Ngawangun Bogor Nu Macakal

krb270909resizeDARI masa lalu Pakuan sebagai ibukota Pa­jajaran, kita dapat belajar banyak tentang bagaimana membuka hati, fikiran, dan kesa­daran untuk bersatu mewujudkan keadilan yang menyejahterakan – mengangkat harkat dan jati diri kita sebagai bangsa yang tahu diri.

Oleh : Bang Sem Haesy

BANYAK kisah-kisah masa lam­pau yang mestinya mengge­dor kita untuk kembali men­jadikan Bogor (khususnya) berjaya. Dari Sri Baduga Maharaja yang berjaya di abad ke 15 dan 16, kita bisa belajar ban­yak tentang heroisme dan patriotisme dalam kearifan untuk men­empatkan kesejahteraan rakyat sebagai pangkal komitmen perjuangan.

Sri Baduga Prabu Sili­wangi, terkenal dengan sesanti kepemimpinan yang multidimensi dan tak dibatasi oleh ruang waktu. Ciri kepemimpinan yang ditan­dai oleh: Pakena gawe rahayu pakeun heubeul jaya di buwana, pakeun nanjeur di juritan. Menegak­kan kebajikan, agar lama berjaya di du­nia, agar selalu mendapat kemenangan dalam menghadapi peperangan (baik fisik maupun dalam menghadapi fakta-fakta brutal perjalanan bangsa).

BACA JUGA :  Harga Honda CRF250 Series Naik, CRF250 Rally Kini Hampir Tembus Rp 100 Juta

Beberapa masa kemudian, spirit itu tertampak pada kemampuan Pra­bu Surawisesa yang visioner. Sukses yang dilakukan Prabu Surawisesa di­lanjutkan oleh Sultan Ageng Tirtayasa atau Sultan Abdul Fattah dari Banten, mengembangkan Karangantu sebagai basis perdagangan interinsuler dan Ciwandan sebagai pelabuhan untuk jalur perdagangan internasional, mengimbangi kompeni (penjajah Be­landa) di perairan Nusantara.

Kala itu, wilayah yang dikenda­likan langsung dari Pakuan, meliputi seluruh kawasan dari Selat Sunda sampai Galuh, dengan beberapa ba­sis. Termasuk yang langsung dalam wilayah Pakuan (Banten, Purwakarta, Sukabumi dan Cianjur). Pada masa perang gerilya, sesanti Prabu Sili­wangi, dimanifestasikan sebagai cara utama oleh Haji Prawatasari dari Jam­pang – Sukabumi Selatan yang sohor dengan sebutan Raden Alit, melaku­kan strategi perang gerilya.

Strategi itu, kemudian dipraktikan dalam strategi mempertahankan ke­merdekaan Republik Indonesia oleh Tentara Republik Indonesia pimpi­nan Jenderal Sudirman. Terutama, karena apa yang dilakukan Raden Alit berhasil menjadikan tatar Sunda bagian Selatan menjadi defence belt yang kuat.

BACA JUGA :  Masuki Tahun Ke-11, Bogor Hujan Trail 2026 Sukses Sedot Antusiasme Ribuan Rider Nusantara hingga Mancanegara

Dengan cara seperti itu pula, kepemimpinan Mama’ Bakrie di Sem­pur – Purwakarta mendidik para mu­ridnya yang kemudian menjadi kyai besar, pejuan-pejuang penggerak ke­merdekaan sejati.

Seluruh dimensi perjuangan sejak era Prabu Siliwangi sampai dekade 40-an bertopang pada prinsip dasar: rempug jukung sauyunan pahue­yeuk-heuyeuk leungeun, ngawangun bali geusan ngajadi ku tekad anu satuhu. Bersatu padu mewujudkan masyarakat adil makmur, aman ten­teram berlandaskan iman dan Taqwa.

Kini, setelah 70 tahun Indone­sia merdeka, kita harus terus ber­satu ngawangun Bogor nu macakal, rancage, tur parigeul. Membangun Bogor yang mandiri, kreatif, dan ber­prestasi, sebagai bagian dari upaya membangun Jawa Barat dan Indone­sia yang berdaya saing dan unggulan dalam peradaban. Pondasinya adalah memahami pembangunan sebagai gerakan budaya yang menghidupkan jati diri dan sebagai akar pergerakan ke masa depan.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================