DSC_0034

KEHIDUPAN anak-anak di masa lalu jauh berbeda dengan anak-anak masa kini, terutama dalam hal permainan. Dahulu merekakerap bermain dengan alam dan kehidupannya. Sedangkan di masa kini, anak dihadapkan pada berbagai permainan yang berbauelektronik dan barang-barang jadi yang siap dibeli di toko-toko mainan, mall atau super market.

Oleh: RIFKY SETIADI

[email protected]

Sebuah permainan bi­asanya dilakukan untuk tujuan kesenangan. Na­mun, dalam permainan tradisional masyarakat Indone­sia, unsur identitas budaya dan pendidikan ikut menyertai kes­enangan anak dalam bermain. Di beberapa kasus, permainan tradisional bahkan mempunyaikaitan dengan unsur religi. Permainan tradisional, selain memperlihatkan kedekatan dengan alam, juga memperha­tikan kebutuhan anak dalam mencapai perkembangan usianya, bahkan material yang digunakan untuk membuat permainan juga tergantung ke­pada material yang di sediakan oleh alam. Ini membuktikan bahwa pola hidup masyarakat di pengaruhi oleh lingkungan alam dan berpengaruh terha­dap perkembangan anak serta mainan dan permainannya.

Sayangnya, kondisi ling­kungan bermain bagi anak kini sudah jauh berbeda. Mereka lebih mengenal je­nis permainanyang bersifat elektronikdan digital. Jenis permainan tradisional seolah-olah tersingkirkan dari ling­kungan anak-anak dan tergerus oleh permainan modern. Jika melihat jenis dan bentuk permainantradisional di In­donesia, tentu jumlahnya san­gat banyak. Di setiap daerah banyakjenis permainan yang memiliki kesamaan dalam ben­tuk penamaan yang berbeda. Keragaman ini dipengaruhi oleh lingkungan alam yang me­nyediakan material untuk dija­dikan alat permainan.

Alat mainan tradisional sudah langka dimainkan oleh anak-anak masa kini. Bah­kan di pedesaan pun jarang terlihat anak yang membuat mainan dari material alam di sekitarnya. Mainan modern yang terbuat dari bahan-bahan plastik, kertas dan logam lebih banyak didapat oleh anak. Pe­rubahan dan pengembangan mainan yang terjadi di ma­syarakat masa kini umumnya dikarenakan keberadaan mate­rial alam yang sulit diperoleh, atau fungsi mainan yang sudah bergeser. Bahkan beberapa mainan sudah punah dan ada pula yang berubah penggunaanmaterial dasarnya meskipun fungsinya sama, terutama hal itu terjadi di perkotaan.

Diasuh Alam

Kehidupan anak Indonesia, di lain sisi banyak terenggut oleh pendidikan yang menun­tut mereka untuk belajar tak kenal waktu untuk beberapa mata pelajaran yang ditentu­kan sekolah. Dibanding mis­alnya, pendidikan yang men­garah kepada lingkungan dan keluarga. Kondisi anak seka­rang cenderungdituntut me­nyelesaikan pendidikan formal secepat dan sedini mungkin, bahkan tidak jarang kondisi psikologis dan perkembangan anak ikut dikesampingkan. Dan, seorang anak dinilai cer­das dan berhasil jika sudah dapat membaca dan berhitung.

Di tahapan pendidikan usia dini secara formal maupun informal, mainan tradisional hampir tidak diperkenalkan lagi sebagai media bermain anak, hal ini karena terbatas­nya sumber dan data tentang mainan yang ada. Padahal, mainan hakikatnya dapat di­jadikan media belajar bagi anak, seperti melatih melatih gerak motorik dan kreativitas. Mainanjuga merupakan media yang dapat melatih kecerdasan dan keterampilan.

Harus disadari, permain­an tradisional, selain mem­pererat anak dengan alam juga memperhatikan kebu­tuhan anak dalam mencapai perkembanganusianya agar mempunyai kedekatan emosi dengan wilayah tempat mereka tinggal. Bahkan material yang digunakan untuk membuat permainan juga tergantung pada penyediaan alam atau di lingkungan sekitar mereka. Alam Indonesia yang kaya ini sesungguhnya menyediakan tempat bermain yang menakjubkan.

Lingkungan, latar belakang dan sejarah termasuk kehidu­pan masyarakat yang berbeda, secara bertahap telah mencip­takan bentuk tata asuh anak yang berbeda pula di setiap tem­pat. Demikian pula hal ini jelas memengaruhi jenis dan karak­ter mainan dan permainan yang muncul di wilayah tersebut. Ini­lah yang menumbuhkan jenis permainan tradisional menjadi sangat beragam. Hampir setiap daerah mempunyai permainan mereka sendiri. Banyak dian­taranya memiliki kesamaan dengan daerah lain dalam segi bentuk dengan penamaannya saja yang berbeda.

Menariknya, hubungan harmonis ini bahkan hadir di kehidupan mereka sehari-hari, termasuk dalam menyiapkan generasi penerus. Kesadaran itu mereka terapkan dalam pola asuh anak yang mendorong anak agar mampu menjaga dan menghormati lingkungan. Anak sedini mungkin harus dikenalkan dengan lingkungan tempat mereka tinggal. Dalam jenis permainan tradisionalanak, bentuk tingkat kecer­dasaan untuk menciptakan sebuah karya yang sangat di perlukan dalam masyarakat, mereka sangat memeperhati­kan alam sekitar sebagai ba­han dan jenis permainannya, sehingga permainan yang ada sangat diperngaruhi oleh alam dan lingkungan sekitar.

Keragaman bentuk dengan berbagai variasi dan fungsinya merupakan hasil penghayatan yang mendalam masyarakat terhadap alamnya, dan meru­pakan sebuah kajian yang sangat diperlukan di masa sekarang. Kejelian mereka bu­kan menaklukan alam (seperti yang banyak terjadi sekarang) tetapi menyelaraskan dengan alamnya. Pola penyelarasan itu adalah upaya mengatur ke­seimbangan dengan alam ling­kungannya, terutama melalui bentuk, material atau media, serta keindahan yang dipan­carkan pada karakter mainan­nya. Keindahan dari mainan masyarakat Sunda misalnya, umumnya memiliki hubungan dengan mainan yang dikem­bangkan oleh para leluhurnya. Beberapa mainan diikut ser­takan pada upacara-upacara adat sebagai persembahan, atau mainan yang peragakan untuk ‘menghibur’ para arwah leluhur.

Berbagai jenis permain­an yang berkembang di ta­tar Sunda diantaranya Be­beletokan, Suling, Ketepel, Anjang-anjangan, Encrak, Panggal-gasing, Sasapian, Angsretan, Bedil Sorolok, Tok-tokan, Celempung, Karinding,Jajangkungan, Kukudaan, Sesengekan, Kelom batok, Kokoprak, Empet-empetan, Bangbara ngapung, Ker-ker­an, Sumpit, Bedil jepret, Ro­rodaan, Gogolekan, Keprak, Ewod, Kekerisan, Simeut cu­dang, Sisimeutan, Posong, Pamikatan, Nok-nok, Dog-dog, Hatong, Toleot, Hahayaman ju­kut, Dodombaan, Kakalungan, Golek kembang, Kolecer dan Sanari. Tentu saja, ini nama-nama yang sudah asing, bu­kan?

Tak hanya itu, si ma­syarakat Sunda permainan rakyat zaman dahulu menem­pati kedudukan yang sangat penting. Dalam pendidikan tradisonal, penghargaan ter­hadap seorang anak sangat pentinghal ini seperti diung­kapkan dalam Naskah Siksa Kanda Ng Karesian bahwa anak pun bisa menjadi teladan untuk orang dewasa ungkapannya yaitu bahwa mendapat ilmu dari anak disebut guru rare. Mendapat pelajaran dari kakek disebut guru kaki, mendapat pelajaran dari kakak disebut guru kakang, mendapatkan pelajaran dari toa disebut guru ua. Mendapat pelajaran di tempat bepergian, di kam­pung di tempat bermalam, di tempat berhenti, di tempat menumpang, disebut guru ha­wan. Mendapat pelajaran dari ibu dan bapak disebut guru kamulan (Saleh Danasasmita, 1987: 104). Ini membuktikan bahwa kedudukan masing-ma­sing akan menjadi sebuah te­ladan bagi lainnya, begitu pula seorang anak hakikatnya men­jadi ‘guru’ bagi yang lainya.

Menjawab Zaman

Tiap zaman memiliki tipi­kal permainannya sendiri karena permainan adalah bagian dari kebudayaan. Je­nis permainan pun sangat erat dengan perkembangan budaya masyarakat setempat. Oleh karenanya, permainan tradis­ional sebaiknya tidak selalu dimaknai sebagai permainan dari masa lalu, permainan tradisional seharusnya dipa­hami sebagai bentuk-bentuk permainan yang muncul dari kreativitas masyarakat se­tempat; dari, oleh, dan untuk mereka.

Permainan tradisional me­mang memperlihatkan adanya fungsi penyampaian budaya, karena biasanya permainan itu berasal dari generasi sebel­umnya. Dengan kata lain, me­mainkan atau menggunakan mainan itu sekaligus mempela­jari budaya. Secara tidak lang­sung jika kita lebih memilih permainan dari budaya lain, kita juga telah mengajarkan bu­daya asal mainan itu ketimbang budaya sendiri.

Dengan kondisi lingkunganbermain dan pendidikan yang sudah berbeda, permainan tradisional kini jarang di­mainkan oleh anak-anak. Hal ini semakin diperparah oleh generasi tuanya yang terli­hat mandeg dalam mencip­takan dan mengembangkan permainan-permainan baru berdasar pada budaya sendiri. Seolah tidak ada pilihan, anak kini lebih mengenal jenis per­mainan yang berasal dari luar negeri. Karenanya tidak meng­herankan mereka lebih akrab dengan budaya luar sejak dini. Keadaan yang terkondisikan oleh lingkungan ini akhirnya telah menjauhkan anak dari permainan tradisional. Dunia pendidikan pun sejatinya ikut andil karena permainan tradis­ional hampir tidak diperkenal­kan sebagai media bermain atau belajar, mungkin sesekali saja, itu pun sebagai hiburan, bukan kebutuhan.

Mainan dan permainan tradisional lebih lanjut di­anggap sebagai mainan kelas bawah, kotor, tidak berkuali­tas, dan berbahaya. Kondisi seperti inilah yang lebih mem­buat anak-anak kita enggan mengenal ‘permainan tradis­ional’. Untuk beberapa kasus bahkan mereka benar-benar ti­dak mengenalnya sama sekali.

Dibuang Sayang

Kita memang tidak bisa mel­awan derasnya arus teknologi dengan sejumlah permainan yang ikut membanjiri pasar anak. Untuk membendung permainan dari luar dan me­lestarikan permainan tradis­ional Sunda berubah dalam bentuk dan fungsinya, teru­tama dalam pemakaian bahan sintetis yang dianggap lebih mudah dan kuat. Pola peruba­han terjadi dalam beberapatahap, dari mainan yang diang­gap masih asli atau dibuat dari material alam sampai peruba­han bentuk modern dengan penggunaan material sintetis. Pengaruh bentuk mainan bua­tan luar negeri pun ternyata mempengaruhi pula desain mainan anak tradisional. Pe­niruan terhadap berbagai jenis mainan yang ada di masyarakat Sunda berasal dari bentuk-ben­tuk yang banyak dilihat oleh seorang anak di tayangan tele­visi atau media cetak.

Perubahan dalam berbagai hal ini merupakan sebuah tro­bosan baru untuk menjadikan permainan tradisional di sukai oleh anak-anak. Memang den­gan perubahan ini akan banyak memperngaruhi tingkat kreati­vitas anak-anak sebab per­mainan permainan sekarang di peroduksi secara masal oleh pabrik-pabrik.

Beberapa pihak memang telah melakukan usaha-usaha agar anak-anak kem­bali mengenalpermainan tradisional, permainan za­man dahulu tepatnya. Tanpa mengesampingkan usaha yang dilakukan, permainan anak se­harusnya juga terus diciptakan, diperbaharui dan setiap zaman harusnya terus menyesuaikan dengan kondisinya. Bagaimana pun anak-anak yang sekarang pasti akan merasa sangat jauh jika langsung dikenalkan den­gan bentuk asli permainan yang ada pada masa lalu. Es­ensi inilah yang seharusnya diperkenalkan kepada 150 mu­rid Sekolah Dasar (SD) dari 40 kecamatan di Kabupaten Bogor yang mengikuti Festival Per­mainan Tradisional dan Mod­ern 2015 di Stadion Persikabo, Cibinong, Rabu (30/9/2015) lalu. Sayang, dalam kegiatan itu, hanya tiga jenis permainan yang diperkenalkan: enggrang, dagongan dan bakiak. Sehing­ga, berbagai penanaman nilai yang seharusnya terpupuk, hanya menjadi bumbu pe­nyedap zaman.

Perlahan namun pasti, kini banyak permainan tradisionalIndonesia mulai dicoba disesuaikan dengan zaman. Pola perubahannya terjadi dalam beberapa tahap, dari mainan yang dianggap masih asli atau dibuat dari material alam sampai perubahan ben­tuk modern dengan penggu­naan material sintetis, hingga digital. Sayangnya, justru bu­kan disesuaikan dengan zaman tapi disesuaikan dengan ben­tuk mainan dari luar negeri. Perubahan dalam berbagai hal ini konon merupakan sebuah terobosan baru untuk menja­dikan permainan tradisional di sukai oleh anak-anak. Peruba­han ini justru memengaruhi tingkat kereativitas anak-anak sebab permainan-permainan sekarang diproduksi secara massal oleh pabrik-pabrik, bu­kan oleh anak sendiri. Pada gilirannya, kita secara tidak sadar telah ikut bertanggung jawab dalam menanamkan pola hidup konsumtif kepada anak. Bermain untuk seorang anak menjadi mahal, lebih sial lagi, kelas sosial bahkan su­dah menghantui anak di saat merekaseharusnya hidup tan­pa sekat dan perbedaan.

Melestarikan tidak sela­manya berarti mempertahankan bentuk. Dalam kasus permainan tradisional seha­rusnya melestarikan bukan hanya membuatnya sama pada bentuk-bentuknya saja, tapi juga pada apa yang ingin disampaikan oleh permainan tradisionalitu, nilai-nilai bu­daya apa yang ada di dalam­nya dan apa manfaatnya.

Karena bukan tanpa sebab permainan itu dahulu dicip­takan. Jika terus-menerus ter­fokus pada bentuknya saja, maka zaman akan meninggal­kan, setidaknya itu sudah ter­bukti. Sekali lagi, kita masih terlalu naif jika memandang budaya hanya sebagai benda. (*)