Untitled-4RIBUAN alumni SMAN 1 Bogor angkatan 1952-2015 larut dalam nostalgia saat mengenakan seragam putih-abu. Gelaran reuni akbar di Kebun Raya Bogor pada Minggu (20/12/2015) ini pun dihadiri muka-muka lawas yang sempat menjadi orang penting di negara ini, seperti mantan Menteri Perhubungan, Prof. Dr. Emil Salim, Guru Besar dan Pengamat Pendidikan Prof. Dr. H. Arief Rachman dan Walikota Bogor, Bima Arya, juga nampak hadir sebagai salah satu alumni Smansa.

Oleh : Latifa Fitria
[email protected]

Mereka semua nampak asik dan tidak malu un­tuk melepas rindu kawan lama semasa SMA. Bahkan, Bima sendiri tidak ragu saat meneri­ma tantangan dari teman sekaligus panitia un­tuk mengenakan wig perempuan dan berlagak bak rocker.

Berbagai rangkaian acara telah disediakan seperti ja­lan sehat, pemberian award bagi para alumni yang sudah mengabdikan dirinya pada negara, memainkan angklung oleh semua alumni yang hadir dan peresmian Ikatan Kelu­arga Alumni (IKA) Smansa.

Bima merasa senang dapat kembali bertemu dengan teman-teman lamanya saat remaja dahulu. Ia juga sangat bersyukur karena seluruh alumni sekolahnya mampu merawta silaturahmi dengan baik. Bima juga membagi be­berapa kenangan yang tidak bisa ia lupakan semasa SMA, ia bersama teman-temannya bahkan pernah merasakan belajar di gerbong sekolah (kelas darurat) yang letaknya paling belakang.

“Saya sama teman-teman pernah belajar di eklas darurat, kaya gerbong gitu, nongkrong di gang selot yang sampai sekarang gang fenomenal itu masih kami gunakan untuk acara reuni kecil-kecilan, terus dulu kalau malam minggu saya dan teman-teman melakukan roadshow dari rumah ke rumah karena pasti banyak yang sweet seven­teen,” kenang Bima, lulusan tahun 1991 Smansa Bogor.

Ia tidak memandang, jika jabatan adalah ‘segalanya’ bagi bapak dua anak ini. Sebab, jabatan akan ada masa be­rakhirnya, sedangkan persahabatan akan terus ada hingga kapan pun. “Jabatan itu ada batasnya, kalau persaudaraan dan persahabatan tidak berbatas. Pokoknya friends always be friend, inilah indahnya persahabatan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Keluarga Alumni SMANSA, Hania Rahma mengaku persiapan reuni akbar ini sudah di­lakukan sejak tiga bulan yang lalu. Bahkan ia dan tim-nya mentargetkan alumni sampai 1.500 orang, namun karena antusias alumni yang begitu besar hingga lebih dari 3.000 alumni turut serta dalam acara ini. “Reuni terakhir kali di­lakukan tahun 2004, tapi reuni kecil sering kali melakukan kegiatan-kegiatan yang melibatkan seluruh alumni, namun tidak sebesar reuni akbar,” tutur Dosen Magister Peren­cana dan Kebijakan Publik Universitas Indonesia (UI).

Selain itu, momen reuni ini juga sebagai momentum yang tepat untuk meresmikan Ikatan Keluarga Alumni Smansa.”Jadi ikatan ini tidak hanya sebuah perkumpu­lan saja, tetapi sekarang sudah berbadan hukum dengan tujuan IKA bisa lebih leluasa untuk membuat kegiatan apapun baik sosial maupun kegiatan internal kami,” pa­parnya. (*)