Untitled-21Di tengah miskin prestasi persepakbolaan nasional, ternyata ada putera bangsa yang harum di negeri orang. Namanya masih asing di telinga publik Indone­sia. Namun, siapa sangka, bocah berusia 9 tahun itu mampu meng­grebak jagad Uni Emirat Arab.

(Yuska Apitya Aji)

ADALAH Abdurrahman Iwan. Bocah ini menjadi bintang yang bersinar di Liga Junior Qatar setelah musim lalu menc­etak 42 gol. Rambutnya terurai panjang sebahu, Abdurrahman tak terlihat ban­yak berbeda dengan rekan dan lawan saat berada di atas lapangan.

Sama juga seperti pemain cilik yang berebut bola bersamanya, Abdurrah­man punya kepercayaan diri tinggi un­tuk mencoba menggocek lawan dengan trik dari kaki-kaki kecilnya serta meng­giringnya jauh hingga ke kotak penalti.

Perbedaan mencolok Abdurrahman dibanding bocah-bocah lain yang ber­laga di Qatar Star League U-9 tentu ada­lah jumlah gol yang dia buat. Di musim terakhirnya (2014/2015) siswa grade 4 di Middle East International School itu membuat 42 gol dalam 11 pertandingan. Dengan rata-rata membuat 3,8 gol setiap laga, Abdurrahman tak punya pesaing dalam merebut gelar topskorer.

Hebatnya, satu musim sebelumnya (2013/2014) Abdurrahman juga punya statistik gol yang luar biasa tinggi. Saat menghadapi Al Shailiya, dia mele­sakkan 14 gol, tujuh gol dibuat di setiap babak.

Bukan cuma gol, Abdurrahman juga punya koleksi assist yang tak kalah banyak. Di musim lalu saja dia membuat 11 assist. Sementara pada 2013/2014 dia tak pernah sekalipun melewatkan pertandingan tanpa bikin gol dan assist.

Baca Juga :  KPK Perintahkan Interpol Lacak Harun Masiku

Lahir di Doha pada 14 Agustus 2006, Abdurrahman merupakan anak keempat dari empat bersau­dara. Ayahnya, Iwan Kuswanto, su­dah menetap selama 15 tahun di Qatar dan kini bekerja di salah satu perusahaan pengilangan minyak.

Minat besar Abdurrahman ter­hadap sepakbola ditularkan ayahnya yang adalah seorang Bobotoh—seb­utan untuk kelompok pendukung Persib Bandung. Terlepas dari itu, Iwan melihat kalau anaknya memang punya ketertarikan besar pada sepa­kbola sejak usianya masih balita.

“Sejak umur 2 tahun terlihat minatnya di sepakbola karena saat diajak keluar untuk shopping yang diincarnya selalu bola untuk dimiliki. Dia juga sering main bola di dalam rumah, sementara kalau main ke luar bersama teman-teman dia juga selalu bawa bola. Abdurrahman mulai men­genal sepakbola sejak sering saya ajak bermain ke lapangan. Umurnya 4 ta­hun ketika itu,” kisah Iwan.

Karena melihat minat besar anaknya pada sepakbola, Iwan lantas mencoba mendaftarkan Adburrah­man ke akademi Al Wakrah SC, yang kebetulan berlokasi tak jauh dari ru­mah mereka. Al Warkah adalah salah satu klub profesional dan kini ber­rada di level teratas sepakbola Qatar

Tapi keinginan menimba ilmu sepakbola di akademi klub tersebut tak berjalan mulus. Al Warkah me­nolak Abdurrahman karena mereka hanya menerima warga negara Qa­tar untuk masuk dalam akademinya.

Baca Juga :  Relawan KNPI Bantu Kadin Salurkan Bantuan ke Warga Isoman

Tapi Iwan dan Abdurrahman tidak menerima begitu saja pe­nolakan tersebut. Demi menge­jar cita-cita dan tekad menuntut ilmu sepakbola pada level yang lebih tinggi, mereka berdua setia mendatangi sesi-sesi latihan aka­demi Al Warkah. Setiap hari Iwan dan Abdurrahman menyaksikan sesi latihan dari pinggir lapangan. Abdurrahman datang sebagai penonton. Tapi dia mencuri banyak perhatian di sana lantaran memakai seragam sepakbola, lengkap dengan sepatunya. Bersama ayahnya dia melakukan itu berhari-hari.

Keteguhan hati Abdurrahman berbuah manis. Salah seorang pelatih lokal Al Wakrah, Abdullah, mempersi­lakan Abdurrahman bergabung den­gan akademi tersebut. Sejak hari itu Aburrahman pun mendapat pelatihan sepakbola profesional dari Al Wakrah. Dia berlatih tiga kali dalam sepekan.

Tapi Abdurrahman belum menja­di anggota resmi akademi Al Wakrah, klub tidak memasukkan namanya ka­rena dia bukan warga negara Qatar. Abdurrahman harus menunggu sam­pai setahun sampai dia benar-benar jadi anggota skuad Al Wakrah Junior. Klub akhirnya memasukkan namanya karena dianggap punya potensi be­sar. Momen itu terjadi tahun 2012, saat umurnya genap 6 tahun.

Dengan kemampuan dan skill yang kian terasah, Abdurrahman ke­mudian menunjukkan kalau dia me­mang pantas untuk masuk Al Wak­rah. Dimainkan sebagai penyerang, bocah yang juga hobi main basket itu terus memberi gol dan kemenan­gan untuk timnya. Termasuk saat membuat sensasi dengan melesak­kan 14 gol ke gawang Al Shailiya.