DSC06996Handayani Geulis lahir seperti rangkaian sebuah benang merah antara kecintaan menulis dan berkreasi. Setelah kedua anaknya beranjak dewasa, Ratna Handayani mulai menekuni hobbinya berkreasi, menjahit, dan memadupadankan potongan batik, saat itu lahirlah Handayani Djarik. Seiring berjalannya produksi patchwork, Ratna, belajar membatik. Berawal di Museum Tekstil, Jakarta sampai menyusuri kota-kota batik di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Oleh : Hesti Amelia
[email protected]

Desember 2011, lahirlah Batik Bogor Handayani Geulis. Mo­tif pertamanya ‘Tilu Sauyu­nan’ atau tiga kesatuan identi­tas Bogor, Bunga Bangkai khas Kebun Raya Bogor, Amorphophalus Titanium, Daun Taleus dan Kujang. Ketiganya merepresentasikan kepop­uleran Kota Bogor yang dilengkapi dengan keramahan dan kekuatan penduduknya.

Motif batik Tilu Sauyunan salah satu andalan Handayani Geulis yang sudah mendapat hak paten motif se­jak tahun 2012. Saat ini sudah terdapat 40 lebih motif, terdiri dari batik tulis, ba­tik cap, dan kombinasi tulis dan cap.

Menurut Georgian, pengelola Batik Handayani, selain berbentuk kain pan­jang, batik di tempat ini diaplikasikan jadi macam-macam produk. Misalnya sepatu, tas, aksesoris, taplak meja, hiasan dind­ing, totopong atau iket kepala khas sunda, kemeja, baju wanita seperti blouse, keba­ya kutubaru, selimut, dan masih banyak lagi.

Baca Juga :  3 Tahun Menggeluti Kerajinan Kayu, Pria 27 Tahun Ini Mampu Ciptakan Lapangan Kerja

Selain memproduksi, salah satu program yang dicetuskan Handayani Geulis Batik Bo­gor adalah edukasi dan sosialisasi batik. Pro­gram ini mengajarkan tentang batik, penger­tian dan proses membatik. Tujuannya selain mengenalkan batik sebagai salah satu budaya milik Indonesia juga menanamkan kecintaan batik kepada semua pihak, khususnya genera­si muda. “Karena generasi inilah yang nanti­nya bertanggung jawab terhadap masa depan baik di Indonesia,’’ tutur Georgian, anak su­lung Ratna Handayani.

Harga produk yang ditawarkan di sini san­gat beragam. Untuk aksesoris dan souvenir mulai Rp. 5.000, Untuk kain, tergantung pros­es dan bahannya, harga batik cap mulai Rp. 100.000 per dua meter hingga Rp. 400.000. Sedangkan batik tulis, lebih variasi lagi karena pembuatannya yang rumit dan ada yang men­capai dua bulan untuk sepotong kain 2,5 meter.

Di sini sambil membeli kain batik konsumen bisa melihat prosesnya, konsumen pun bisa ter­libat langsung dalam prosesnya.

Salah satu program di sini ada juga pelatihan membatik. pengunjung bisa datang kesini dengan biaya antara Rp. 50,000-Rp. 100.000. Program ini sangat diminati masyarakat maupun turis mancanegara. Bahkan selama tiga tahun terakhir, secara rutin tiga bulan sekali rombongan maha­siswi Women Seoul University menyempatkan membatik di Handayani Geulis di sela-sela kun­jungannya di Kota Bogor. Bahkan program ini diminati untuk persiapan karyawan purnabakti dari berbagai perusahaan atau instansi.

Baca Juga :  Pemuda Jasinga Sulap Getah Jadi Rupiah

Sejak dua tahun terakhir ini, Handayani Geu­lis Batik Bogor memiliki program Batik Goes To School. Program yang bekerjasama dengan CSR PT ANTAM. Ini adalah pengenalan membatik dan menanamkan kecintaan generasi muda terhadap batik. “Kami datang ke sekolah-seko­lah untuk kegiatan ini,’’ tutur Georgian. Tahun 2014, kegiatan ini dimulai di Kota Bogor dan Ka­bupaten Bogor. Dan, berlanjut di 5 wilayah di DKI Jakarta tahun 2015.

“Hal lain yang sangat kami syukuri adalah kami sebagai pengrajin di Kota Bogor sangat dibantu dan disuport oleh pemerintah Kota Bo­gor. Antara lain, kami sering mendapat pelatihan dan kesempatan pameran di berbagai tempat dan daerah. Itu sangat membantu perkembangan kami,” tambahnya.

“Harapan kami, semoga batik selalu eksis dan tumbuh lebih besar, terutama di kota Bogor dan batik dapat terus menjadi salah satu identitas bangsa Indonesia,” pungkasnya.