Untitled-15Memasuki musim hujan biasanya muncul penyakit demam berdarah, untuk mengantisipasinya Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor mengimbau masyarakat agar Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), untuk mencegah warga terkena penyakit demam berdarah dengue terutama saat pancaroba.

Oleh : LATIFA FITRIA
[email protected]

“Saat ini, Kabupaten Bogor sedang memasuki musim pancaroba. Dinkes mengim­bau warga untuk mengopti­malkan pencegahan dan pe­nyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD),” kata Kepala Dinas Ke­sehatan Kabupaten Bogor, Camelia.

Ia mengatakan melalui kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dan PHBS, masyarakat akan dapat terhin­dar dari penyakit DBD, dan tetap se­hat selama musim pancaroba.

“Kami mewaspadai penyebaran penyakit DBD karena jumlah penderi­ta meningkat saat musim pancaroba,” katanya.

Ia mengatakan memang biasanya, penyakit DBD muncul akibat curah hujan tinggi yang bisa menggenangi halaman rumah maupun selokan. Melalui Puskesmas desa diharapkan masyarakat bisa mendapatkan pe­nyuluhan langsung untuk terhindar dari penyakit DBD.

“Saya sudah siapkan tim reaksi cepat PHBS di puskesmas desa dan masyarakat juga harus berperan aktif agar masyarakat bisa hidup sehat dan bersih,” imbuhnya.

Karena itu, pihaknya meminta masyarakat terus melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui kegiatan mengubur, menutup barang-barang bekas dan menguras air bak mandi.

Di samping itu, mengena­kan kelambu, menggunakan obat nyamuk, menutup lubang potongan bambu, dan menyebar abate di ka­mar mandi.

Gerakan PSN dinilai sangat efektif untuk memutuskan mata rantai pe­nyebaran DBD. “Kami yakin gerakan PSN itu bisa mematikan populasi jen­tik-jentik nyamuk aedes aegypti itu,” jelasnya.

Ia mengintruksikan pusat kese­hatan masyarakat (Puskesmas) dapat mengantisipasi penyebaran penyakit DBD. Selain itu mengimbau warga jika tiga hari mengalami panas dingin menggigil dan terlihat bercak merah-merah sebaiknya segera ke puskes­mas atau rumah sakit setempat.

“Kami terus mendorong masyara­kat agar berpartisipasi untuk mengan­tisipasi sebaran DBD,” katanya.

Pihaknya belum menemukan ka­sus kejadian luar biasa (KLB) akibat DBD di Kabupaten Bogor. Memang ada yang sudah terkena penyakit DBD tetapi tidak sampai meninggal.

Jika petugas menemukan dan mendapatkan laporan dari masyara­kat ada daerah yang terkena penyakit DBD. Maka petugas akan melakukan penyuluhan dan pengasapan (foging) di daerah endemik DBD.

“Jika ada penemuan DBD kami akan bergerak cepat untuk melaku­kan penelitian epidemiologi,” kat­anya.

Ia mengatakan, bila positif ter­jangkit DBD tentu kami akan melaku­kan pengasapan. Hingga kini Dinkes Kabupaten Bogor melalui puskesmas terus melakukan kegiatan gerakan PHBS dan PSN guna mencegah pe­nyebaran penyakit menular, terma­suk penyakit DBD.

“Kami tidak henti-hentinya mem­berikan sosialisasi PHBS untuk mence­gah penyakit DBD itu,” terangnya.

Terkait dengan siaga bencana, Dinkes Kabupaten Bogor siaga satu untuk memberikan bantuan kesehat­an ketika terjadi bencana longsor dan banjir.

Memang saat ini wilayah Kabu­paten Bogor sedang mengalami curah hujan yang cukup tinggi. “Tim reaksi cepat Dinkes bencana memang sudah ada,” tambahnya.

Namun, Ia sangat berharap tim reaksi cepat bencana Dinkes Kabu­paten Bogor juga bisa mendapatkan pelatihan dan pendidikan saat terjadi bencana minimal satu tahun sekali.

Karena saat ini, tim reaksi cepat bencana yang dimiliki Dinkes san­gat dibutuhkan untuk mencegah jatuhnya korban jiwa. “Kami selalu siap melayani masyarakat untuk mendapatkan pengobatan tanpa me­nyulitkan,” tandasnya. (*)

1 KOMENTAR

Comments are closed.