Ayu-Ting-Ting-Julia-Perez-dan-Zaskia-Gotik-2BANDUNG, TODAY— Komisi Penyiaran Indo­nesia Daerah (KPID) Jawa Barat melarang radio dan tele­visi lokal untuk memutar 13 lagu dangdut. Di a n t a r a n y a adalah lagu b e r j u dul Pal­ing Suka 69 yang din­yanyikan Julia Perez dan Satu Jam Saja yang di­populerkan Zaskia Go­tik. «Larangan ini harga mati,» kata anggota KPID Jawa Barat, Neneng Athiatul Faiziyah, ke­marin.

Menurut Neneng, larangan itu sudah dikeluarkan sejak

akhir April 2016 dan tetap berlaku sampai sekarang. Alasannya, lagu-lagu tersebut berkonten porno serta mengumbar sensualitas. Sehingga dikhawatirkan lagu-lagu itu akan berdampak negatif bagi masyarakat. “Kemungkinan masih ada lagi lagu dangdut yang dila­rang diputar,” katanya.

Neneng mengatakan larangan itu bisa berjalan secara efektif. “Setelah kami larang, alhamdulil­lah ada usulan pelarangan tamba­han dari masyarakat,” kata dia.

Sampai saat ini belum ada laporan tentang radio dan televisi di Jawa Barat yang melanggar la­rangan tersebut. “Kalau melang­gar kami akan kirim surat tegu­ran,” kata dia.

Neneng menjelaskan, laran­gan itu memang hanya berlaku untuk radio dan televisi lokal Jawa Barat saja. Sementara untuk Inter­net, instansinya tidak lagi memi­liki kewenangan. “Itu kewenan­gan Kementerian Komunikasi dan Informatika,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komi­si Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat Dedeh Fardiah mengatakan, radio dan televisi swasta lokal mematuhi surat eda­ran tentang pelarangan dan pem­batasan penyiaran lagu-lagu dan­gdut.

Hal itu diketahui dari hasil pe­mantauan dan perekaman oleh KPID Jawa Barat atas siaran radio dan televisi swasta lokal di 27 kota dan kabupaten di Jawa Barat se­lama sebulan lebih.

Menurut Dedeh, larangan dan pembatasan itu berdasarkan surat edaran KPID Jawa Barat tertanggal 11 April 2016. Setelah dikeluarkan surat edaran, KPID Jawa Barat melakukan pemantauan guna mengetahui tingkat kepatuhan lembaga penyiaran di Jawa Barat. “Sebulan ini tanggapan radio dan televisi baik. Mereka mematuhi surat edaran,” katanya.

Larangan dan pembatasan penyiaran lagu dangdut itu meru­pakan yang pertama kali sejak KPID Jawa Barat terbentuk pada 2004. Bagi mereka yang melang­gar akan dikenai sanksi, seperti sanksi administrasi, teguran, atau pemindahan jam tayang siaran. Larangan KPID tersebut tidak berlaku di luar bidang penyiaran, seperti di panggung musik dan In­ternet.

Selain dangdut, KPID Jawa Barat juga akan memantau lagu berbahasa Sunda dan tarling. Seperti 13 lagu dangdut yang di­larang, Komisi pun akan melar­ang radio dan televisi swasta lo­kal menyiarkan lagu Sunda yang berkonten porno serta mengum­bar sensualitas. “Laporan atau pengaduan sudah ada ketika kami ke Karawang, Cirebon, dan Indra­mayu,” kata Dedeh Fardiah, ke­marin.

Menurut Dedeh, Komisi akan mengkaji hasil pantauan dari rekaman siaran radio dan tele­visi swasta lokal di 27 kota dan kabupaten di Jawa Barat. Pertim­bangan lain terkait dengan tang­gapan dan dampak pelarangan 13 lagu dangdut per 11 April 2016 dan pembatasan sebelas lagu dangdut dalam acara siaran. “Bisa jadi ada surat edaran pelarangan baru. Semoga mereka berhati-hati betul dan punya sensor internal,” tan­dasnya. (Yuska Apitya Aji)