Untitled-18TABRAKAN beruntun kembali terjadi di Jalur Puncak. Tepatnya di tanjakan ‘kriting’ Selarong, Desa Gadog, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Minggu(14/2/2016).

ABDUL KADIR BASAMALAH| RISHAD NOVIANSYAH
[email protected]

Sebuah bus rombongan ziarah lepas kendali dan menabrak tiga mobil. Dua orang tewas, 65 orang lainnya mengala­mi luka-luka dan masih menjalani perawatan intensif.

Kecelakaan terjadi sekitar pu­kul 12:00, saat antrean kendaraan di Jalur Puncak padat merayap. Dari arah Puncak, melaju bus pariwisata Mulya Sari Pratama bernomor polisi F 7575 WM yang mengangkut rombongan peziarah.

Saat melintas di turunan Selarong, bus tiba-tiba oleng lantaran mengalami blong rem. Bus nahas itu lalu menghantam mo­bil Honda City nopol F 1078 KU yang dik­endarai Asep, warga Jasinga, Bogor.

Tak berhenti di situ. Bus tersebut terus melaju dan menabrak Kijang Inova bernopol B 1132 CGY dan Kijang Grand bernopol B1569 EMH yang ada di depan­nya. Bus kemudian melaju ke jalur kanan, dan menabrak motor Honda Beat yang se­dang parkir. Laju bus tak terkendali lantas menerabas motor serta truk di arah ber­lawanan (mengarah ke Puncak). “Dugaan sementara karena rem blong dan jalanan yang licin usai hujan. Namun kami akan melakukan olah TKP dan meminta ket­erangan sejumlah saksi untuk memastikan penyebabnya,” ujar Kasatlantas Polres Bo­gor, AKP Bramastyo Priaji kepada BOGOR TODAY, Minggu (14/2/2016) sore.

Catatan kepolisian menghimpun, se­dikitnya 2 orang tewas di lokasi kejadian, masing-masing Iyus Yusdi (45)- Sopir Bus Mulya Sari dan Uci Maulana (36), adalah kernet truk engkel. Sementara jumlah ko­rban luka tercatat 65 orang.

Terpisah, Pupu Subakti, Staff Rumah Sakit Umum (RSUD) Ciawi mengaku jumlah korban kecelakaan berjumlah 65 orang, 7 orang mengalami luka berat, yakni, Ujang Saefullah (60), Yuli Iriani (26), Nanni (17), Rahman (45), Entis (47), Ad­ang (55), Mukarom (24).

Menurut Pupu, sapaan akrabnya, pihak RSUD mengalami kesulitan un­tuk mendata korban pasien meninggal. Ini karena pihak keluarga korban belum melakukan konfirmasi ke RSUD Ciawi. “Data korban meninggal belum kita keta­hui, karena pihak keluarga belum melaku­kan konfirmasi ke bagian administrasi,” pungkas Pupu.

Salah satu korban lainnya, Muham­mad Hilman (25), mengatakan, dirinya be­serta rombongan berangkat dari Cipanas hendak berziarah di kawasan Empang, Kota Bogor. “Kita memang mau ziarah di daerah Empang. Total ada tiga bus yang berangkat. Nah, yang kecelakaan ini rom­bongan terakhir,” katanya.

Hilman hanya mengalami sedikit luka di bagian pipi kanan dan hingga berita ini diturunkan masih berada di RSUD Ciawi untuk mendapat perawatan bersama ko­rban lainnya.

Akses Buang Tak Terelakkan

Kebutuhan jalur darurat untuk Jalur Puncak memang sudah tak bisa disangkal lagi. Menurut Bramastyo, turunan itu cu­kup panjang dan memiliki tikungan tajam. Selain Selarong, titik rawan kecelakaan lainnya ada di turunan Leuwimalang, Bima Chakti, Widuri serta satu di Caringin, yakni turunan Ranji.

“Memang rawan. Karena panjang dan menikung tajam. Umunya, kecelakaan terjadi di Selarong saat jalan lengan. Kan kalau padat lebih terkontrol. Selain itu, kontur jalan bergelombang juga mem­pengaruhi,” kata bekas Kasatlantas Polres Bogor Kota itu.

Jebolan Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang itu menambahkan, penunjuk adanya kontur jalan bergelombang pun terus diperbaiki setiap kali ada pemeli­haraan jalan. Ditambah, rambu kuning yang terus menyala memberi peringatan kepada pengguna jalan terkait kontur itu.

Mantan Kasat Lantas Polres Bogor Kota ini mengaku sudah mengajukan pembua­tan jalur darurat di Selarong yang bisa di­gunakan pengendara menghentikan kend­araannya secara tiba-tiba, karena dibuat sedikit menanjak dan dipenuhi pasir untuk membantu kendaraan mudah berhenti.

“Turunan Selarong itu sebenarnya lebar. Dibuat begitu kan supaya pandan­gan pengguna jalan tidak sempit. Tapi, kondisi lebar itu malah dianggap harus melaju kencang. Mayoritas sih korban­nya bus dan truk yang remnya blong dan menghantam motor. Makanya perlu jalur evakuasi,” lanjutnya.

Alumni PTIK Angkatan 57 itu mengim­bau pengguna jalan tidak menambah ke­cepatan dari 40 kilometer per jam saat melewati jalan yang menanjak dan me­nikung tajam. “Jaga jarak aman dengan kendaraan di depan. Kalau ada kabut jan­gan memaksakan jalan terus,” katanya.

Sementara, Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Kabupaten Bogor juga mengakui jika kontur jalan disana ber­gelombang akibat usia Jalan Puncak yang telah puluhan tahun tidak dibangun baru.

Selain itu, jalan begelombang itu juga timbul karena banyaknya kendaraan yang menghentikan putaran roda saat mele­wati jalan tersebut. “Supaya bisa kembali lurus, harus ada peremajaan dua kali, lalu dibeton. Saya rasa, Kemen PU harusnya sudah berpiki kearah pembangunan jalan baru di Puncak,” ujar Kepala DBMP, Edi Wardani, Minggu (14/2/2016).

Menurut Edi, pihaknya telah mener­ima permintaan pembangunan jalur da­ruat di Selarong. Jalur tersebut sudah sejalan dengan Detail Engineering Design (DED) milik Pemerintah Kabupaten Bogor. “Jalur itu cuma butuh luas 122×122 meter persegi. Tapi lahannya harus dibebaskan dulu karena di jalur itu sekarang berdiri rumah dan vila punya warga. Tahun ini sih sudah direncanakan pembangunan­nya. Tapi masih terkendala administrasi,” pungkasnya. (*)