bahagia newKITA ingin anak-anak kita berperilaku baik. Benar secara agama, undang-undang dan budaya yang berkembang pada negeri ini. Semua agama dinegeri kita mengajarkan perilaku baik. Kerap kali perilaku baik itu pudar dan tidak tampak akibat kuatnya dukungan faktor luar seperti acara televisi. Satu sisi kita masih setengah hati untuk medidik anak kita agar bermoral.

Oleh: Bahagia, SP., MSc. S3 IPB.
Dosen Tetap Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor

Kita masih menon­ton acara televisi je­nis apa saja dirumah kita. Kita ini maunya apa sebenarnya? Dan pemerintah maunya seperti apa dan orang tua juga maunya sep­erti apa? Anak bisa tidak ber­moral sesuai dengan apa yang dia lihat waktu itu. Terpola dalam perilakunya karena begitulah yang dilihatnya.

Anak-anak yang masih kecil cenderung mengikuti apa yang ia lihat dan mencoba-cobanya wak­tu itu atau diluar dari lingkungan rumah. Apa yang ia lihat ditele­visi maka itulah yang menjadi perilakunya. Banyak sekali acara-acara televisi yang membuat anak tidak beretika baik. Tentu perlu mengatur waktu menonton anak dan alangkah baiknya lagi semua acara televisi yang menyebab­kan perubahan perilaku anak di­tayangkan pada saat malam hari. Kita sepakat bahwa acara televisi harus mendidik bagi semua ter­masuk mendidik anak-anak yang kecil dan remaja. Kerap kali acara televisi membuatnya terbawa-bawa. Misalkan ada manusia yang seperti hewan, setengah manusia dan setengah hewan.

Anak kecil yang melihat itu akan heran dengan melihat acara seperti itu. Terbayang olehnya apakah ada benarnya seperti itu didunia. Ia akan mencari tahu atau justru membuat perilaku yang sama dengan teman-te­mannya. Kedua, acara hiburan televisi seperti lawak-lawak kome­di yang sebagian acaranya tidak wajar. Misalkan, seorang laki-laki yang kemudian dimodif menjadi manusia yang setengah laki dan setengah perempuan. Bersuara seperti perempuan namun laki-la­ki. Apalagi laki-laki yang berbicara seperti perempuan sehingga tam­pak tidak tegas. Hal ini menarik bagi media dan menarik bagi yang dewasa. Seringnya menonton sep­erti itu yang dewasa bisa terpen­garuh menjadi kewanita-wanita­an. Jika yang melihat laki-laki. Jika ia perempuan maka bisa menjadi kelaki-lakian.

Akhirnya jika sudah seperti ini bisa jadi manusia itu akan menca­ri tempat pelampiasan yang bisa seperti itu. Bisa dibayangkan jika anak-anak kecil terbiasa menon­ton acara yang demikian kemudi­an ia tumbuh dewasa dengan aca­ra televisi yang seperti ini maka dewasanya juga bisa mengikuti apa yang ia lihat. Jika berpindah ke acara lain, masalah moral anak terancam lagi, acara berpacaran dihalalkan dalam acara televisi. Percintaan muda dan mudi dan melakukan hal-hal yang tidak bo­leh. Akhirnya anak-anak mengi­kuti gaya berpacaran, jika dari kecil ia sudah melihat gaya berpa­caran maka bisa jadi dikemudian hari ia akan berpacaran.

Berpacaran sangat dekat dengan perilaku zina. Berzinalah ia karena melihat ada model atau contoh. Semakin banyaklah anak yang berzina, pacaran, berdua-duan dijalan, tak tepat waktu pu­lang dan lain sebaginya. Dari sana berkembang pula kejahatan, bisa karena cemburu karena ada pula yang suka dengan si A tadi akh­irnya sikap kekerasanpun timbul karena pacaran tadi. Semua itu karena banyaknya yang dilihat oleh anak-anak kini sebagai mod­el. Masalah lain yang sering ter­jadi, anak-anak kinipun semakin dewasa padahal umurnya belum sama seperti cara berpikirnya. Tentu inipun karena banyaknya model yang ia lihat demikian ad­anya. Media sangat berbahaya jika menayangkan acara yang seperti tadi, apalagi acara mistis-mistis, sulap dan lain sebagainya.

Semuanya menyebabkan ma­salah kepada anak-anak. Kini ting­gal pemerintah yang nilai. Acara televisi kita perlu dihentikan atau diatur jadwal tidur anak-anak. Tentu orang tua berperan pent­ing untuk mengatur jadwal tidur anak. Lantas sampai kapan orang tua bisa mengatur sementara banyak pula orang tua yang tak dirumah dari pagi hingga malam. Akhirnya disela-sela itu anak-anak tidak terkontrol. Pemerintah ha­rus flekxible dengan masyarakat. Jika jam tidur masyarakat jam sembilan atau jam sepuluh maka semuanya harus beristirahat se­hingga terpola hidup yang baik. Lagi-lagi pemerintah tidak berani melawan pemilik televisi hingga acara penyebab anak berperilaku keras belum juga dihentikan. Buk­tinya film-filam sinetron masih banyak seperti itu.

Perilaku anak yang bisa adu domba juga ada karena ia melihat sinetron yang demikian adanya. Tidak luput kemungkinan orang dewasa juga mempraktekkan adu domba itu karena ia lihat seperti itu. sekali dan dua kali mungkin belum mempan namun ketiga kali bisa jadi tersandung batu akh­irnya masuk pula dalam perilaku­nya. Belum lagi bahasa iklan dengan penampilan yang serba minim pakaiannya. Akhirnya itu­pun dilihat anak-anak perempuan kini. pada saat dewasa terbiasa pula ia lihat penampilan yang serba minim tadi akhirnya iapun mau ikut dengan itu. Ada bebera­pa hal yang harus dilakukan.

Pertama, orang tua harus me­mantau film apa yang dilihat oleh anak-anaknya. Usahakan dari ke­cilnya jangan diarahkan untuk melihat acara-cara yang disebut­kan tadi. Baiknya, pemeirntah memperbanyak film-film edu­kasi seperti film hutan, lautan, tanah, dan iklim. Pemeirntah juga baiknya memperbanyak film-film kisah para nabi dimedia sehingga anak-anak secara lang­sung mengerti dengan hikmah dari perjalanan kisah para Nabi. Orang tuapun sebaiknya jangan sibuk mengejar duaniawi terus. Usahakan banyak waktu dirumah jangan hanya sabtu dan minggu saja sementara hari senin sampai dengan jumat tak tersedia. Subuh berangkat dan malam kembali. Anak-anakpun sudah tidur.

Anak-anak bisa tidak terpan­tau disela-sela waktu itu. lemahn­ya intervensi orang tua terhadap anak menyebabkan anak itu men­jadi anak yang nakal. Bahkan, menghalalkan apa yang dilihat­nya tadi. Akhirnya tidak heran jika banyak anak-anak remaja yang ikut kelompok tertentu ke­mudian melakukan perilaku tak wajar. Termasuk menghalalkan perzinaan pada kelompok terse­but. Para orang tua juga jan­gan menunjukkan kesulitannya didepan anak-anaknya sehingga anak-anak akan berpikir lain. Bisa pergi ia mencari uang karena ia tahu orang tuanya sedang sulit. Simpanlah berdua rahasia da­pur rumah tangga itu. Terakhir, pemerintah sebaiknya melarang media tertentu menampilkan ko­medi-komedia yang berubah dari laki-laki ke perempuan.

Tujuannya untuk membuat lucu padahal hal itu bisa diikuti oleh anak-anak kini. Pemerin­tah harus melarang televisi yang menayangkan acara demikian, termasuk melarang media yang menampilkan film-film yang ber­busana salah secara agama. Jika kita ingin anak-anak kita ber­moral maka pemeirntah harus­nya melakukan hal itu dari dulu. Jangan sampai banyak anak yang berperilaku aneh barulah kita sibuk mengurusi media masa yang setiap saat mempengaruhi perilaku anak-anak kita. (*)