Untitled-24BOGOR, TODAY — Narapidana kasus terorisme, Abu Bakar Baasyir, ingin menggunakan sebagian waktunya untuk hal positif di Blok D1 Lembaga Permasyarakatan Kelas III Gu­nung Sindur, Kabupaten Bo­gor. Selama berada di lapas ini, Baasyir tidak diperkenankan berkomunikasi dengan warga binaan lain.

Tak hanya meminta agar disediakan nasi lembek dan air hangat saja, Kepala Lapas kelas III Gunung Sindur, Gumi­lar Budirahayu, mengatakan Baasyir juga meminta izin bisa bercocok tanam. “Kalau ke staf saya, ustaz bertanya boleh bercocok tanam tidak,” kata Gumilar, Senin (18/4/2016).

Di dekat Blok D Lapas Gunung Sindur yang berlokasi terpisah dari blok lain ini, masih ada sisa halaman yang memang bisa digunakan untuk bercocok tanam. “Yah ada halaman sedikit,” beber Gumilar.

Aktivitas Baasyir tetap dibatasi dan mendapat pengawalan. “Boleh keluar, tapi di area terbatas, tidak berinteraksi dengan napi lain juga,” sambung Gumilar sambil memas­tikan Baasyir dipersilakan salat di masjid.

Setiap ke masjid, misalnya untuk salat Jumat, Ustaz Baasyir mendapat pengawalan petugas. Melihat kondisi blok ini, menurut Gumilar, bukan berarti Baasyir diisolasi. “Bu­kan isolasi lah, cuma kan memang ini blok khusus,” kata dia.

Perbedaan Baasyir dengan 426 nara­pidana lain, yakni soal perhatian. Jika pada narapidana lain perhatian petugas lapas fokus pada keamanan, khusus Ustaz Baasyir kondisi kesehatan, asupan dan berbagai hal lainnya. “Beliau sudah sepuh, jadi perhatian kami juga pada kondisi kesehatan beliau. Takut sakit atau bagaimana, makanya sering dilihat,” kata Gumilar.

Sementara itu, Tim pengacara Abu Ba­kar Baasyir, mendatangi Lembaga Pema­syarakatan (Lapas) Kelas III Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, kemarin. Mereka me­mastikan Amir Jamaah Anshorut Tauhid itu mendapatkan tempat lebih baik di Lapas Gunung Sindur. “Kami meminta Baasyir mendapat perlakuan yang sama dengan narapidana lainnya,” kata Ketua Dewan Pe­nasihat Tim Pembela Muslim (TPM) sekal­igus pengacara Abu Bakar Baasyir, Mahen­dradatta, Senin (18/4/2016).

Sejauh ini, lanjut dia, kondisi sel Baas­yir lebih baik dibandingkan saat ditahan di Lapas Pasir Putih, Nusakambangan. “Seka­rang sudah seperti napi pada umumnya,” kata Mahendradatta.

Bahkan, pihak lapas menjanjikan akan mengizinkan Baasyir melaksanakan salat Ju­mat berjamaah bersama napi lainnya. “Saat di Nusakambangan, beliau tidak boleh salat berjamaah sekalipun itu salat Jumat. Di sini pihak lapas berjanji memperbolehkan beliau salat Jumat berjamaah,” ujar Mahendradatta.

Dia juga meminta keluarga, seperti anak dan istri Baasyir, tidak dibatasi saat menjenguk. Sebab saat ini, untuk bertemu, mereka harus ke ruang besuk yang disekat dengan kaca dan berkomunikasi lewat intercom. “Seharusnya khusus untuk keluarga inti diberi kelonggaran. Jangan berbicara di sekat kaca seperti di film-film. Aturan yang dipakai kan aturan undang-undang, bukan film, kalau mau bikin show, to­long jangan di sini,” pungkas Mahendradatta.

(Rishad Noviansyah|Yuska Apitya)