak terpuruk. USD sempat menguat hingga ke posisi Rp 14.700. Deputi Gubernur BI Hendar mengatakan, BI selaku otoritas mon­eter sudah melakukan tugasnya dengan baik agar stabilitas rupiah tetap terjaga.

Menurutnya, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini juga dialami mata uang negara lainnya bahkan depre­siasinya lebih dalam. “Saya tidak bisa bayangkan jika BI tidak menjaga (in­tervensi), entah seperti apa, makanya perlu di-compare dengan negara lain (pelemahannya),” ujar dia dalam acara konferensi pers di Gedung BI, Thamrin, Jakarta, Rabu (30/9/2015).

Hendar menjelaskan, memang saat ini pasokan valuta asing (valas) yang ada di BI minim. Untuk itu, ber­bagai kebijakan yang dikeluarkan BI, utamanya soal rupiah diharapkan bisa membuat gerak rupiah lebih percaya diri. “Ketersediaan rupiah dalam jangka pendek berkurang. Jangan sampai buat rupiah lebih murah karena likuiditas jangka pen­deknya berkurang,” katanya.

Baca Juga :  Positif Narkoba, Pelaku Penimbun Alat Kesehatan Dijerat Pasal Berlapis

Meski demikian, Hendar men­gaku, pasar keuangan dalam negeri masih cukup konfiden. Di pasar SBN, masih tercatat ada net inflow arus dana masuk. “Di pasar SBN masih net inflow, confident masih cukup terjaga walaupun memang kondisi sekarang lebih buruk dari tahun se­belumnya,” terang dia.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menambahkan, kondisi rupiah saat ini memang tidak seim­bang, permintaan jauh lebih tinggi dibandingkan pasokan. Ini membuat rupiah terus tertekan.

“Pasar valas kita situasinya saat ini adalah lebih banyak demand-nya dibandingkan suplainya, itu perlu ditambah suplai dolar baik di spot maupun forward,” sebut dia.

Belum lagi, lanjut Mirza, ketidak­pastian bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan tingkat suku bun­ganya semakin membuat rupiah ter­perosok.

“Sekarang itu situasinya di mana supply and demand nggak balance (seimbang), apalagi uncertainty (ketidakpastian) the Fed belum tahu kapan pastinya naik. Tapi sampai saat ini situasi pasar keuangan kita masih terjaga,” tandasnya.

(Alfian Mujani|net)