072939500_1449459293-20151206-Inilah-10-Orang-Terkaya-di-Indonesia-Versi-Majalah-Forbes-2015-6KESUKSESANNYA sebagai pendiri PT Bank Mayapada Internasional Tbk. (Bank Mayapada) yang kini telah tumbuh besar menjadi bank swasta nasional, kemudian merambah bisnis kesehatan, properti, duty free, dan media telah menuai berbagai penghargaan. Tidak salah jika sebuah diskusi yang diadakan di Financial Club Jakarta, mengundang Dato’ Sri Prof. Dr. Tahir untuk membagikan kunci suksesnya.

Oleh : Latifa Fitria
[email protected]

Menurut Tahir, definisi sukses berbeda-beda bagi setiap orang. “Bagi saya, keluarga adalah hal yang terpenting, dan ketika saya memiliki anak-anak yang baik dan saya bangga terhadap mereka, maka saya sudah merasa sukses,” jelas­nya.

Menurutnya, anak-anaknya telah di­didik dari awal untuk menjadi seorang pemimpin. Tahir mengatakan bahwa dalam mendidik anak yang terutama adalah memberikan waktu bagi mereka. “Saya menghabiskan banyak waktu untuk anak-anak saya, menurut saya hal ini yang jarang dilakukan oleh seorang pengusaha saat ini, mereka terlalu banyak meng­habiskan waktu untuk bisnis. Kita bisa mengirim anak-anak untuk mendapatkan pendidikan ter­baik, misalnya ke Harvard, teta­pi ada saat-saat dimana orang tua harus ada bagi mereka,” kata Tahir.

Selain itu, pendidikan terbaik bagi anak adalah dengan menjadi contoh. Saya mengatakan kepada anak-anak saya, “Kalian harus menghormati saya, sama sep­erti saya menghormati orang tua saya. Kalian harus baik kepada saudara, sama sep­erti saya baik kepada saudara-saudara saya. Belajar lah dari saya, tidak perlu dari orang lain.” Bagi Tahir, contoh yang baik dalam sebuah keluarga adalah dasar dari semua pendidikan.

Bisa dilihat hasilnya, kini putra bungsu yang juga merupakan anak lelaki satu-satu­nya, Jonathan Tahir, telah menjadi pimpinan beberapa perusahaan, termasuk menjadi komisaris utama PT. Bank Mayapada dan ja­batan yang sama di perusahaan joint venture yang mengoperasikan Duty Free Shop (DFS) di Indonesia. Ketiga anak perempuan Tahir juga menjabat posisi penting di kerajaan bis­nis keluarga Tahir, bukan hanya karena mer­eka pewaris, namun karena mereka kompe­ten dan memiliki kemampuan memimpin yang telah dipupuk sejak dini oleh sang ayah.

Dalam menjalankan bisnisnya, Tahir memperhatikan tiga hal utama. Pertama, harus mengetahui posisi keuangan/ kapa­sitas diri sendiri. “Saya tidak akan melaku­kan sebuah bisnis, jika keuangan saya tidak sanggup. Saya tahu kekuatan dan kelemahan saya,” ungkap Tahir.

Kedua, memiliki tim kerja yang baik yang bisa mengimplementasikan gagasan-gagasan atau visinya. Ketiga, mengetahui bahwa bis­nis tersebut memiliki masa depan.

Selain ketiga hal tersebut, Tahir men­ganggap dirinya sebagai rock climber. Ia akan selalu meningkatkan kapasitas dirinya semakin hari semakin tinggi. Ia juga ingin menjadi berkat bagi sesama, ia senang meli­hat orang-orang mendapatkan kesembuhan, mendapatkan pendidikan yang baik, dan mendapatkan pertolongan. Semua inilah yang menjadi filosofi hidup Tahir, dan men­jadi tumpuan untuk meraih kesuksesannya.

Selama ini Tahir dikenal sebagai pebis­nis yang tidak hanya mencari keuntungan semata, melainkan memperhatikan aspek sosial. Hidupnya juga didedikasikan untuk kemajuan sejumlah bidang, seperti pendi­dikan dan olahraga. Ia kerap menuai peng­hargaan, antara lain Chancellor Citation dari chancellor University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Sebelumnya Tahir telah menerima penghargaan Entrepreneur of the Year 2011 dari Ernst & Young, penghargaan di bidang pendidikan oleh Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew (2011), dan masih banyak lagi.

Bank Mayapada yang didirikan Tahir bank yang memiliki segmen pasar di sektor usaha kecil dan menengah. Bank ini aktif menggerakkan pengusaha di daerah melalui gerai Mayapada Mitra Usaha. Karena keseriu­sannya dalam pengembangan usaha kecil, Tahir dianugerahi gelar goktor kehormatan oleh Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, pada 2008.

Dirinya pun diberi gelar Dato’ Sri dari Sultan di Malaysia namun dengan rendah hati Tahir mengatakan bahwa, “Saya hanya beruntung mendapatkan gelar Dato’ Sri, bu­kan hal yang spesial.” Menurutnya, setiap penghargaan yang didapat menjadikan diri kita senang, tapi yang harus diingat adalah setiap penghargaan ada tanggung jawab so­sialnya yang harus diberikan kembali untuk masyarakat. (*)