66Uu1lWD1RPEMERINTAHAN Presiden Joko Widodo memberikan sejumlah kado manis di awal tahun 2016. Yakni penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax, Pertalite, Premium dan Solar. Bahkan tarif listrik untuk kelas 1.300 VA dan 2.200 VA juga diturunkan.

YUSKA APITYA AJI ISWANTO
[email protected]

Sepertinya Presiden Jokowi ingin rakyat Indonesia lebih optimis menghadapi tantangan 2016. Itu sebabnya, dia mendorong dilaku­kan penurunan sejumlah bahan bakar minyak dan tarif listrik untuk me­numbuhkan gairah baru masyarakat.

Terkait dengan hal tersebut, mulai 5 Januari 2016 besok, PT Pertamina (persero) menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax series termasuk Per­talite. Harga Pertalite turun menjadi Rp 7.950/liter dari sebelumnya Rp 8.200/ liter, artinya ada penurunan Rp 250. Sementra Pertamax turun menjadi Rp 8.450/liter dari sebelumnya Rp 8.650/liter atau turun Rp 200. Harga ini merupakan harga yang ditetapkan di wilayah DKI Jakarta dan seki­tarnya, termasuk untuk daerah Bogor. “Ta­hun lalu, Rp 8.500 hanya dapat Premium 1 liter. Sekarang, dapat Pertamax 1 liter, masih kembali gocap. Ayo serbu pakai Pertamax,” kata Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang, Minggu (3/1/2016).

Saat ini, lanjut Bambang, rata-rata kon­sumsi Pertamax mencapai 8.500 kilo liter (KL). Dengan penurunan harga, diharapkan konsumsi Pertamax terus meningkat. Bam­bang menjelaskan, penurunan harga dua jenis BBM tersebut disebabkan penurunan rata-rata harga RON 92 di pasar dunia, dan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. “Sehari sudah 8.500 KL, sebulan kali 30 lah. Kenaikannya hampir 4 kali karena 2014 hanya 2.300 KL/hari,” kata Bambang.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sum­ber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, juga mengumumkan, harga Premium dan Solar juga turun mulai 5 Januari 2016. “Har­ga Premium dari Rp 7.300/liter turun jadi Rp 6.950/liter ini harga keekonomian, tapi karena ada pungutan dana ketahanan ener­gi Rp 200/liter untuk Premium, maka harga Premium jadi Rp 7.150/liter, atau turun Rp 150/liter,” kata Sudirman, saat mengumum­kan penurunan harga BBM di Istana Negara.

Sedangkan untuk harga Solar dari Rp 6.700/liter harga keekonomiannya saat ini Rp 5.650/liter itu sudah termasuk subsidi Rp 1.000/liter, kemudian ditambah dana ke­tahanan energi Rp 300/liter untuk Solar. Jadi harganya Rp 5.950/liter.

Pertamina juga berjanji untuk memper­tahankan stok BBM jenis Premium dan So­lar meskipun harga untuk kedua jenis BBM tersebut turun mulai 5 Januari 2016 besok.

Baca Juga :  Kabar Duka, Mantan Ajudan Gus Dur Meninggal Dunia

Vice President Supply and Distribu­tion Pertamina, Fariz Aziz mengungkapkan, penurunan harga Premium dan Solar diper­kirakan akan membuat konsumsi kedua jenis bahan bakar tersebut meningkat. Oleh kare­na itu, Pertamina tetap mempertahankan stok untuk mengantisipasinya. “Justru kami akan menambah stok. Jadi tidak ada pengu­rangan,” kata Fariz, Minggu (3/1/2015).

Faris memperkirakan, dengan harga Premium dan Solar yang lebih murah, maka masyarakat akan meningkatkan aktifitas­nya. Peningkatan tersebut akan berdampak pada penambahan konsumsi BBM. Karena itu, Pertamina akan tetap menjaga stok BBM. “Kalau harga BBM turun maka orang akan banyak jalan-jalan. Jadi justru stok ha­rus dijaga,” tambahnya.

Untuk Premium, stok yang dipersiapkan mencapai 1,45 juta kilo liter (KL) atau men­cukupi untuk 18 hari dan untuk solar men­capai 1,5 juta KL atau cukup untuk 23 hari. Sedangkan untuk Pertamax cukup untuk 26 hari atau mencapai 229 ribu KL. “Itu posisi stok kita untuk saat ini. Ke depan akan kami up date,” jelasnya.

Tarif Listrik Juga Turun

Kabar gembira juga hanya datang dari PT PLN. Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga menuturinkan tarif untuk kelas domestik. Kepala Divisi Niaga PT PLN (Persero), Benny Marbun mengatakan, selain faktor nilai kurs dan turunnya harga Indonesian Crude Price (ICP) November dibanding Oktober, penu­runan tarif listrik khususnya untuk golongan tariff adjustment (penyesuaian tarif) karena keberhasilan PLN melakukan efisiensi.

“Turunnya tarif listrik ini salah satunya karena keberhasilan PLN melakukan efisien­si operasi, yang menyebabkan menurunnya Biaya Pokok Penyediaan Listrik (BPP),” kata Benny, Minggu (3/1/2016).

Sehingga, mulai 1 Januari 2016, tarif listrik tariff adjustment, turun, berikut daft­arnya:

Tarif listrik di tegangan rendah/TR (un­tuk Rumah Tangga), Bisnis skala menengah, Kantor Pemerintah skala menengah), turun dari 1509,38 Rp/kWh menjadi 1409,16 Rp/kWh.

Tarif listrik di tegangan menengah/TM (un­tuk Bisnis skala besar, Kantor Pemerintah skala besar, industri skala menengah), turun dari 1104,73 Rp/kWh menjadi 1007,15 Rp/kWh.

Tarif listrik di tegangan tinggi/TT (untuk Industri skala besar), turun dari 1059,99 Rp/kWh menjadi 970,35 Rp/kWh.

Sayuran Masih Tinggi

Kabar kurang sedap justru datang dari kawasan pasar-pasar tradisional. Hingga memasuki sepekan pertama 2016, harga berbagai komoditas hortikultura seperti ca­bai merah maupun rawit, bawang merah, bawang putih, tomat hingga bermacam say­uran masih terpantau naik.

Baca Juga :  1000 Pemuda di Kabupaten Bogor Dapat Vaksinasi Gratis

Memasuki musim penghujan, panen komoditas hortikultura mulai berkurang hingga pasokan ke pasar induk Kramat Jati pun ikut berkurang. Harga pun merangkak naik dua pekan terakhir. “Cabai, tomat, kol, wortel, kentang, semua harganya naik. Kalau nggak naik ya lagi mahal kayak bawang putih dan bawang merah. Naik sudah 2 minggu sejak 20 Desember 2015,” kata Sri Mulyani, salah seorang pedagang sayur di Pasar Min­ggu, Minggu (3/1/2015).

Senada dengan Sri, pedagang sayur Pasar Minggu lainnya bernama Ning men­gatakan, harga bermacam sayuran sudah naik sejak dua pekan terakhir. “Naik semua ini harga jualan saya. Tomat jualnya sudah Rp 18.000/kg tadinya Rp 15.000. Bunga kol Rp 14.000 tadinya Rp 12.000/kg,” sebut dia.

Bawang merah dan bawang putih meski tidak terjadi kenaikan harga sepanjang Na­tal dan tahun baru, namun harganya tetap tinggi. Saat ini, Sri menjual bawang merah dengan harga Rp 35.000/kg, sedangkan bawang putih Rp 32.000/kg.

Menurut Ning, seretnya pasokan say­uran dari sentra di daerah menjadi pe­nyebabnya. Pasokan di Pasar Induk pun berkurang. “Januari kan masuk musim hujan. Pasokannya berkurang. Barangnya sedikit yang cari banyak, ya jadi cepat habis memang jualnya, tapi kasihan yang beli ka­lau harganya mahal,” ujar Ning.

Di sejumlah pasar tradisional daerah Bogor, harga sayuran juga masih terpantau melambung. Harga cabai-cabaian men­galami lonjakan 50 hingga 70 persen dari harga awal. “Sekarang per kilo bisa Rp 70 ribu. Harganya naik turun segitu. Banyak petani mengeluh gagal panen karena hujan baru turun Desember,” kata Mulyadi(38), pedagang sayur di Pasar Anyar Kota Bogor, kemarin.

Soal fluktuasi harga sayur-mayur ini, Sekretaris Disperindag Kota Bogor, Ari Sar­sono Budi Rahardjo, mengatakan, stok sa­yur-mayur dari petani Cianjur dan Sukabumi memang mengalami penurunan.

“Kami sudah jadwalkan agenda sidak pasar dengan PD Pasar Pakuan Jaya. Pekan ini ya. Nanti dikabari. Keluhan memang banyak dari ibu-ibu rumah tangga dan pedagang. Kami tidak percaya begitu saja. Kecurigaan permainan tengkulak tetap kami waspadai,” kata Ari Sarsono. (*)