Untitled-16HARGA beras di sejumlah pasar Jabodetabek mendadak naik. Presentase kenaikannya juga tak wajar, yakni antara 10 hingga 20 persen. Bahkan, tak sedikit pedagang yang me-ngaku kehabisan stok beras. Apa penyebabnya?

RISHAD NOVIANSYAH| YUSKA APITYA
[email protected]

Pantauan di sejumlah pasar tradisional di Kota Bogor, harga beras mengalami lon­jakan di kisaran 15 persen. “Harga kami naikkan karena stok juga dapat sedikit dari Cianjur. Mau gimana lagi, disananya udah mahal,” kata Sartono(40), pedagang beras di Pasar Anyar Bogor, Kamis (21/1/2016).

Harga beras di pasaran sebelumnya Rp7500 per liter. Hingga akhir pekan kemarin harga masih bertahan Rp8000 per liter. “Memang naik antara 15 sampai 25 persen. Kami sudah lapor ke Bulog dan Dis­perindag Provinsi Jawa Barat. Secepatnya sidak digelar,” kata Kadisperindag Kota Bo­gor, Bambang Budiyanto, Kamis (21/1/2016).

Bambang membeberkan, ada indikasi permainan harga beras di Bogor. “Mafia ada. Kami akui itu ada. Kami akan sikat habis. Lihat saja nanti,” kata dia.

Bambang juga mengaku telah melapor ke Bareskrim Mabes Polri untuk secepatnya melakukan penelusuran. “Indikasi tempat penimbunan dan pelakunya sudah kami pantau. Kami sudah lapor ke Mabes Polri, biarlah kepolisian yang eksekusi,” kata dia.

Terpisah, Kabid Ketahanan Pangan pada Distanhut Kabupaten Bogor, Prase­tio Wati, membenarkan jika ada kenaikan harga beras di hampir seluruh pasar tradis­ional di Kabupaten Bogor.

“Ada efek kemarau panjang tahun lalu. Saat ini, petani masih menanam padi. Jadi pasokan memang berkurang. Februari nanti mungkin panen raya. Permintaan tinggi, diperparah dengan stok minim. Ini dampak global,” kata dia.

Sementara itu, Kementerian Perdagan­gan (Kemendag) siap menggelar operasi pasar beras setelah harga komoditas terse­but terus menunjukkan tren peningkatan 10 persen.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Srie Agustina mengatakan, operasi pasar akan dilakukan sesuai dengan ketentuan jika kecenderungan peningkatan harga beras mencapai 10 persen. Operasi pasar juga dilakukan berdasarkan situasi yang terjadi pada saat itu. “Kalau kita antisipasinya, ini kecenderungannya lebih dari 2 persen kita sudah was-was. Karena kalau lebih dari 2 persen itu untuk beras termasuk tinggi,” kata Srie di Jakarta, Kamis (21/1/2016).

Patokan peningkatan harga tersebut di­ihat berdasarkan perbandingan harga pada periode sebelumnya. Jika dalam dua min­ggu berturut-turut kecenderungan harga sudah sampai di ambang batas lebih dari 2 persen, maka kenaikan harga tersebut menurut Srie perlu dikhawatirkan. Dirinya menyebutkan bahwa harga beras dalam enam bulan terakhir sudah naik hingga 4,8 persen.

Menurutnya, beras agak berbeda den­gan komoditas lain. Beras harus mencu­kupi, tersedia, dan terdistribusi ke seluruh Indonesia. Sehingga kenaikan harga yang ditolerir pun berbeda dengan komoditas lainnya. “Beras, jika lebih dari 2 persen itu tinggi, biarpun kita punya aturan di Per­mendag lama itu sampai 10 persen. Tapi kalau lebih dari 2 persen sudah harus siap siaga,” kata dia.

Laporan Perkembangan Harga Barang Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagan­gan menyebutkan bahwa pasokan rata-rata beras ke Pasar Induk Beras Cipinang pada Januari (s/d Senin, 18 Januari 2016) sebesar 3.186 ton. Jumlah tersebut naik 17,61% bila dibandingkan dengan periode yang pada tahun lalu.

Demikian pula penyaluran rata-rata be­ras ke pasar-pasar wilayah pada Januari (s/d Senin 18 Januari 2016) awbwae 2.720 ton, penyaluran tersebut naik 4,86 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Stok beras di PIBC pada Senin (18 Jan­uari 2016) mencapai 48.278 ton. Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutu­han DKI Jakarta selama kurang lebih 16 hari ke depan. Bila dibandingkan dengan stok normal 30.000 ton, jumlah tersebut naik sebesar 60,93 persen.

Realisasi perdagangan antar pulau beras di PIBC hingga 18 Januari mencapai 11.483 ton, naik 13,01 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 10.143 ton.

Kendati pasokan beras mengalami pen­ingkatan, harga beras justru mengalami kenaikan. Harga beras Muncul (I dan II) mengalami kenaikan harga berkisar antara 1,82% – 2,00 persen, sedangkan beras Mun­cul III dan IR 64 (I dan II) stabil dibanding­kan dengan harga minggu lalu.

Harga beras jenis IR 64 III menjadi satu-satunya beras yang mengalami penurunan harga sebesar 3,37% jika dibandingkan dengan harga pada minggu lalu.

Posisi harga beras medium rata-rata nasional pada minggu ketiga Januari 2016 sebesar Rp10.823/kg merupakan harga tertinggi dalam satu tahun terakhir. Harga tersebut naik 12,34 persen dari posisi har­ga beras medium rata-rata nasional pada Januari 2015.

Kementerian Perdagangan siap menga­dakan operasi pasar beras setelah komodi­tas tersebut terus menunjukkan tren pen­ingkatan.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli, meng­kritik sistem operasi pasar yang dilakukan selama ini. Ia membandingkan dengan intervensi langsung yang dilakukan me­lalui pedagang-pedagang menengah di masa lampau dengan kondisi sekarang.Belakangan ini, menurut Rizal, operasi pasar beras Bulog disalurkan lewat pemain-pemain besar. “Padahal pemain besar ini sudah punya market power atau kekuatan pasar,” tuturnya usai rapat di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (21/1/2016).

Pedagang besar yang diberi beras op­erasi pasar ini, kata Rizal, yang selanjutnya bisa seenaknya menentukan harga. “Kami mohon Bulog saat intervensi, lakukan kepa­da pedagang menengah sehingga lebih kom­petitif,” ujarnya. “Jangan diberikan sama pedagang besar di Cipinang. Nanti mereka cincay-cincay aja nentuin harganya sendiri.”

Tak efektifnya operasi pasar ini, menu­rut Rizal, juga terlihat dari masih terus nai­knya harga beras meskipun pemerintah telah mengintervensi pasar. Hal ini men­gutip dari penjelasan dari Kementerian Perdagangan yang menyebutkan walau­pun kondisi surplus, harga tetap naik. “Ini menunjukan ketataniagaan yang ng­gak beres. Harusnya kalau surplus harga turun,” kata Rizal. “Ada yang gak beres sistemnya di situ,” katanya.

Rizal juga menuding ada ketidakbere­san sistem operasi pasar. Hal ini di antaran­ya terlihat dari margin beras di pedagang yang jauh lebih tinggi ketimbang margin yang diterima petani.

Rizal menyatakan, seharusnya margin petani lebih tinggi agar ada insentif untuk petani dalam memproduksi. “Kami min­ta Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan KPPU menunjukkan sistem perdagangan beras itu kompetitif,” kata dia.

Sementara, Direktur Umum Perum Bulog, Djarot Kusumayakti, menekankan, upaya impor beras dari Pakistan masih belum bisa dipastikan. Sebab, hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan perintah untuk melakukan impor beras dari Paki­stan.

“Kalau ada perintah untuk melakukan impor, kami pasti lakukan. Tapi sampai saat ini belum ada,” tegas Djarot, di Kantor Bulog Jakarta, Kamis (21/1.2016).

Karena belum ada perintah, Bulog pun belum bergerak. “Kan belum ada perintah resmi ke Bulog soal impor Pakistan itu, makanya kami juga belum bergerak untuk melakukan impor,” terang Djarot.

Isu dilakukannya impor beras dari Paki­stan masih dalam bentuk nota kesepaha­man (MoU), antara Menteri Perdagangan Pakistan dan Menteri Perdagangan Indo­nesia. “Sekarang masih dalam bentuk MoU dan belum ada keputusan untuk impor sekarang,” tukasnya.

Sebelumnya, Tranding Corporation of Pakistan (TCP) dikabarkan telah memfi­nalisasi tender pertama atas 15 ribu metrik ton beras yang akan diekspor ke Indonesia. Dari total angka itu, ada 5 ribu metrik ton beras basmatik dan 10 ribu metrik ton be­ras non basmatik.

Menteri perdagangan Pakistan, Khur­ram Dastgir Khan, menyatakan, pihaknya telah menandatangani kesepakatan den­gan Indonesia untuk mengekspor 1 juta ton beras senilai US$ 400 juta ke Indonesia dalam empat tahun ke depan, dan pelak­sanaan kesepakatan ekspor tersebut akan dilakukan oleh Tranding Corporation of Pakistan (TCP) dan Perum Bulog.

Di sisi lain, Badan Urusan Logistik (Bu­log) tak memenuhi target revisi realisasi pengadaan beras pada Rencana Kerja Ang­garan Perusahaan (RKAP) 2015. Realisasi pengadaan beras hingga akhir tahun men­capai 3,2 juta ton beras atau setara dengan 73 persen dari target 4 juta ton.

“Ada banyak faktor yang memungkink­an adanya penurunan target revisi yang ada, salah satunya iklim. El nino yang tak bisa kita hindari,” kata Djarot Kusumayakti.

Djarot menegaskan untuk pencapaian penjualan kegiatan komersial mencapai sebesar Rp 6,5 triliun atau sebesar 50,32 persen dari target dalam revisi RKAP 2015. “Perhitungan perkiraan realisasi laba rugi konsolidasi perusahaan pada akhir tahun 2015 memperoleh laba sebelum pada akhir tahun sebelum pajak sebesar Rp 1,5 triliun dengan laba komprehensif sebesar Rp 1,1 triliun,” kata dia. (*)