BARISAN perbankan di Indonesia masih ragu untuk menggeser penÂcarian dana bank dari pasar ritel ke pasar uang. Pasalnya, likuiditas di pasar uang terbatas meskipun suku bunga lebih rendah dibandingkan suku bunga deposito. Ujungnya, bank masih akan mengandalkan dana deÂposito untuk menjaga likuiditas.
Oleh : Winda Herviana
[email protected]
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja menyampaikan, jenis dana dari pasar uang berbeda dengan pasar riÂtel. Misalnya, dana dari pasar uang lebih efisien karena bunga lebih rendah namun dana bersifat jangka pendek jadi tak cocok untuk pembiayaan kredit bertenÂor panjang.
“Dana harian hanya untuk menutupi gap likuiditas temporary, tidak bisa untuk jangka panjang,†terangnya, Senin (18/4/2016).
Jahja menuturkan bahwa kedepannya, BCA masih mempertimbangkan untuk memperdalam pasar uang karena biaya dana lebih murah yang akan berdampak pada penurunan bunga kredit.
Senada dengan yang disampaikan oleh Direktur PT Bank Central Asia, Sekretaris Korporasi PT Bank Artos Indonesia Tbk Deddy Triyana juga menuturkan, piÂhaknya masih minim untuk melakukan pencarian dana di pasar uang. Porsinya sekitar 10 persen.
Ke depannya, perusahaan masih memanfaatkan pencarian dana di pasar ritel karena sumber dana lebih kuat meskipun biaya dana lebih mahal.
“Kelemahan mencari dana di pasar uang adalah tiÂdak masuk komponen rasio pinjaman terhadap simpaÂnan atau loan to deposit ratio (LDR),†terang Deddy.
Deddy berharap Bank Indonesia (BI) memberikan relaksasi rasio LDR untuk keseimbangan dana seperti lebih memperhitungkan likuiditas melalui loan to fundÂing ratio (LFR). (NET)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















