B4-09-8-2016-UKMBOGOR, Today – Peluang bisnis sejatinya dapat ditemukan oleh para pelaku bisnis yang mau berfikir secara kreatif. Salah satu peluang usaha yang kini digandrungi adalah kerajinan clay. Usaha ini tentunya dapat dijalankan dengan baik oleh orang-orang yang memiliki kreatifitas tinggi, salah satunya seperti yang dijalani oleh Bani Octa. Bani Octa mengawali kerajinan clay ini sejak dirinya masih menyadang status ma­hasiswa di tahun 2012. Ia merasa tertarik untuk mencoba usaha yang diberi nama Whatever­clay. Dalam menapaki usaha ini, diakui Bani, dirinya tak perlu membutuhkan modal yang besar.

“Modal awal tak begitu besar, mungkin han­ya sekitar Rp 100 ribu. Itupun menggunakan sisa uang jajan saat kuliah. Saya tidak membeli bahan sekaligus banyak, sedikit demi sedikit dulu,” tutur pria kelahiran Oktober 1991 ini.

Bani menjelaskan, awal dirinya membuat kerajinan clay ialah membuat kalung dan gan­tungan kunci. Tak dipungkiri oleh Bani, kema­hirannya dalam usaha ini didapatinya karena bakat seni yang sudah dimiliki sejak lahir.

“Dari dulu saya memang senang menggam­bar, jadi membuat clay ini sudah jadi hobi. Ten­tunya apa yang dilakukan karena hobi itu pasti menarik,” ungkap Bani kepada BOGOR TODAY, Senin (13/6/2016).

Meskipun bahan ini tergolong murah, na­mun tampilan yang dihasilkan tidak berkesan murahan. Apalagi melalui tangan dan kreati­fitas yang dimiliki Bani, kerajinan ini menjadi lebih variatif dan unik berkat gambar, bentuk serta pewarnaan yang sesuai.

Pasang surut penjualan sempat dirasakan oleh Bani. Respon pasar yang baik baru diteri­manya setelah tiga tahun berjalan. Kegigihan dan keyakinannyalah yang membuat usaha Whateverclay tetap berjalan hingga saat ini.

“Saat awal-awal terasa sangat berat, saya pernah mengalami hanya ada 2 pesanan dalam sebulannya. Sempat juga saya berjualan di depan sekolah salah satu SMA Bogor dengan hanya membawa pulang uang Rp 40 ribu saja,” terangya.

Setelah bertahun-tahun menjalani us­aha clay, titik terang pun perlahan meng­hampiri Bani. Berawal dengan pemasaran menggunakan twitter, kini dengan mara­knya social media seperti instagram mem­buat usahanya kini banjir pesanan.

“Dengan adanya instagram pemasaran menjadi lebih mudah. Orang semakin banyak yang tahu. Yang memesan tidak hanya dari pulau Jawa, pernah juga hingga merambah Papua. Menjadi pengalaman tersendiri juga bisa berkomunikasi dengan artis, yakni dengan mengendorse karya saya dan dipublikasikan oleh artis tersebut,” terangnya ramah.

Dengan titik pencapaiannya saat ini mem­buat Bani dapat bernapas lega. Sentimen nega­tif yang sempat diterima dari keluarganya pun kini dapat dipatahkan dengan hasil yang telah diraihnya.

Whateverclay dalam perbulannya dapat meraih omzet kotor hingga Rp 6 juta. Pros­es pengerjaan clay ini dilakukan oleh Bani seorang diri. Proses pengerjaan satu clay seti­daknya membutuhkan minimal 2 hari untuk pencetakan, pengeringan clay, penghalusan, pewarnaan, vernis hingga pengemasan dan pengiriman.

Selain kalung dan gantungan kunci, kini Bani juga memproduksi gelasng, anting, hingga tempelan kulkas. Karya dan pemesanan What­everclay dapat dilihat melalui instagram prib­adinya di @banioct.

Kisaran harga pun terbilang ekonomis. Un­tuk harga gelang dipatok antara Rp 10 ribu – Rp 45 ribu, kalung Rp 25 ribu – Rp 50 ribu, anting berkisar Rp 20 ribu, magnet dan pin seharga Rp 12 ribu – 20 ribu. “Yang membedakan hany­alah desain, warna, dan tingkat kesulitannya. Konsumen bisa request sesuai keinginan,” ucapnya.(*)