alfian mujaniSEORANG suami den­gan wajah ngenes berkata kepada isterin­ya: “Maafkan aku kalau tidak membelikan emas untukmu. Sungguh bu­kan karena apa, melain­kan karena aku sadar bahwa diam itu emas. Diamku insyaAllah cukup menggantikan perhiasan emas yang engkau hara­pkan.” Isterinya diam seribu bahasa sangat lama.

Suaminya gelisah, tak mampu menafsir­kan diamnya sang isteri. Diapun bertanya: “Mengapa diam, iteriku.” Sang isteri masih diam saja. Sesekali mulutnya komat-kamit tapi tak mengeluarkan suara. Suaminya mengemis kepadanya untuk bersuara demi menghapus kegalauannya. Akhirnya si isteri berkata den­gan nada sangat ketus: “Aku lagi pakai emas. Diam itu emas. Jangan belikan aku emas. Aku akan diam sebagai gantinya.”

Sang isteri itu sungguh cerdas untuk me­maksa suaminya membelikan emas. Isteri itupun tak lagi diam, bahkan aktif berbicara dengan siapapun. Celakanya, setelah memakai emas yang dibelikan suaminya itu, dia malah melupakan sang suami. Emas itu dipakai bukan untuk sang suami yang membelikannya emas.