foto-robohPuting Beliung Hantam Gunung Putri

Iman R Hakim|Yuska Apitya

[email protected]

Musim bencana telah tiba. Banjir dan longsor kini sudah mendera Jawa Timur, Jawa Tengah hingga Jawa Barat. Hingga Senin (10/10/2016) petang, ketinggian Sungai Ciliwung di Bendung Katulampa, Bogor, sudah nampak mengkhawatirkan. Statusnya sudah siaga III. Artinya, Ibukota pun bersiap menghadapi banjir.

“Air sekarang sudah naik lagi pukul 15.45 WIB, di titik 100 sentimeter atau status Siaga III,” kata Kepala Jaga Bendung Katulampa, Andi Sudirman, Senin (10/10/2016).

Status ini diharapkan jadi sinyal kewaspadaan bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, maupun warganya. Tentunya juga masih ingat bagaimana cuaca ekstrem belum lama ini, sempat berdampak pada banjir di wilayah Kemang dan Pasar Minggu.

Kini beberapa daerah lain di selatan dan timur ibu kota, terutama yang berada di bantaran Sungai Ciliwung terancam bencana kebanjiran. Sungai ini berpotensi meluap karena debit air “kiriman”, di mana saat ini daerah Puncak Bogor masih diguyur hujan.

Arus air kiriman ini, diperkirakan akan mencapai ibu kota dalam rentang waktu delapan atau sembilan jam (dari laporan pukul 15.00 WIB). Seandainya debit air tak juga turun, maka warga di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur mesti siap-siap menghadapi banjir.

Sementara jika mengacu dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI di akun Twitter-nya @BPBDJakarta, disebutkan bahwa saat ini ketinggian air di pintu air Depok, Manggarai, Karet, Pesanggrahan, Angke Hulu, Cipinang dan Pulo Gadung, sudah siaga IV. Tidak ketinggalan, BPBD DKI sejak Minggu 9 Oktober, sudah mengeluarkan data prediksi banjir DKI yang berpotensi terjadi pada Selasa 11 Oktober.

Potensi banjir dengan tingkat kerawanan rendah dan sedang diprediksi terjadi di berbagai wilayah. Seperti Jakarta Utara, Jakarta Barat bagian utara, Jakarta Timur bagian utara, serta sebagian Jakarta Pusat.

Puting Beliung

Sementara itu, ratusan rumah di tiga kampung di Desa Wanaherang Kecamatan Gunungputri Kabupaten Bogor rusak akibat diterjang angin puting beliung Minggu (9/10/2016) malam. “Berdasarkan data sementara ada sekitar 200 rumah yang rusak akibat diterjang angin kencang saat hujan deras melanda wilayah Gunungputri,” kata Camat Gunungputri Budi Lukmannurhakim, Senin (10/10/2016).

Budi  mengatakan, ada tiga wilayah yang diterjang angin kencang yakni RW 07,08 dan 09 di Kampung Wanaherang. Padahal berdasarkan pemetaan, wilayah Gunungputri bukan termasuk dalam lokasi rawan bencana angin puting beliung.  “Bencana angin puting beliung ini baru pertama terjadi di Gunungputri, karena wilayah kami masuk dalam zona rawan banjir bukan angin kencang,” kata dia.

Baca Juga :  Kaka Slank Meminta Aktivitas Pembukaan Lahan di Papua Dihentikan

Arif Rahman, 38 tahun, mengatakan, sebelum angin menerjang Gunungputri, hujan deras lebih dulu turun. “Saya dengan keluarga sedang di dalam rumah mendengar suara gemuruh yang sangat kencang. Saat dilihat ke luar ternyata banyak pohon yang tumbang,” kata dia.

Dengan kondisi akhirnya banyak penduduk memilih keluar dari rumah dan berlari menyelamatkan diri ke lokasi yang lebih aman.  “Mangkanya meski banyak rumah rusak dan pohon tumbang akibat diterjang angin kencang, tidak ada korban luka,” kata Arif.

Arif mengatakan, meski hanya dalam kurun waktu kurang dari 30 menit, lebih dari 200 rumah dan ratusan pohon tumbang.  “Sebagin besar rumah rusak akibat tertimpa pohon tumbang'” kata dia.

Kepala Seksie Kedaruratan dan logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupten Bogor Budi Aksomo mengatakan, dari 200 rumah yang terdata oleh pihak BPBD ada sekitar 7 bangunan yang rusak parah dan ambruk akibat tiupan angin puting beliung.  “Sebanyak 726 jiwa yang rumahnya rusak, namun masih bisa ditempati sedangkan bagi warga yang rumahnya rusak parah diungsikan ke rumah lain yang lebih aman,” kata dia.

Hingga saat ini, petugas BPBD bersama PMI, Dinsos dan aparat kecamatan/desa masih melakukan evakuasi rumah yang tertimpa pohon tumbang.  “Hingga tadi sore masih dilakukan pembersihan dan batang pohon yang menimpa rumah dipotong menggunakan gergaji mesin,” kata dia.

Namun evakuasi dan pembersihan puing-puing rumah serta pemotongan batang pohon besar yang menimpa rumah sempat dihentikan sementara akibat cuaca buruk. “Hujan deras kembali melanda wilayah Gunungputri memasuki sore hari, sehingga evakuasi dihentikan sementara,” kata dia.

Kepala Stasiun Klimatologi Dramaga Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Dedi Sucahyono mengatakan, hujan deras yang disertai angin kencang dan sambaran petir yang melanda wilayah Bogor akibat tidak adanya musim kemarau terjadi di Bogor sehingga sepanjang tahun 2016 ini mengalami musim hujan. “Cuaca ekstrim ini akan terjadi tiga bulan terakhir mulai dari September Oktober, November ini akibat el nina,” kata dia.

Pangandaran Terendam

Banjir bandang juga melanda beberapa desa di Padaherang dan Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Banjir itu disebabkan oleh hujan deras yang tak mampu ditampung aliran enam sungai. “Setidaknya beberapa desa dan dusun terendam air sejak pukul 17.00 WIB sore tadi,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, kemarin.

Baca Juga :  Live Bugil di Aplikasi Mango, Selegram Bali Diamankan Polisi

Sebanyak 15 rumah terendam banjir di dusun yang terletak di RT 11 RW 02, Desa Padaherang. Desa tersebut terendam banjir setinggi 60 sentimeter. Adapun banjir terjadi akibat Sungai Cicaruy meluap.

Kemudian, 20 rumah lain juga terendam banjir setinggi 60 sentimeter di Dusun Kawarasan, Blok Cimeong, RT 09 RW 05, Desa Padaherang. Air yang merendam rumah warga Dusun Kawarasan tersebut terjadi akibat Sungai Cimeong meluap.

Sungai Jogjogan, yang juga meluap, menyebabkan tiga dusun di Desa Ciganjeng terendam banjir setinggi satu meter. Sungai yang meluap itu merendam Dusun Cihideung, Dususn Babakan, dan Dusun Pasar.

Hal serupa juga terjadi di Dusun Patinggen 2, Desa Karangpawitan. Akibat kejadian tersebut, rumah warga Dusun Patinggen di Blok Pelning dan Blok Salegor terendam banjir setinggi 50 hingga 60 sentimeter. “Banjir terjadi akibat meluapnya Sungai Ciroyom dan Ciputara Haji,” kata Sutopo.

Dusun Pangasinan juga ikut terendam banjir akibat banjir bandang ini. Sebanyak 30 rumah warga dusun yang terletak di Desa Pasirgeulis terendam banjir sekitar 40 sentimeter karena Sungai Pangasinan meluap.

Selain itu, dua dusun yang ada di Desa Tunggilis, Kecamatan Kalipucang, yaitu Dusun Cintamaju dan Dusun Sukamaju, terendam banjir setinggi 1-2 meter. “Genangan terjadi akibat meluapnya Sungai Tunggilis,” ujar Sutopo.

Banjir bandang tersebut juga merendam beberapa titik jalan raya dari arah Banjar menuju Pangandaran dan sebaliknya. Air merendam jalan setinggi 60 sentimeter sepanjang 150 meter. Akibat kejadian tersebut, arus kendaraan sempat macet sepanjang 1 kilometer.

Menurut Sutopo, kejadian tersebut terjadi karena hujan cukup deras selama dua hari, sehingga sungai yang ada tidak mampu menampung air dan meluap ke permukiman warga. Tidak ada korban jiwa akibat banjir bandang ini. Namun masyarakat sempat panik dan langsung mengungsi sambil menyelamatkan barang-barang berharga milik mereka ke tempat yang lebih aman.

Beberapa petugas gabungan, yang terdiri atas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat dan Pangandaran, beserta Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian RI (Polri), Tagana, Palang Merah Indonesia (PMI), Badan SAR Nasional (Basarnas), satuan kerja perangkat daerah (SKPD), dan masyarakat, terlibat dalam penanganan banjir. “BPBD saat ini sedang melakukan pengecekan dan pendataan di lapangan terhadap para korban. Apabila ada perkembangan, dilaporkan lebih lanjut,” kata Sutopo.(*)